<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349</id><updated>2012-02-19T15:49:19.664+08:00</updated><category term='Artikel berkah'/><title type='text'>“ ISLAMIC NETWORKING ”</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://portalramadhan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-1464405427319420832</id><published>2011-07-29T15:03:00.006+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.573+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Panduan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-NbOX7FXAqcg/TjJd5YXU9EI/AAAAAAAABQM/U1dSyWYxcJE/s1600/001.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 167px; height: 167px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-NbOX7FXAqcg/TjJd5YXU9EI/AAAAAAAABQM/U1dSyWYxcJE/s400/001.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634669324168131650" /&gt;&lt;/a&gt;Berikut adalah panduan ringkas dalam shalat ‘ied, baik shalat ‘Idul Fithri atau pun ‘Idul Adha. Yang kami sarikan dari beberapa penjelasan ulama. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;Hukum Shalat ‘Ied&lt;br /&gt;Menurut pendapat yang lebih kuat, hukum shalat ‘ied adalah wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan yang dalam keadaan mukim[1]. Dalil dari hal ini adalah hadits dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata,&lt;br /&gt;أَمَرَنَا – تَعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- – أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beanjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.“[2]&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara alasan wajibnya shalat ‘ied dikemukakan oleh Shidiq Hasan Khon (murid Asy Syaukani).[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kaum muslimin untuk keluar rumah untuk menunaikan shalat ‘ied. Perintah untuk keluar rumah menunjukkan perintah untuk melaksanakan shalat ‘ied itu sendiri bagi orang yang tidak punya udzur. Di sini dikatakan wajib karena keluar rumah merupakan wasilah (jalan) menuju shalat. Jika wasilahnya saja diwajibkan, maka tujuannya (yaitu shalat) otomatis juga wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Ada perintah dalam Al Qur’an yang menunjukkan wajibnya shalat ‘ied yaitu firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2). Maksud ayat ini adalah perintah untuk melaksanakan shalat ‘ied.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Shalat jum’at menjadi gugur bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘ied jika kedua shalat tersebut bertemu pada hari ‘ied. Padahal sesuatu yang wajib hanya boleh digugurkan dengan yang wajib pula. Jika shalat jum’at itu wajib, demikian halnya dengan shalat ‘ied. –Demikian penjelasan Shidiq Hasan Khon yang kami sarikan-.&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Pendapat yang menyatakan bahwa hukum shalat ‘ied adalah wajib bagi setiap muslim lebih kuat daripada yang menyatakan bahwa hukumnya adalah fardhu kifayah (wajib bagi sebagian orang saja). Adapun pendapat yang mengatakan bahwa hukum shalat ‘ied adalah sunnah (dianjurkan, bukan wajib), ini adalah pendapat yang lemah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memerintahkan untuk melakukan shalat ini. Lalu beliau sendiri dan para khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali, -pen), begitu pula kaum muslimin setelah mereka terus menerus melakukan shalat ‘ied. Dan tidak dikenal sama sekali kalau ada di satu negeri Islam ada yang meninggalkan shalat ‘ied. Shalat ‘ied adalah salah satu syi’ar Islam yang terbesar. … Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberi keringanan bagi wanita untuk meninggalkan shalat ‘ied, lantas bagaimana lagi dengan kaum pria?”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-WUUuAhZw8R8/TjJd0_8ZiZI/AAAAAAAABQE/i9DEJf6zv44/s1600/002.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 327px; height: 236px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-WUUuAhZw8R8/TjJd0_8ZiZI/AAAAAAAABQE/i9DEJf6zv44/s400/002.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634669248893258130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Waktu Pelaksanaan Shalat ‘Ied&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mayoritas ulama –ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Hambali-, waktu shalat ‘ied dimulai dari matahari setinggi tombak[5] sampai waktu zawal (matahari bergeser ke barat).[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengakhirkan shalat ‘Idul Fitri dan mempercepat pelaksanaan shalat ‘Idul Adha. Ibnu ‘Umar yang sangat dikenal mencontoh ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah keluar menuju lapangan kecuali hingga matahari meninggi.”[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan mengapa shalat ‘Idul Adha dikerjakan lebih awal adalah agar orang-orang dapat segera menyembelih qurbannya. Sedangkan shalat ‘Idul Fitri agak diundur bertujuan agar kaum muslimin masih punya kesempatan untuk menunaikan zakat fithri.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat Pelaksanaan Shalat ‘Ied&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat pelaksanaan shalat ‘ied lebih utama (lebih afdhol) dilakukan di tanah lapang, kecuali jika ada udzur seperti hujan. Abu Sa’id Al Khudri mengatakan,&lt;br /&gt;كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar pada hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha menuju tanah lapang.“[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi mengatakan, “Hadits Abu Sa’id Al Khudri di atas adalah dalil bagi orang yang menganjurkan bahwa shalat ‘ied sebaiknya dilakukan di tanah lapang dan ini lebih afdhol (lebih utama) daripada melakukannya di masjid. Inilah yang dipraktekkan oleh kaum muslimin di berbagai negeri. Adapun penduduk Makkah, maka sejak masa silam shalat ‘ied mereka selalu dilakukan di Masjidil Haram.”[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntunan Ketika Hendak Keluar Melaksanakan Shalat ‘Ied&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Dianjurkan untuk mandi sebelum berangkat shalat. Ibnul Qayyim mengatakan, “Terdapat riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat mencontoh ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mandi pada hari ‘ied sebelum berangkat shalat.”[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Berhias diri dan memakai pakaian yang terbaik. Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar ketika shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik.”[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Makan sebelum keluar menuju shalat ‘ied khusus untuk shalat ‘Idul Fithri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,&lt;br /&gt;كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.”[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah dianjurkan makan sebelum berangkat shalat Idul Fithri adalah agar tidak disangka bahwa hari tersebut masih hari berpuasa. Sedangkan untuk shalat Idul Adha dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu adalah agar daging qurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah shalat ‘ied.[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Bertakbir ketika keluar hendak shalat ‘ied. Dalam suatu riwayat disebutkan,&lt;br /&gt;كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.”[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berangkat shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Al Fadhl bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin’Abbas, ‘Ali, Ja’far, Al Hasan, Al Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Ayman bin Ummi Ayman, mereka mengangkat suara membaca tahlil (laa ilaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar).”[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata cara takbir ketika berangkat shalat ‘ied ke lapangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Disyari’atkan dilakukan oleh setiap orang dengan menjahrkan (mengeraskan) bacaan takbir. Ini berdasarkan kesepakatan empat ulama madzhab.[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Di antara lafazh takbir adalah,&lt;br /&gt;اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian hanya untuk-Nya)” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa lafazh ini dinukil dari banyak sahabat, bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa lafazh ini marfu’ yaitu sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam juga menerangkan bahwa jika seseorang mengucapkan “Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar“, itu juga diperbolehkan.[19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima: Menyuruh wanita dan anak kecil untuk berangkat shalat ‘ied. Dalilnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Ummu ‘Athiyah yang pernah kami sebutkan. Namun wanita tetap harus memperhatikan adab-adab ketika keluar rumah, yaitu tidak berhias diri dan tidak memakai harum-haruman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalil mengenai anak kecil, Ibnu ‘Abbas –yang ketika itu masih kecil- pernah ditanya, “Apakah engkau pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Ia menjawab,&lt;br /&gt;نَعَمْ ، وَلَوْلاَ مَكَانِى مِنَ الصِّغَرِ مَا شَهِدْتُهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, aku menghadirinya. Seandainya bukan karena kedudukanku yang termasuk sahabat-sahabat junior, tentu aku tidak akan menghadirinya.”[20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam: Melewati jalan pergi dan pulang yang berbeda. Dari Jabir, beliau mengatakan,&lt;br /&gt;كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘ied, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.“[21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh: Dianjurkan berjalan kaki sampai ke tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada hajat. Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan,&lt;br /&gt;كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki.“[22]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Ada Shalat Sunnah Qobliyah ‘Ied dan Ba’diyah ‘Ied&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,&lt;br /&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada hari Idul Adha atau Idul Fithri, lalu beliau mengerjakan shalat ‘ied dua raka’at, namun beliau tidak mengerjakan shalat qobliyah maupun ba’diyah ‘ied.“[23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Ada Adzan dan Iqomah Ketika Shalat ‘Ied&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jabir bin Samuroh, ia berkata,&lt;br /&gt;صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pernah melaksanakan shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak ada adzan maupun iqomah.”[24]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengatakan, “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai ke tempat shalat, beliau pun mengerjakan shalat ‘ied tanpa ada adzan dan iqomah. Juga ketika itu untuk menyeru jama’ah tidak ada ucapan “Ash Sholaatul Jaam’iah.” Yang termasuk ajaran Nabi adalah tidak melakukan hal-hal semacam tadi.”[25]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata Cara Shalat ‘Ied&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah raka’at shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah dua raka’at. Adapun tata caranya adalah sebagai berikut.[26]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-MLKRfa41xMk/TjJdruzQh5I/AAAAAAAABP0/msdhS23AfUY/s1600/004.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 252px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-MLKRfa41xMk/TjJdruzQh5I/AAAAAAAABP0/msdhS23AfUY/s400/004.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634669089672693650" /&gt;&lt;/a&gt;Pertama: Memulai dengan takbiratul ihrom, sebagaimana shalat-shalat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak tujuh kali takbir -selain takbiratul ihrom- sebelum memulai membaca Al Fatihah. Boleh mengangkat tangan ketika takbir-takbir tersebut sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibnu ‘Umar. Ibnul Qayyim mengatakan, “Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengangkat tangannya dalam setiap takbir.”[27]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Di antara takbir-takbir (takbir zawa-id) yang ada tadi tidak ada bacaan dzikir tertentu. Namun ada sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Di antara tiap takbir, hendaklah menyanjung dan memuji Allah.”[28] Syaikhul Islam mengatakan bahwa sebagian salaf di antara tiap takbir membaca bacaan,&lt;br /&gt;سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ . اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar. Allahummaghfirlii war hamnii (Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah. Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku).” Namun ingat sekali lagi, bacaannya tidak dibatasi dengan bacaan ini saja. Boleh juga membaca bacaan lainnya asalkan di dalamnya berisi pujian pada Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-sovVvI_JR_I/TjJdrvuHz6I/AAAAAAAABPs/-Y5AVkFOEck/s1600/005.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 377px; height: 283px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-sovVvI_JR_I/TjJdrvuHz6I/AAAAAAAABPs/-Y5AVkFOEck/s400/005.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634669089919586210" /&gt;&lt;/a&gt;Keempat: Kemudian membaca Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat lainnya. Surat yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah surat Qaaf pada raka’at pertama dan surat Al Qomar pada raka’at kedua. Ada riwayat bahwa ‘Umar bin Al Khattab pernah menanyakan pada Waqid Al Laitsiy mengenai surat apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘Idul Adha dan ‘Idul Fithri. Ia pun menjawab,&lt;br /&gt;كَانَ يَقْرَأُ فِيهِمَا بِ (ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ) وَ (اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca “Qaaf, wal qur’anil majiid” (surat Qaaf) dan “Iqtarobatis saa’atu wan syaqqol qomar” (surat Al Qomar).”[29]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh juga membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua. Dan jika hari ‘ied jatuh pada hari Jum’at, dianjurkan pula membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua, pada shalat ‘ied maupun shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam shalat ‘ied maupun shalat Jum’at “Sabbihisma robbikal a’la” (surat Al A’laa) dan “Hal ataka haditsul ghosiyah” (surat Al Ghosiyah).” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.[30]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima: Setelah membaca surat, kemudian melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku, i’tidal, sujud, dst).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam: Bertakbir ketika bangkit untuk mengerjakan raka’at kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh: Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak lima kali takbir -selain takbir bangkit dari sujud- sebelum memulai membaca Al Fatihah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan: Kemudian membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-N8olVOpjh7I/TjJdrwGM08I/AAAAAAAABP8/w8hOwVx6UOU/s1600/003.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 261px; height: 346px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-N8olVOpjh7I/TjJdrwGM08I/AAAAAAAABP8/w8hOwVx6UOU/s400/003.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634669090020578242" /&gt;&lt;/a&gt;Kesembilan: Mengerjakan gerakan lainnya hingga salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khutbah Setelah Shalat ‘Ied&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Umar, ia mengatakan,&lt;br /&gt;كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ – رضى الله عنهما – يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr, begitu pula ‘Umar biasa melaksanakan shalat ‘ied sebelum khutbah.”[31]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melaksanakan shalat ‘ied, imam berdiri untuk melaksanakan khutbah ‘ied dengan sekali khutbah (bukan dua kali seperti khutbah Jum’at).[32] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan khutbah di atas tanah dan tanpa memakai mimbar.[33] Beliau pun memulai khutbah dengan “hamdalah” (ucapan alhamdulillah) sebagaimana khutbah-khutbah beliau yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengatakan, “Dan tidak diketahui dalam satu hadits pun yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka khutbah ‘iednya dengan bacaan takbir. … Namun beliau memang sering mengucapkan takbir di tengah-tengah khutbah. Akan tetapi, hal ini tidak menunjukkan bahwa beliau selalu memulai khutbah ‘iednya dengan bacaan takbir.”[34]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jama’ah boleh memilih mengikuti khutbah ‘ied ataukah tidak. Dari ‘Abdullah bin As Sa-ib, ia berkata bahwa ia pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala beliau selesai menunaikan shalat, beliau bersabda,&lt;br /&gt;إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku saat ini akan berkhutbah. Siapa yang mau tetap duduk untuk mendengarkan khutbah, silakan ia duduk. Siapa yang ingin pergi, silakan ia pergi.”[35]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Selamat Hari Raya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Adapun tentang ucapan selamat (tah-niah) ketika hari ‘ied seperti sebagian orang mengatakan pada yang lainnya ketika berjumpa setelah shalat ‘ied, “Taqobbalallahu minna wa minkum wa ahaalallahu ‘alaika” dan semacamnya, maka seperti ini telah diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi. Mereka biasa mengucapkan semacam itu dan para imam juga memberikan keringanan dalam melakukan hal ini sebagaimana Imam Ahmad dan lainnya. Akan tetapi, Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak mau mendahului mengucapkan selamat hari raya pada seorang pun. Namun kalau ada yang mengucapkan selamat padaku, aku akan membalasnya“. Imam Ahmad melakukan semacam ini karena menjawab ucapan selamat adalah wajib, sedangkan memulai mengucapkannya bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Dan sebenarnya bukan hanya beliau yang tidak suka melakukan semacam ini. Intinya, barangsiapa yang ingin mengucapkan selamat, maka ia memiliki qudwah (contoh). Dan barangsiapa yang meninggalkannya, ia pun memiliki qudwah (contoh).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Hari ‘Ied Jatuh pada Hari Jum’at&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila hari ‘ied jatuh pada hari Jum’at, maka bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘ied, ia punya pilihan untuk menghadiri shalat Jum’at atau tidak. Namun imam masjid dianjurkan untuk tetap melaksanakan shalat Jum’at agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan shalat Jum’at bisa hadir, begitu pula orang yang tidak shalat ‘ied bisa turut hadir. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama Hambali. Dan pendapat ini terdapat riwayat dari ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Az Zubair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil dari hal ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom,&lt;br /&gt;أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ « مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ ».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan dua ‘ied (hari Idul Fithri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jum’at) dalam satu hari?” “Iya”, jawab Zaid. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat ‘ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at”, jawab Zaid lagi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan melaksanakannya.”[36]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Dari ‘Atho’, ia berkata, “Ibnu Az Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thoif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan sunnah (ajaran Nabi) [ashobas sunnah].”[37] Jika sahabat mengatakan ashobas sunnah(menjalankan sunnah), itu berarti statusnya marfu’ yaitu menjadi perkataan Nabi.[38]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan pula bahwa ‘Umar bin Al Khottob melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Az Zubair. Begitu pula Ibnu ‘Umar tidak menyalahkan perbuatan Ibnu Az Zubair. Begitu pula ‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa siapa yang telah menunaikan shalat ‘ied maka ia boleh tidak menunaikan shalat Jum’at. Dan tidak diketahui ada pendapat sahabat lain yang menyelisihi pendapat mereka-mereka ini.[39]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah dari An Nu’man bin Basyir, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam shalat ‘ied dan shalat Jum’at “sabbihisma robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”.” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.[40] Karena imam dianjurkan membaca dua surat tersebut pada shalat Jum’at yang bertepatan dengan hari ‘ied, ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at dianjurkan untuk dilaksanakan oleh imam masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa saja yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied –baik pria maupun wanita- maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur (4 raka’at) sebagai ganti karena tidak menghadiri shalat Jum’at.[41]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-1464405427319420832?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/1464405427319420832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/1464405427319420832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul.html' title='Panduan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-NbOX7FXAqcg/TjJd5YXU9EI/AAAAAAAABQM/U1dSyWYxcJE/s72-c/001.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-6908632227542825737</id><published>2011-07-29T12:01:00.003+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.573+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Menantikan Malam Lailatul Qadar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-ji6TT5lZZic/TjIyvFgkylI/AAAAAAAABPU/Z2Krb_cCJXY/s1600/lailatulqadar-0.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 336px; height: 294px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ji6TT5lZZic/TjIyvFgkylI/AAAAAAAABPU/Z2Krb_cCJXY/s400/lailatulqadar-0.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634621868307958354" /&gt;&lt;/a&gt;Keutamaan Lailatul Qadar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, lailatul qadar adalah malam yang penuh keberkahan (bertambahnya kebaikan). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1). Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya (yang artinya), “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar: 3-5). Sebagaimana kata Abu Hurairah, malaikat akan turun pada malam lailatul qadar dengan jumlah tak terhingga. Malaikat akan turun membawa kebaikan dan keberkahan sampai terbitnya waktu fajar. (Zaadul Maysir, 6/179)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, lailatul qadar lebih baik dari 1000 bulan. An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” Mujahid dan Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat akan mendapatkan pengampunan dosa. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kapan tanggal pasti lailatul qadar terjadi? Ibnu Hajar Al Asqolani telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan oleh beliau adalah lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun (Fathul Baari, 6/306, Mawqi’ Al Islam Asy Syamilah). Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima, itu semua tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti terjadinya lailatul qadar adalah agar orang bersemangat untuk mencarinya. Hal ini berbeda jika lailatul qadar sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’a di Malam Lailatul Qadar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata, ”Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Adapun tambahan kata “kariim” setelah “Allahumma innaka ‘afuwwun …” tidak terdapat satu dalam manuskrip pun. Lihat Tarooju’at no. 25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda Malam Lailatul Qadar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh/terpercaya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim no. 1174)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Seorang Muslim Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah. Barangsiapa yang terluput dari lailatul qadar, maka dia telah terluput dari seluruh kebaikan. Sungguh merugi seseorang yang luput dari malam tersebut. Seharusnya setiap muslim mengecamkan baik-baik sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Di bulan Ramadhan ini terdapat lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa diharamkan dari memperoleh kebaikan di dalamnya, maka dia akan luput dari seluruh kebaikan.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim lebih giat beribadah ketika itu dengan dasar iman dan tamak akan pahala melimpah di sisi Allah. Seharusnya dia dapat mencontoh Nabinya yang giat ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. ‘Aisyah menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya setiap muslim dapat memperbanyak ibadahnya ketika itu, menjauhi istri-istrinya dari berjima’ dan membangunkan keluarga untuk melakukan ketaatan pada malam tersebut. ‘Aisyah mengatakan, “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksana kan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan malam lailatul qadar adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan bukan seluruh malam. Pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 3/313, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah). Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Wanita Haidh Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya dalam keadaan berdzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari riwayat ini menunjukkan bahwa wanita haidh, nifas dan musafir tetap bisa mendapatkan bagian lailatul qadar. Namun karena wanita haidh dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat ketika kondisi seperti itu, maka dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya. Yang dapat wanita haidh lakukan ketika itu adalah: (1) Membaca Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf, (2) Berdzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan dzikir lainnya, (3) Memperbanyak istighfar, dan (4) Memperbanyak do’a. (Lihat pembahasan di “Al Islam Su-al wa Jawab” pada link http://www.islam-qa.com/ar/ref/26753)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beri’tikaf Demi Menanti Lailatul Qadar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. Inilah penuturan ‘Aisyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu. (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim 1172)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika ingin beri’tikaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, i’tikaf harus dilakukan di masjid dan boleh di masjid mana saja. I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid” (QS. Al Baqarah: 187). Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”. Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan, ”Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid yaitu masjidil harom, masjid nabawi dan masjidil aqsho”. Perlu diketahui, hadits ini masih dipersilisihkan statusnya, apakah marfu’ (sabda Nabi) atau mauquf (perkataan sahabat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, wanita juga boleh beri’tikaf sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf. Namun wanita boleh beri’tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat: (1) Diizinkan oleh suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi laki-laki).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, yang membatalkan i’tikaf adalah: (1) Keluar masjid tanpa alasan syar’i atau tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak (misalnya untuk mencari makan, mandi junub, yang hanya bisa dilakukan di luar masjid), (2) Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah: 187 di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, hal-hal yang dibolehkan ketika beri’tikaf di antaranya: (1) Keluar masjid disebabkan ada hajat seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid, (2) Melakukan hal-hal mubah seperti bercakap-cakap dengan orang lain, (3) Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya, (4) Mandi dan berwudhu di masjid, dan (5) Membawa kasur untuk tidur di masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 (sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri menuju lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, hendaknya ketika beri’tikaf, sibukkanlah diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. (pembahasan i’tikaf ini disarikan dari Shahih Fiqih Sunnah, 2/150-158)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Muhammad Abduh Tuasikal][attauhid]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-6908632227542825737?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/6908632227542825737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/6908632227542825737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/menantikan-malam-lailatul-qadar.html' title='Menantikan Malam Lailatul Qadar'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ji6TT5lZZic/TjIyvFgkylI/AAAAAAAABPU/Z2Krb_cCJXY/s72-c/lailatulqadar-0.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-1603711824391259830</id><published>2011-07-29T11:39:00.002+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.573+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Pembagian hari dalm ramadhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-wJaLAc5CqNY/TjIvK24m-bI/AAAAAAAABOs/4mdH_PF1udU/s1600/ramadan-1432-AH-monthly-islamic-calendar-214x250.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 203px; height: 242px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-wJaLAc5CqNY/TjIvK24m-bI/AAAAAAAABOs/4mdH_PF1udU/s400/ramadan-1432-AH-monthly-islamic-calendar-214x250.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634617947372059058" /&gt;&lt;/a&gt;Sebagaimana yang kita ketahui bahwasa nya pada bulan ramadhan ini adalah bulan yang penuh berkah. Dimana kita dapat menambah banyak pahala, mandapatkan rahmat, barokah, serta pengampunan dari Allah SWT. Pada bulan ramadhan kita di wajibkan berpuasa selama 30 hari, dan membayar zakat sebelum datang nya hari raya umat muslim yaitu hari raya idhul fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semua orang yang menjalankan ibadah puasa menahan lapar dan haus, tidak hanya itu saja, namun kita juga di haruskan untuk lebih sabar dalam bersikap, menjaga emosi kita dan hawa nafsu. Banyak sekolah-sekolah yang mengadakan pesantren kilat pada bulan ramadhan ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bulan ramadhan ini terdapat tambahan ibadah shalat, yaitu ibadah shalat tarawih, kita tidak di wajibkan melakukan nya tetapi alangkah baiknya jika kita dapat melakukan ibadah shalat tarawih ini karena moment seperti ini tidak kita jumpai selain di bulan suci ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bulan ramadhan ini ada 3 pembagian hari, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;10 hari pertama itu adalah hari rahmat&lt;br /&gt;    10 hari kedua yaitu adalah hari barokah&lt;br /&gt;    10 hari ketiga yaitu adalah hari maghfiroh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuturan di atas, sangat di sayangkan apabila kita tidak memanfaatkan nya sebaik mungkin, karena belum tentu kita dapat merasakan bulan ramadhan di tahun yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;blogger&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-1603711824391259830?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/1603711824391259830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/1603711824391259830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/pembagian-hari-dalm-ramadhan.html' title='Pembagian hari dalm ramadhan'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-wJaLAc5CqNY/TjIvK24m-bI/AAAAAAAABOs/4mdH_PF1udU/s72-c/ramadan-1432-AH-monthly-islamic-calendar-214x250.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-958628816191871249</id><published>2011-07-29T11:35:00.002+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.574+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>I’tikaf Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-iq4RilU_Z8U/TjIrPfLTCDI/AAAAAAAABOg/S0goqXmBQGY/s1600/sholat.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 176px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-iq4RilU_Z8U/TjIrPfLTCDI/AAAAAAAABOg/S0goqXmBQGY/s400/sholat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634613628860827698" /&gt;&lt;/a&gt;”Diriwayatkan dari Anas ra ,ia berkata Rasulullah SAW biasa melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan. Kemudian beliau pernah tidak beri’tikaf pada suatu tahun, lalu pada tahun berikutnya beliau beri’tikaf selama dua puluh hari” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan adalah bulan ibadah. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah didasari dengan iman kepada Allah semata. Maka Allah SWT akan mengampuninya. I’tikaf adalah salah satu ibadah yang dapat dilakukan pada bulan Ramadhan.  I’tikaf adalah salah satu sistem peribadatan dalam Islam, dengan berdiam diri di Masjid untuk sementara waktu dengan niat ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’tikaf biasanya diisi dengan ibadah sunah, misalnya memperbanyak shalat sunah, membaca Al Qur’an dan berzikir Dapat juga dimanfaatkan untuk memperdalam tsaqafah (wawasan) keislaman. Hakikatnya, i’tikaf adalah memisahkan diri untuk sementara waktu dari hiru biru kemelut kehidupan beragam di tengah masyarakat dan membenamkan diri dalam kehidupan beragama yang fokus, dan dilakukan dengan berdiam diri di masjid. Intinya adalah konsentrasi meningkatkan ketakwaan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ketaqwaan umat Islam mulai lemah dan sirna oleh peristiwa yang menekan atau himpitan jiwa yang tak terpenuhi dalam kehidupan berbagai tuntutan dalam sosial masyarakat, maka salah satu solusinya adalah i’tikaf. Lamanya waktu i’tikaf tergantung pada pengembalian takwa itu. Minimal masa yang diperlukan dalam berdiam diri di masjid itu selama waktu tuma’ninah (waktu selama rukuk dalam rakaat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Rasulullah beri’tikaf? Siti Aisyah berkata. ”Nabi Muhammad SAW apabila hendak beri’tikaf beliau shalat subuh lalu masuk ke tempat i’tikaf” (Muttafaqunlaih). Rasulullah SAW tidak pulang pergi ketika beri’tikaf kecuali apabila ada keperluan. Siti Aisyah RA mengatakan, ”Rasulullah SAW mengulurkan kepalanya kepada saya, sedang beliau berada di masjid, kemudian saya menyisir rambutnya, dan beliau tidak masuk rumah apabila sedang beri’tikaf, kecuali beliau ada keperluan”. (HR Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai bila masa i’tikaf itu dilaksanakan, sebaik-baik waktunya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, berdasarkan contoh tauladan yang telah diberikan oleh Rasulullah SAW. Merujuk penuturan Aisyah Radhiallahu ‘anha, beliau berkata, ”adalah Rasulullah SAW apabila telah masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dibangunkanlah keluarganya dan senantiasa mengencangkan ikat pinggang” (Muttafaqunalaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Ramadhan yang penuh berkah mari kita kunjungi masjid untuk beri’tikaf. Meluangkan sedikit waktu dalam hidup kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Khaliq. Memuji kebesaran-Nya dan merenungi ke mahakuasaan-Nya. Memohon ampunan atas segala aktivitas kita yang telah banyak melalaikan sebagian seruan-seruan-Nya. Berdoa agar umat Islam di manapun berada diberi kesabaran, ketabahan, serta kekuatan dalam memecahkan segala permasalahan hidupnya yang sangat kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’tikaf pada dasarnya dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu berapa lama yang disediakan. Imam Syafi’i menyebutkan bahwa i’tikaf sudah tercapai dengan cara berdiam di Masjid beberapa saat dengan niat yang suci dan tulus ikhlas karena Allah SWT. Di dalam peri hidup Rasulullah SAW diceritakan bahwa baginda Rasulullah SAW selalu melakukan i’tikaf pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan Ramadhan. Ketika itu baginda Rasulullah SAW memperbanyak membaca Al Qur’an, serta berdoa kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjuran i’tikaf di malam-malam akhir Ramadhan ini berkaitan erat dengan datangnya Lailatulqadar yaitu malam kemuliaan, karena beribadah pada malam itu dinilai lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah SAW bersabda: ”Carilah (malam qadar) itu pada sepuluh akhir dari bulan Ramadhan” (HR Ahmad dan Bukhari) Malam qadar itu wajar saja di tunggu-tunggu oleh setiap muslim yang mendambakan kebaikan dan kebahagiaan dalam hidup di dunia dan akhirat. Namun perlu diingat bahwa Lailatulqadar hanya akan datang mengunjungi seseorang pada tingkat kesucian akhlak dan spritualitas yang terjaga baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lihat dari waktu datangnya lailatul qadar itu bukan di awal, melainkan di akhir Ramadhan. Didapat pelajaran besar bagi umat Islam bahwa menjelang berakhirnya puasa Ramadhan, tentu umat akan mencapai tingkat kematangan dan kesempurnaan jiwa, melalui ibadah puasa yang telah dilakukan. Umat muslim memiliki kesiapan mental untuk menerima kehadiran malam kemuliaan yang agung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi tempat penyambutannya adalah di masjid dengan melakukan i’tikaf sebagai kegiatan ibadah menyambut datangnya lailatul qadar itu. Masjid adalah tempat suci yang diungkap dengan sebutan Bait Allah (rumah Allah) sebagai tempat dilakukan berbagai kebajikan. Masjid adalah tempat melepaskan diri dari berbagai hiruk-pikuk kehidupan dunia yang menyesakkan, dan meraih pencerahan iman dan rohani umat muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OLeh : MAS’OED ABIDIN, Ulama&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-958628816191871249?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/958628816191871249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/958628816191871249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/itikaf-ramadhan.html' title='I’tikaf Ramadhan'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-iq4RilU_Z8U/TjIrPfLTCDI/AAAAAAAABOg/S0goqXmBQGY/s72-c/sholat.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-7756164272169353494</id><published>2011-07-29T11:29:00.002+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.574+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Bacaan Bilal Shalat Tarawih Dan Doa Shalat Tarawih Lengkap [part.3]</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-4WAZ9Z46jnk/TjIpbBsfxOI/AAAAAAAABOM/qXctpYBTc4U/s1600/shalat%2Btarawih.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 298px; height: 298px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-4WAZ9Z46jnk/TjIpbBsfxOI/AAAAAAAABOM/qXctpYBTc4U/s400/shalat%2Btarawih.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634611628082185442" /&gt;&lt;/a&gt;Bacaan Doa Shalat Tarawih- Bacaan Bilal shalat Tarawih. Marhaban Yaaa Ramadhan. Bulan suci ramadhan kini kembali tiba dan senantiasa kita melakukan puasa ramadhan serta shalat tarawih ba’da shalat Isya. Dalam pelaksanaan shalat tarawih terdapat seorang bilal. Nahhh… bagi Anda yang kebetulan mendapat tugas tersebut dan belum hafal bacaannya, berikut duniabaca.com share bacaan bilal shalat tarawih bahasa arab, bacaan bilal tarawih lengkap bahasa indonesia, serta bacaan doa shalat tarawih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan bilal pada shalat tarawih mungkin akan berbeda pada setiap jama’ah. Namun demikian, masing-masing mempunyai pedoman. Bacaan bilal tarawih di bawah ini merupakan bacaan bilal shalat tawarih 20 rakaat + 3 rakaat shalat witir atau sering disebut bacaan bilal shalat tarawih 23 rakaat. Dimana pada setiap 4 rakaat shalat tarawih akan dibacakan bacaan bilal dan pada rokaat terakhir atau rakaat 20 shalat tarawih, maka akan membaca doa shalat tarawih, yang kemudian di susul dengan shalat witir 3 rakaat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan pertama : ketika hendak melakukan shalat tarawih&lt;br /&gt;صلّواسنة التراويح ركعتين جماعة رحم كم الله،&lt;br /&gt;اللهم صل على محمد (2ء)&lt;br /&gt;اللهم صل على سيدنا ومولا نامحمد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan Bilal Tarawih : Rakaat 1- 4&lt;br /&gt;الخليفة الاولى امير المؤ منين سيدنا ابو بكر الصديق.&lt;br /&gt;اللهم صل على محمد (2ء)&lt;br /&gt;اللهم صل على سيدنا ومولا نامحمد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkhooliifatul uulaa amiirul mu’miniina sayyiduna abuu bakri nissiddiikh&lt;br /&gt;Allahumma sholli ‘alaa muhammad (2x)&lt;br /&gt;Allhumma sholli ‘alaa sayyidinaa wamaulaanaa muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan Bilal Tarawih : Rakaat 5 – 8&lt;br /&gt;الخليفة الثانية امير المؤ منين سيدناعمر ابن الخطاب.&lt;br /&gt;اللهم صل على محمد (2&lt;br /&gt;اللهم صل على سيدنا ومولا نامحمد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkhooliifatuts tsaani amiirul mu’miniina sayyidunaa umar ibnu khottaab.&lt;br /&gt;Allahumma sholli ‘alaa muhammad (2x)&lt;br /&gt;Allhumma sholli ‘alaa sayyidinaa wamaulaanaa muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan Bilal Tarawih : Rakaat 9 – 12&lt;br /&gt;الخليفة الثالثة اميرالمؤمنين سيدنا عثمان ابن عفان.&lt;br /&gt;اللهم صل على محمد (2&lt;br /&gt;اللهم صل على سيدنا ومولا نامحمد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkhooliifatuts tsaalisata amiirul mu’miniina sayyidunaa usman ibnu affan.&lt;br /&gt;Allahumma sholli ‘alaa muhammad (2x)&lt;br /&gt;Allhumma sholli ‘alaa sayyidinaa wamaulaanaa muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan Bilal Tarawih : Rakaat 13 – 16&lt;br /&gt;الخليفة الرابعة اميرالمؤمنين سيدناعلى ابن ابى طالب.&lt;br /&gt;اللهم صل على محمد (2&lt;br /&gt;اللهم صل على سيدنا ومولا نامحمد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkhooliifatur raabi’ata amiirul mu’miniina sayyidunaa ‘ali ibnu abi thoolib.&lt;br /&gt;Allahumma sholli ‘alaa muhammad (2x)&lt;br /&gt;Allhumma sholli ‘alaa sayyidinaa wamaulaanaa muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan Doa Shalat Tarawih (Rakaat terakhir / 20)&lt;br /&gt;بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ : اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًايُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ , اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ , اَللَّهُمَ اجْعَلْنَا بِاْلاِيْمَانِ كَمِلِيْنَ , وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْن . وَللِصَّلاَةِحَافِظِيْنَ , وَللِزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ , وَلِمَاعِنْدَكَ طَالِبِيْنَ , وَلِعَفْوِكَ رَاجِيِّنَ , وَبِاْلهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ , وَعَنِ اللَّغْوِمُعْرِضِيْنَ , وَفىِ الدُّنْيَازَاهِدِيْنَ , وَفىِ اْلاخِرَةِرَاغِبِيْنَ , وَبِالْقَضَاءِرَضِيْنَ , وَبِالنَّعْمَاءِشَاكِرِيْنَ , وَعَلىَ اْلبَلاَءِصَابِرِيْنَ , وَتَحْتَ لِوَءِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍصَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ , وَاِلىَ اْلحَوْضِ وَارِدِيْنَ , وَاِلىَ اْلجَنَّةِدَلخِلِيْنَ , وَمِنَ النَّارِنَاجِيْنَ , وَعَلَ سَرِيْرِاْلكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ , وَمِنْ حُوْرِاْلِعَيْنِ مُتَزَوِّجِيْنَ , وَمِنْ سُنْدُ سٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَّدِيْبَاحٍ مُتَلَبِّسِيْنَ , وَمِنْ طَعَامِ اَلجَنَّةِ آ كِلِيْنَ وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًى شَارِبِيْنَ , بِاَكْواَبٍ وِّاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِيْن , مَحَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِْدِّ يْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِوَالصَّلِحِيْنَ , وَحَسُنَ اُولَئِكَ رَفِيْقًا , ذَلِكَ اْلَفَضْلُ مِنَ الله وَكَفىَ بِاللهِ عَلِيْم ً , اِنَّ الله وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيّ يَاَيُّهَاالَّذِ يْنَ اَمَّنُواصَلُّواعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْاتَسْلِيْمَا وَصَلَّى الله عَلَ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَّعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَاْلحَمْدُ لله رَبِّالْعَالَمِيْن .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dilanjutkan dengan Shalat Witir 3 Rakaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan bilal shalat witir 2 rakaat.&lt;br /&gt;صلوا سنة الوتر ركعة جماعة أثابكم الله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaan bilal shalat witir 1 rakaat.&lt;br /&gt;صلوا سنة الوتر ركعة مع القنوت أثابكم الله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note:&lt;br /&gt;* Pada prakteknya, bacaan bilal tarawih tidak harus pada rakaat-rakaat seperti diatas.  Jadi sesuaikan saja dengan lokasi Anda (bagaimana umumnya)&lt;br /&gt;* Bacaan bilal witir yang terakhir (disertai qunut) biasanya setelah tanggal 15 ramadhan atau 10 hari terakhir ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;duniabaca&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-7756164272169353494?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/7756164272169353494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/7756164272169353494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/bacaan-bilal-shalat-tarawih-dan-doa.html' title='Bacaan Bilal Shalat Tarawih Dan Doa Shalat Tarawih Lengkap [part.3]'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-4WAZ9Z46jnk/TjIpbBsfxOI/AAAAAAAABOM/qXctpYBTc4U/s72-c/shalat%2Btarawih.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-2523691540122120798</id><published>2011-07-29T11:19:00.002+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.574+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Salat Tarawih Pada Bulan Puasa Ramadhan [part. 2]</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-9OAbUfFhWZw/TjIox3YG48I/AAAAAAAABOE/YDFEzCwmN5o/s1600/15102008506.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 270px; height: 202px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-9OAbUfFhWZw/TjIox3YG48I/AAAAAAAABOE/YDFEzCwmN5o/s400/15102008506.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634610920937677762" /&gt;&lt;/a&gt;Solat tarawih niat, bacaan doa solat tarawih – Pada bulan suci ramadhan, seluruh umat muslim di seluruh penjuru dunia melakukan salat sunnah yang terdiri dari 8 rakaat dan 3 rakaat witir, yakni salat sunnah tarawih. Namun ada juga yang mengerjakan salat sunnah tarawih dengan 20 rakaat dan 3 rakaat witir. Adapun waktu pelaksanaan shalat taraweh adalah setelah shalat isya yang umumnya dilaksanakan secara berjama’ah di masjid maupun musholla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat salat tarawih sebagaimana juga salat-salat yang lain cukup diucapkan di dalam hati, yang terpenting adalah niat hanya semata karena Allah Ta’ala semata dengan hati yang ikhlas dan mengharapkan Ridho Nya, apabila ingin dilafalkan jangan terlalu keras sehingga mengganggu Muslim lainnya, memang ada beberapa pendapat tentang niat ini gunakanlah dengan hikmah bijaksana.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara lengkap, niat salat tarawih 2 rakaat adalah:&lt;br /&gt;أصلى سنة التراويحح ركعتين مأموما/إماما لله تعالى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ushalli sunnatat taraawiihi rak’ataini (ma’muman/imaaman) lillahi ta’aalaa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ” Aku niat Salat Tarawih dua rakaat ( menjadi makmum/imam) karena Allah Ta’ala”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, ada beberapa cara dalam mengerjakan salat Tarawih, salah satunya dengan formasi 2 kali 4 rakaat masing masing dengan sekali salam setiap selesai 4 rakaat. Oleh karena itu, dalam niat salat tarawih, niatnya disesuaikan menjadi “arbaa raka’ataini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat beberapa praktik tentang jumlah raka’at dan jumlah salam pada salat tarawih, pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jumlah raka’atnya adalah 8 raka’at dengan dilanjutkan 3 raka’at witir. Dan pada zaman khalifah Umar menjadi 20 raka’at dilanjutkan dengan 3 raka’at witir. Perbedaan pendapat menyikapi boleh tidaknya jumlah raka’at yang mencapai bilangan 20 itu adalah tema klasik yang bahkan bertahan hingga saat ini. Sedangkan mengenai jumlah salam praktik umum adalah salam tiap dua raka’at namun ada juga yang salam tiap empat raka’at. Sehingga bila akan menunaikan tarawih dalam 8 raka’at maka formasinya adalah salam tiap dua raka’at dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka’at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka’at. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;duniabaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-2523691540122120798?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/2523691540122120798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/2523691540122120798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/salat-tarawih-pada-bulan-puasa-ramadhan.html' title='Salat Tarawih Pada Bulan Puasa Ramadhan [part. 2]'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-9OAbUfFhWZw/TjIox3YG48I/AAAAAAAABOE/YDFEzCwmN5o/s72-c/15102008506.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-4315167567632078508</id><published>2011-07-29T11:13:00.002+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.574+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Menu Buka Puasa dan Sahur yang Bagus Dilengkapi Buah-Buahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-EFkQnp6BL9o/TjIllS9IKyI/AAAAAAAABN0/7XbwtqhRFEA/s1600/photo_foodservice-juice-259x300.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 259px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-EFkQnp6BL9o/TjIllS9IKyI/AAAAAAAABN0/7XbwtqhRFEA/s400/photo_foodservice-juice-259x300.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634607406467525410" /&gt;&lt;/a&gt;Perlu di ingat, saat berbuka ada baiknya kita memperhatikan menu yang akan disantap, minuman es sebaiknya di hindari, karena es dapat menyebabkan anda kenyang, jika begitu anda tidak lagi nafsu makan, imbasnya tubuh yang sudah seharian lapar tidak di isi makanan yang dibutuhkan karena anda sudah kekenyangan minum-minuman ber-es.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang tentunya kita sudah tidak asing lagi ialah saat berbuka puasa ada baiknya mengkonsumsi makanan dan minuman yang manis dan hangat, karena panganan atau minuman manis mengandung karbohidrat yang mudah menjadi gula darah. Dan yang hangat berguna perbaiki getah lambung juga menjaga keasamaan selama 4 jam untuk perbaiki gula darah yang berubah jadi kalori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah-buahan mengandung vitamin yang dibuthkan oleh tubuh, adapun fungsi vitamin sendiri adalah untuk membuat tubuh tetap fit dit4ngah aktivitas, apalagi saat bulan puasa Ramadhan. Nah, berikut adalah buah-buahan yang harus anda usahakan konsumsi pada bulan Ramadhan, tepatnya saat buka puasa dan sahur.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dokter Ahli Gizi, Samuel Oetoro, seperti yang diberitakan Republika Online, mengatakan bahwa saat bulan puasa perbanyaklah makan buahan-buahan pada saat buka puasa dan sahur. Ketika berbuka, gunakan rasa manis yang terkandung dari buah-buahan dan jadikan  buah-buahan atau minum jus buah menjadi penutup menu sahur harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun buah-buahan yang paling dianjurkan untuk dikonsumsi adalah buah kurma, karena kaya akan glukosa yang baik untuk tubuh. Lalu buah apa lagi selain kurma, berikut adalah paparan Dokter Samuel seperti yang dirilis Republika :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepaya. Buah tropis satu ini mengandung vitamin C dan provitamin A yang dapat membantu memecah serat makanan dalam sistem pencernaan dan membuat lancar saluran pencernaan makanan. Bagi mereka yang berpuasa, buang air besar akan tetap lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pisang. Buah ini mengandung vitamin A, B1, B2 dan C yang dapat membantu mengurangi asam lambung. Pisang cocok bagi orang yang berpuasa karena bisa membantu menjaga keseimbangan air dalam tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mangga. Inilah satu lagu buah yang mudah diperoleh di tanah air,  mengandung vitamin A, E dan C yang dapat membersihkan darah.  Bagi orang yang berpuasa, jus buah dapat dapat mengurangi dehidrasi. Namun sebaiknya berhati-bati bagi yang memiliki lambung sensitif. Pilihlah buah mangga matang alih-alih yang masih muda dan berasa masam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Srawberry. Buah imut berwarna merah yang kaya vitamin A, vitamin B1, B dan C serta antioksidan, bagus untuk melawan zat radikal bebas. Sehingga daya tahan tubuh orang yang berpuasa tetap terjaga dari virus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apel. Dari dulu manfaat buah ini memang sudah dikenal.  Tak heran bila di Barat pun muncul slogan “One Apple a day, tak your doktor away’. Mengandung vitamin A, B dan C, apel dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah, mengatasi masalah nafsu makan yang terlalu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeruk. Buah identik dengan warna oranye ini mengandung vitamin A, B1, B2 dan C serta antikanker bagi tubuh. Jeruk juga dapat merangsang kekebalan tubuh, membersihkan lender ditenggorokan, rongga hidung akibat influenza. Namun, sekali lagi bagi pemilik lambung sensitif perlu berhati-hati mengonsumsi jeruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belimbing. Inilah buah berbentuk bintang yang mengandung vitamin C dan provitamin A dengan manfaat dapat membantu memperlancar pencernaan makanan, menurunkan tekanan darah dan tingkat kolesterol dalam tubuh. Tak ada salahnya menghadirkan belimbing dalam hidangan bila ingin berganti menu buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blewah. Sepupu melon ini kaya dengan  vitamin A. Rasa manis yang terkandung dalam belewah mempunyai fungsi absorpsi atau melakukan penyerapan pada usus yang sering diakibatkan makan tergesa-gesa shingga makanan tak terkunyah dengan baik. Menyantap buah ini juga membantu menyerap zat-zat tak diperlukan dari makan makanan yang banyak berbumbu, endapan obat-obatan, bahkan mengatasi rasa mual karena rasa stress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[westjava]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-4315167567632078508?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/4315167567632078508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/4315167567632078508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/menu-buka-puasa-dan-sahur-yang-bagus.html' title='Menu Buka Puasa dan Sahur yang Bagus Dilengkapi Buah-Buahan'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-EFkQnp6BL9o/TjIllS9IKyI/AAAAAAAABN0/7XbwtqhRFEA/s72-c/photo_foodservice-juice-259x300.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-8472686392106334761</id><published>2011-07-29T10:40:00.002+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.575+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Doa Berbuka Puasa yang Shahih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ejY724N33xs/TjIjM30nsqI/AAAAAAAABNk/eKV7E4whPqY/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 129px; height: 120px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ejY724N33xs/TjIjM30nsqI/AAAAAAAABNk/eKV7E4whPqY/s400/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634604787843969698" /&gt;&lt;/a&gt;Segala puji bagi Allah shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad keluarganya para sahabat dan yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba'du:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berbuka puasa merupakan saat yang dinantikan oleh mereka yang berpuasa, namun jangan lupa untuk membaca doa supaya puasa dan makanan kita mendatangkan keberkahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa setelah melaksanakan beberapa ibadah memiliki pengaruh yang sangat besar dalam syari’at seperti doa setelah melaksanakan shalat-shalat dan manasik haji, demikian juga termasuk puasa Insya Allah, apalagi Allah Ta’alaa telah menyebutkan ayat anjuran berdoa diantara ayat-ayat puasa yaitu firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قوله تعالى : ( وإذا سألك عبادي عني فإني قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوا لي وليؤمنوا بي لعلهم يرشدون ) البقرة / 186&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: (dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang-Ku maka sesungguhnya Aku dekat, Aku mengkabulkan seruan orang yang berdoa apabila berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran)&lt;br /&gt;[QS Al-Baqarah:186]&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-M-ykbaZTzlo/TjIjNIP_seI/AAAAAAAABNs/sk50uhEBOWE/s1600/kartun%2Bramadan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 294px; height: 224px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-M-ykbaZTzlo/TjIjNIP_seI/AAAAAAAABNs/sk50uhEBOWE/s400/kartun%2Bramadan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634604792253755874" /&gt;&lt;/a&gt;Ayat diatas menunjukkan pentingnya berdoa dibulan mulia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa orang yang berpuasa kemungkinan besar doanya dikabulkan Allah Ta’alaa sebagaimana disebutkan di dalam hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; [ثلاث دعوات لا ترد : دعوة الوالد ودعوة الصائم ودعوة المسافر]( صحيح).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ((ada tiga doa yang tidak ditolak: doanya orang tua, doanya orang yang berpuasa dan doanya musafir)) HR Al-Baihaqi dari haidtsnya Anas radhiallahu anhu marfu’ (3/345) dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani rahimahullah dalam Mukhtashar Silsilah Shahihah (4/406 no:1797).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mengatakan: hadits ini ada beberapa penguat dengan lafal yang beragam diantaranya: disebutkan “doanya yang terzalimi” sebagai ganti “doanya orang yang berpuasa”, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ثلاثة لا ترد دعوتهم : الصائم حتى يفطر والإمام العادل ودعوة المظلوم) . أخرجه أحمد وغيره وصححه ابن حبان.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: ((ada tiga orang yang doa mereka tidak ditolak oleh Allah: orang yang berpuasa sampai dia berbuka, pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzalimi)) HR Ahmad dan yang lainnya dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun diantara doa yang diriwayatkan untuk diucapkan ketika berbuka puasa adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن معاذ بن زهرة قال : إن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا أفطر قال :" اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت " فقد رواه أبو داود ( 2358 ) وهو حديث مرسل ، فهو ضعيف ، ضعيف أبي داود (510 ) للألباني .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Mu’adz bin Zahrah berkata: Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila berbuka mengucapkan: (Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu) HR Ibnu Sunni dalam kitabnya “Amalul Yaumi wal Lailah” dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu no:481, dan Abu Dawud no: 2358 dan dalam sanadnya ada Abdul Malik bin Harun bin Antarah dilemahkan oleh Imam Ahmad dan Ad-Daruquthni. Dan beliau berkata: Yahya berkata: demikianlah dia. Abu Hatim berkata: dia matruk (ditinggalkan). Ibnu Qayyim berkata dalam Zadul Ma’ad 2/51: hadits ini tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Al-Albani mengatakan: hadits lemah sanadnya disamping karena mursal juga perawinya Muadz bin Zahrah majhul (tidak dikenal) Lihat Irwaul Ghalil (4/38).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada riwayat yang lebih shahih yang menjelaskan tentang doa berbuka puasa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال عمر : " كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : " ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله " .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رواه أبو داود ( 2357 ) والدارقطني ( 25 ) ، وقال ابن حجر في " التلخيص الحبير " ( 2 / 202 ) : " قال الدارقطني : إسناده حسن " .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Umar radhiallahu anhu berkata: “dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila berbuka puasa mengucapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dzahaba dzoma’ wab tallatil ‘uruuq wa tsabatal ajru Insya Allah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “telah hilang rasa haus dan telah basah kerongkongan dan telah tetap pahalanya Insya Allah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HR Abu Dawud (2357) dan Ad-Daruquthni (25), Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya “At-Talkhis Al-Habir” (2/202): (Ad-Daruquthni berkata: sanadnya baik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits diatas lebih utama diamalkan dari pada sebelumnya karena derajatnya lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara dhahirnya hadits ini dibaca saat sudah mulai berbuka puasa bukan sebelumnya. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ar/voa-islam+iluvislam)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-8472686392106334761?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/8472686392106334761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/8472686392106334761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/doa-berbuka-puasa-yang-shahih.html' title='Doa Berbuka Puasa yang Shahih'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ejY724N33xs/TjIjM30nsqI/AAAAAAAABNk/eKV7E4whPqY/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-5459728540427230466</id><published>2011-07-28T22:32:00.001+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.575+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Tips dan Cara Mengatasi Haus Lapar Puasa Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-QOCrPe6lW-g/TjFzXfy2_mI/AAAAAAAABNc/YF3ycA0EWGQ/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 205px; height: 246px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-QOCrPe6lW-g/TjFzXfy2_mI/AAAAAAAABNc/YF3ycA0EWGQ/s400/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634411456326205026" /&gt;&lt;/a&gt;Puasa Ramadhan adalah puasa yang wajib dikerjakan oleh setiap umat islam yang masih hidup di seluruh jagat raya ini. Makhluk halus atau jin, binatang, alien, tumbuhan sama sekali tidak diwajibkan puasa karena di dalam Al-quran hanya manusia atau orang-orang yang beriman saja yang diwajibkan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Ramadan terkadang cukup menyebalkan karena harus dikerjakan selama satu bulan ramadan penuh yang bisa berisi 29 sampai 30 hari lamanya berturut-turut tergantung pengumuman pemerintah. Namun dibalik penderitaan puasa terdapat suatu manfaat atau faedah yang sangat berguna seperti untuk melatih diri dari serangan hawa nafsu syaitan yang terkutuk, menahan lapar, haus, pikiran kotor, ngerumpi, syahwat sex, ghibah (ngomongin orang), berbohong, ngerjain orang, dan lain sebagainya. Selain itu dengan sebulan penuh berpuasa romadhon kita bisa meningkatkan ketakwaan kita terhadap Allah SWT serta menjadi kesempatan kita untuk menumpuk amal ibadah karena ibadah di bulan romadon pahalanya berlipat ganda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang kita tidak bisa menghindari bekerja seharian dan kehilangan banyak cairan tubuh sehingga terasa sangat haus dan bibir pun mulai pecah-pecah. Mental pun mulai goyah di kala raga sudah terasa kering kerontang tiada akhir. Berikut ini adalah beberapa tips untuk tetap kuat puasa sampai bedug maghrib tiba untuk berbuka puasa :&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berada di tempat sejuk dan adem&lt;br /&gt;AC adalah sahabat yang paling baik di kala bulan ramadhan. Berada di ruang ac baik di rumah, kantor ataupun di mall dapat mengurangi rasa kering di sekujur tubuh. Beruntunglah bagi saudara kita yang berada di wilayah geografis dengan temperatur suhu dingin atau bersalju. Suhu yang rendah dapat mengurangi keluar atau penguapan cairan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Think positive atau berfikir positif&lt;br /&gt;Percayalah bahwa badah yang anda sedang jalankan akan memberikan sesuatu yang sangat tidak ternilai harganya yang lebih berharga dari nyawa anda. Contohnya seperti dengan puasa romadhon kita akan mendapat pahala yang sangat besar, dengan puasa kita akan disayang Allah swt, dengan puasa kita akan jadi kurus, dengan puasa kita kita akan dapat mengontrol hawa nafsu seenak udel bodong kita, dan lain sebagainya. Yang penting membuat mental tambah kuat dalam menghadai segala bentuk kelaparan, kehausan, kagatelan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Melupakan waktu dengan hobi&lt;br /&gt;Pernahkan anda berpikir atau berkata bahwa suatu aktifitas dapat membuat anda lupa waktu? Cobalah ingat-ingat dan temukan apakah itu? Bila aktifitas atau kegiatan itu halal dilakukan di bulan puasa maka laksanakanlah. Contohnya seperti main video game, ps2, xbox, nintendo, dingdong, ludo, monopoli, congklak, remi, gaple, tak umpet, tak jongkok, main musik, ngeband, menciptakan lagu, ngeblog, maen internet, nonton tv, ngobrol, pidato, debat, nelpon pacar dan berbagai kegiatan lain yang diridhai oleh Allah swt. Jangan lupa ingat waktu shalat dan waktu beduk buka puasa tiba. Terkadang menjalankan hobi bisa lupa waktu dan akhirnya koleps dan bangun-bangun sudah di alam kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;organisasi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-5459728540427230466?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/5459728540427230466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/5459728540427230466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/tips-dan-cara-mengatasi-haus-lapar.html' title='Tips dan Cara Mengatasi Haus Lapar Puasa Ramadhan'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-QOCrPe6lW-g/TjFzXfy2_mI/AAAAAAAABNc/YF3ycA0EWGQ/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-1311818749551277253</id><published>2011-07-28T21:50:00.001+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.575+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Meraih Kemenangan di Bulan Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-ImZ0-hgwqh4/TjFrDMjwNqI/AAAAAAAABNM/ujsMRlzMK3U/s1600/Ladida%2B-%2BSalaman.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 284px; height: 322px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-ImZ0-hgwqh4/TjFrDMjwNqI/AAAAAAAABNM/ujsMRlzMK3U/s400/Ladida%2B-%2BSalaman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634402311472166562" /&gt;&lt;/a&gt;Tiba saatnya kaum muslimim menyambut tamu agung bulan Ramadhan, tamu yang dinanti-nanti dan dirindukan kedatangannya. Sebentar lagi tamu itu akan bertemu dengan kita. Tamu yang membawa berkah yang berlimpah ruah. Tamu bulan Ramadhan adalah tamu agung, yang semestinya kita bergembira dengan kedatangannya dan merpersiapkan untuk menyambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ   )يونس/ 58 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa mereka yang kumpulkan (dari harta benda). (Yunus: 58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “karunia Allah” pada ayat di atas adalah Al-Qur’anul Karim (Lihat Tafsir As Sa’di).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan dinamakan juga dengan Syahrul Qur’an (Bulan Al Qur’an). Karena Al-Qur’an diturunkan pada bulan tersebut dan pada setiap malamnya Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam untuk mengajari Al-Qur’an kepada beliau. Bulan Ramadhan dengan segala keberkahannya merupakan rahmat dari Allah. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu lebih baik dan lebih berharga dari segala perhiasan dunia.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ulama Ahli Tafsir terkemuka Al-Imam As-Sa’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya: “Bahwasannya Allah memerintahkan untuk bergembira atas karunia Allah dan rahmat-Nya karena itu akan melapangkan jiwa, menumbuhkan semangat, mewujudkan rasa syukur kepada Allah, dan akan mengokohkan jiwa, serta menguatkan keinginan dalam berilmu dan beriman, yang mendorang semakin bertambahnya karunia dan rahmat (dari Allah). Ini adalah kegembiraan yang terpuji. Berbeda halnya dengan gembira karena syahwat duniawi dan kelezatannya atau gembira diatas kebatilan, maka itu adalah kegimbiraan yang tercela. Sebagaimana Allah berfirman tentang Qarun,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah kamu terlalu bangga, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri.” (Al Qashash: 76)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karunia dan rahmat Allah berupa bulan Ramadhan juga patut untuk kita sampaikan dan kita sebarkan kepada saudara-saudara kita kaum muslimin. Agar mereka menyadarinya dan turut bergembira atas limpahan karunia dan rahmat dari Allah. Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (11(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan terhadap nikmat dari Rabb-Mu hendaklah kamu menyebut-nyebutnya.” Adh-Dhuha: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyebut-nyebut nikmat Allah akan mendorong untuk mensyukurinya dan menumbuhkan kecintaan kepada Dzat yang melimpahkan nikmat atasnya. Karena hati itu selalu condong untuk mencintai siapa yang telah berbuat baik kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang mulia, ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sudah sepantasnya seorang muslim benar-benar menyiapkan diri untuk menyambut bulan yang penuh barakah itu, yaitu menyiapkan iman, niat ikhlash, dan hati yang bersih, di samping persiapan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan adalan bulan suci yang penuh rahmat dan barakah. Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka pintu-pintu Al-Jannah (surga), menutup pintu-pintu neraka, dan membelenggu syaithan. Allah ‘Azza wa Jalla melipat gandakan amalan shalih yang tidak diketahui kecuali oleh Dia sendiri. Barangsiapa yang menyambutnya dengan sungguh-sungguh, bershaum degan penuh keimanan dan memperbanyak amalan shalih, serta menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang bisa merusak ibadah shaumnya, niscaya Allah ‘Azza wa Jalla akan mengampuni dosa-dosanya dan akan melipatkan gandakan pahalanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang bershaum dengan penuh keimanan dan harapan (pahala dari Allah), niscaya Allah mengampuni dosa-dosa yang telah lampau.” (Muttafaqun ‘alahi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam juga bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ&lt;br /&gt;“Setiap amalan bani Adam akan dilipat gandakan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, Allah I berfirman: “kecuali ibadah shaum, shaum itu ibadah untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi keutamaan dan keberkahan bulan Ramadhan yang belum disebutkan dan tidak cukup untuk disebutkan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang terpenting bagi saudara-saudaraku seiman, adalah mensyukuri atas limpahan karunia Allah dan rahmat-Nya. Janganlah nikmat yang besar ini kita nodai dan kita kotori dengan berbagai penyimpangan dan kemaksiatan. Nikmat itu akan semakin bertambah bila kita pandai mensyukurinya dan nikmat itu akan semakin berkurang bahkan bisa sirna bila kita mengkufurinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah, pada bulan yang penuh barakah ini kita ciptakan suasa yang penuh kondusif. Jangan kita nodai dengan perpecahan. Kewajiban kita seorang muslim mengembalikan segala urusan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kepada para ulama bukan berdasarkan pendapat pribadi atau golongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalah yang sering terjadi adalah perbedaan dalam menentukan awal masuknya bulan Ramadhan. Wahai saudara-saudaraku, ingatlah sikap seorang muslim adalah mengembalikan kepada Kitabullah (Al-Qur’an) dan As Sunnah dengan bimbingan para ulama yang terpercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam telah menetukan pelaksanaan shaum Ramadhan berdasarkan ru`yatul hilal. Beliau bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ &lt;br /&gt; “Bershaumlah kalian berdasarkan ru`yatul hilal dan ber’idul fithrilah kalian berdasarkan ru`yatul hilal. Apabila (hilal) terhalangi atas kalian, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” HR. Al-Bukhari dan Muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam juga menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan secara kebersamaan. Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَلصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka/beriedul Fitri adalah pada saat kalian berbuka/beriedul Fitri, dan (waktu) berkurban/Iedul Adha di hari kalian berkurban.” (HR. At Tirmidzi dari shahabat Abu Hurairah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam At-Tirmidzi berkata: “Sebagian ahlul ilmi menafsirkan hadits Abu Hurairah di atas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan perkataan (mereka), ‘sesungguhnya shaum dan ber’Idul Fitri itu (dilaksanakan) bersama Al-Jama’ah (Pemerintah Muslimin) dan mayoritas umat Islam’.” (Tuhfatul Ahwadzi 2/37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: “Seseorang (hendaknya) bershaum bersama pemerintah dan jama’ah (mayoritas) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” Beliau juga berkata: “Tangan Allah bersama Al-Jama’ah.” (Majmu’ Fatawa 25/117)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Abul Hasan As-Sindi berkata: “Yang jelas, makna hadits ini adalah bahwasanya perkara-perkara semacam ini (menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan, Iedul Fithri dan Iedul Adha –pen) keputusannya bukanlah di tangan individu, dan tidak ada hak bagi mereka untuk melakukannya sendiri-sendiri. Bahkan permasalahan semacam ini dikembalikan kepada pemerintah dan mayoritas umat Islam, dan dalam hal ini setiap individu pun wajib untuk mengikuti pemerintah dan mayoritas umat Islam. Maka dari itu, jika ada seseorang yang melihat hilal (bulan sabit) namun pemerintah menolak persaksiannya, sudah sepatutnya untuk tidak dianggap persaksian tersebut dan wajib baginya untuk mengikuti mayoritas umat Islam dalam permasalahan itu.” (Ash-Shahihah 2/443)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menaati pemerintah merupakan prinsip yang harus dijaga oleh umat Islam. Terlebih pemerintah kita telah berupaya menempatkan utusan-utusan pada pos-pos ru’yatul hilal di d berbagai daerah di segenap nusantara ini. Rasulullah saw. bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah, barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah, barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barang siapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para pemerintah dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, 13/120).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pula hendaklah kita hidupkan bulan yang penuh barakah itu dengan amalan-amalan shalih, amalan-amalan yang ikhlash dan mencocoki sunnah Rasulullah. Kita menjauhkan dari amalan-amalan yang tidak ada contoh dari Rasulullah. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah berwasiat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang membuat-buat amalan baru dalam agama kami yang bukan bagian darinya, maka perbuatannya tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contoh dari kami, maka amalannya tersebut tertolak.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ‘ulama berkata : “Bahwa hadits merupakan kaidah agung di antara kaidah-kaidah Islam. Ini merupakan salah satu bentuk jawami’ kalim (kalimat singkat namun bermakna luas) yang dimikili oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Hadits ini sangat jelas dalam membatalkan semua bentuk bid’ah dan hal-hal baru yang dibuat dalam agama. Lafazh kedua lebih bersifat umum, karena mencakup semua orang yang mengamalkan bid’ah, walaupun pembuatnya orang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk perbuatan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah perbuatan yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin dalam menyambut bulan Ramadhan dengan amalan atau ritual tertentu, di antaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apa yang dikenal dengan acara Padusan. Yaitu mandi bersama-sama dengan masih mengenakan busana, terkadang ada yang memimpin di suatu sungai, atau sumber air, atau telaga. Dengan niat mandi besar, dalam rangka membersihkan jiwa dan raga sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Sampai-sampai ada di antara muslimin yang berkeyakinan Kalau sekali saja terlewat dari ritual ini, rasanya ada yang kurang meski sudah menjalankan puasa. Jelas perbuatan ini tidak pernah diajarkan dan tidak pernah diterapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Demikian juga para shahabat, para salafus shalih, dan para ‘ulama yang mulia tidak ada yang mengamalkan atau menganjurkan amaliah tersebut. Sehingga kaum muslimin tidak boleh melakukan ritual ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi, dalam ritual Padusan ini, banyak terjadi kemungkaran. Ya, jelas-jelas mandi bersama antara laki-laki dan perempuan. Jelas ini merupakan kemungkaran yang sama sekali bukan bagian dari ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Nyekar di kuburan leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang dari kaum muslimin, menjelang Ramadhan tiba datang ke pemakaman. Dalam Islam ada tuntunan ziarah kubur, yang disyari’atkan agar kaum muslimin ingat bahwa dirinya juga akan mati menyusul saudara-saudaranya yang telah meninggal dunia lebih dahulu, sehingga dia pun harus mempersiapkan dirinya dengan iman dan amal shalih. Namun ziarah kubur, yang diistilahkan oleh orang jawa dengan nyekar, yang dikhususkan untuk menyambut Ramadhan tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam. Apalagi mengkhusukan nyekar di kuburan leluhur. Ini adalah perkara baru dalam agama. Tak jarang dalam ziarah kubur tercampur dengan kemungkaran. Yaitu sang peziarah malah berdoa kepada penghuni kubur, meminta-minta pada orang yang sudah mati, atau ngalap berkah dari tanah kuburan! Ini merupakan perbuatan syirik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Minta ma’af kepada sesama menjelang datangnya Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan alasan agar menghadapi bulan Ramadhan dengan hati yang bersih, sudah terhapus beban dosa terhadap sesama. Bahkan di sebagian kalangan diyakini sebagai syarat agar puasanya sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan, bahwa meminta ma’af kepada sesama adalah sesuatu yang dituntunkan dalam agama, meningat manusia adalah tempat salah dan lupa. Meminta ma’af di sini umum sifatnya, bahkan setiap saat harus kita lakukan jika kita berbuat salah kepada sesama, tidak terkait dengan waktu atau acara tertentu. Mengkaitkan permintaan ma’af dengan Ramadhan, atau dijadikan termasuk cara untuk menyambut Ramadhan, maka jelas ini membuat hal baru dalam agama. Amaliah ini bukan bagian dari tuntunan syari’at Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah beberapa contoh amalan yang tidak ada tuntunan dalam syari’at yang dijadikan acara dalam menyambut bulan Ramadhan. Sayangnya, amaliah tersebut banyak tersebar di kalangan kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya dalam menyambut Ramadhan Mubarak ini kita mempersiapkan iman dan niat ikhlash kita. Hendaknya kita berniat untuk benar-benar mengisi Ramadhan ini dengan meningkatkan ibadah dan amal shalih. Baik puasa itu sendiri, memperbaiki kualitas ibadah shalat kita, berjama’ah di masjid, qiyamul lail (shalat tarawih), tilawatul qur’an, memperbanyak dzikir, shadaqah, dan berbagai amal shalih lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya itu semua butuh iman dan niat yang ikhlash, disamping butuh ilmu tentang bagaimana tuntunan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam melaksanakan berbagai amal shalih tersebut. agar amal kita menjadi amal yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga perlu adanya kesiapan fisik, agar tubuh kita benar-benar sehat sehingga bisa menjalankan berbagai ibadah dan amal shalih pada bulan Ramadhan dengan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak dari itu semua adalah semoga puasa dan semua amal ibadah kita pada bulan Ramadhan ini benar-benar bisa mengantarkan kita pada derajat taqwa di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang gagal dalam Ramadhan ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع، ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر&lt;br /&gt; “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak ada yang ia dapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar saja. Dan berapa banyak orang menegakkan ibadah malam hari, namun tidak ada yang ia dapatkan kecuali hanya begadang saja.” (HR. Ibu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن جبريل عليه السلام أتاني فقال من أدرك شهر رمضان فلم يغفر له فدخل النار فأبعده الله قل آمين فقلت آمين&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam mendatangiku, dia berkata : ‘Barangsiap yang mendapati bulan Ramadhan namun tidak menyebakan dosanya diampuni dia akan masuk neraka dan Allah jauhkan dia. Katakan amin (wahai Muhammad). Maka aku pun berkata : Amin.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita termasuk orang yang mendapat keutamaan dan fadhilah dalam bulan Ramadhan ini. Semoga Allah menyatukan hati-hati kita di atas Islam dan Iman. Dan semoga Allah menjadikan bulan Ramadhan ini sebagai jembatan menuju keridhaan Allah ‘Azza wa Jallah dan meraih ketaqwaan kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallähu a’lam bishawab ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber artikel: http://www.assalafy.org/mahad)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-1311818749551277253?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/1311818749551277253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/1311818749551277253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/meraih-kemenangan-di-bulan-ramadhan.html' title='Meraih Kemenangan di Bulan Ramadhan'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ImZ0-hgwqh4/TjFrDMjwNqI/AAAAAAAABNM/ujsMRlzMK3U/s72-c/Ladida%2B-%2BSalaman.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-9114415229196750875</id><published>2011-07-28T21:43:00.002+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.576+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>10 RENUNGAN DALAM BERPUASA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-VYR8FikhHQA/TjFoyawDCvI/AAAAAAAABNE/5G_VMZCmQv0/s1600/index.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 273px; height: 184px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-VYR8FikhHQA/TjFoyawDCvI/AAAAAAAABNE/5G_VMZCmQv0/s400/index.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634399824200796914" /&gt;&lt;/a&gt;Wahai saudaraku yang sedang menjalankan ibadah puasa, aku mengucapkan salam Islam yang abadi pada anda &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;السلام عليكم ورحمة الله وبركاته&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku memohon pada Allah 'Azza wa Jalla (Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia) agar anda sehat wal afiat dan semoga Allah memberkahi dan menjadikan kita termasuk mereka yang berpuasa dan mendirikan malam Bulan Ramadhan sesuai dengan tuntunan yang benar dan semoga Allah menerima amalan kita, sesungguhnya Dia Yang Maha Berkuasa.&lt;br /&gt;Wahai saudaraku yang berpuasa, pada kesempatan ini saya ingin menjelaskan secara ringkas beberapa renungan tentang Bulan yang utama ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan pertama: &lt;br /&gt;Wahai saudaraku yang berpuasa, pertama-tama aku ucapkan selamat atas datangnya Bulan Ramadhan yang diberkahi, Bulan Al-Qur'an dan shalat malam. Karena itu sadarilah nikmat yang agung ini serta bergembiralah dengan datangnya bulan yang mulia. &lt;br /&gt;Bulan yang mulia ini menaungi untuk mendekatkan anda pada Allah Yang Maha Suci, dan agar anda menyadari anugrah yang telah Allah berikan sehingga anda termasuk dari mereka yang menjumpainya. Ketuhilah bahwa sebagian orang terluput dari bulan ini disebabkan kekufuran wal-'iyadzubillah. Tetapi Allah dengan karunia-Nya menganugrahkannya pada anda. Sebagian yang lain ada yang menemui ajalnya sebelum menjumpai Bulan Ramadhan. Maka bersyukurlah atas karunia-Nya, dan bergegaslah. Nabi  bersabda: "Apabila Bulan Ramadhan datang, maka dibukalah pintu-pintu sorga, ditutuplah pintu-pintu neraka Jahannam dan syetan-syetan dibelenggu"  (Muttafaqun 'Alaih)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan kedua:&lt;br /&gt;Wahai saudaraku yang sedang berpuasa, semoga Allah menunjuki anda segala kebaikan. Aku berwasiat agar anda memanfaatkan kesempatan dalam bulan yang agung ini untuk mendapatkan ampunan dari segala dosa dan kesalahan serta mendekatkan diri pada Allah 'Azza wa Jalla dengan membaca Al-Qur'an baik di malam maupun siang hari. Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur'an, maka jangan sampai anda kikir pada diri anda dari kebaikan. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;" Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.  (Q.S Al-Baqarah 185)&lt;br /&gt;Berkata Umar bin Abdul Aziz: "Sesungguhnya malam dan siang melaluimu, maka beramallah di saat kedatangannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan ketiga:&lt;br /&gt;Wahai saudaraku yang sedang berpuasa, demi Allah berapa banyak kesempatan bagi anda untuk terlepas dari dosa dan introspeksi diri di medan keimanan ini untuk menambah kebaikan dan ketakwaan serta bermuhasabah. Jika anda masih banyak kekurangan, maka bertaubatlah pada Allah karena pintu (taubat) masih terbuka. Jika anda termasuk mereka yang Allah anugrahi kebaikan dan petunjuk, maka tingkatkanlah kadar ketakwaan anda dan jangan berhenti pada tingkatan tertentu.&lt;br /&gt;Wahai saudaraku yang sedang berpuasa, Adalah suatu kesempatan berharga di saat anda berpegang pada syareat Allah dan berhenti dari apa yang diharamkan Allah sebagai realisasi ketaatan pada-Nya.&lt;br /&gt;Jika dengan tekad dan kesungguhan anda mampu berhenti dari kemaksiatan yang anda lakukan, maka jangan menambah atau ragu-ragu dalam mendekatkan diri pada Allah di bulan yang mulia ini. Jadikan Ramadhan sebagai awal dari sebuah lembaran baru untuk merendah diri pada Allah 'Azza wa Jalla agar Dia mengaruniakan pada anda taubat nasuha dan menetapkan hati anda di atas jalan yang lurus.&lt;br /&gt;Wahai orang yang berbuat dosa di Bulan Rajab&lt;br /&gt;Hingga Bulan Sya'ban masih juga ia bermaksiat pada Tuhannya&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan telah mendatangimu setelah kedua bulan berlalu&lt;br /&gt;Maka janganlah engkau melakukan hal yang sama dengan bermaksiat&lt;br /&gt;Bacalah Al-Qur'an dan bertasbihlah di bulan itu dengan bersungguh-sungguh&lt;br /&gt;Ramadhan adalah bulan tasbih dan bulan Qur'an&lt;br /&gt;Berapa banyak engkau ketahui mereka yang dahulunya berpuasa&lt;br /&gt;Baik mereka dari keluarga, tetangga ataupun teman&lt;br /&gt;Kematian telah mengantarkan mereka dan setelah itu&lt;br /&gt;Engkau masih menjalani kehidupan, betapa dekatnya orang yang bermaksiat dengan ajalnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: "Wahai anak Adam, engkau ibarat hari-hari. Jika sebuah hari berlalu berarti sebagian dari dirimu juga pergi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan keempat : &lt;br /&gt;Wahai saudaraku yang sedang berpuasa, sering kita dengar sebagian orang mengatakan 'Ramadhan Karim' / Ramadhan bulan yang mulia. Itu memang benar, akan tetapi berdalih dengan ungkapan di atas adalah tidak benar. Bisa jadi ia berbuat kesalahan atau maksiat lalu mengatakan bahwa Ramadhan adalah karim/bulan yang mulia. Ia mendengarkan nyanyian dan menyaksikan apa yang diharamkan dengan dalih Ramadhan adalah bulan yang mulia. Ini adalah tidak benar. Ramadhan adalah bulan mulia bagi siapa yang melakukan ketaatan dengan membaca Al-Qur'an, Shalat Taraweh, puasa dan shalat malam, dan sebaliknya tidak mulia bagi kemaksiatan. Maka renungkanlah semoga Allah memberkahi anda. Alllah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ﭽ ﭣ  ﭤ  ﭥ  ﭦ       ﭧ  ﭨ  ﭩ    ﭪ      ﭫ  ﭬ  ﭭ  ﭮ   ﭯ  ﭰ  ﭱ  ﭼ &lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" (Q.S Al-Baqarah 183) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a bahwa Rasulullah  bersabda: "Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah kecuali Allah akan menjauhkannya dari neraka sepanjang perjalanan tujuh puluh musim disebabkan puasanya di hari itu)   (H.R Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan kelima : &lt;br /&gt;Sebagian wanita semoga Allah memberikan hidayah pada mereka, jika datang Bulan Ramadhan sibuk untuk mempersiapkan berbagai macam menu makanan dan minuman sehingga waktunya yang berharga di bulan yang mulia ini berlalu begitu saja selama berjam-jam di siang hari Ramadhan hanya untuk di dapur dan pergi ke pasar di malam hari. Ia lalui Ramadhan dalam keadaan seperti ini. Wallahul Musta'an (kepada Allahlah tempat meminta pertolongan). Wahai saudariku yang sedang berpuasa, jangan sampai anda tertipu di bulan yang mulia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan keenam :&lt;br /&gt;Wahai saudaraku yang sedang berpuasa, akhlak yang baik memiliki derajat yang tinggi yang dengannya seorang muslim dekat dengan Rasulullah  . Akan tetapi amat disayangkan, sebagian orang ada yang masih buruk akhlaknya terutama di Bulan Ramadhan. Ia tidak ingin di ajak bicara atau berbicara dengan orang lain, juga tidak mau menanggung kesalahan baik di rumah maupun di jalan. Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;ﭽ ﮱ  ﯓ   ﯔ  ﯕ  ﯖ   ﯗ              ﯘ  ﯙ  ﯚ  ﯛ  ﯜ  ﯝ  ﯞ  ﭼ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan"  (Q.S Al-Furqan: 63)  &lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda: "Seorang mukmin dengan kebaikan akhlaknya akan mendapatkan derajat orang yang berpuasa dan shalat malam" (H.R Abu Dawud).  Berkata Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah: "Barangsiapa yang buruk akhlaknya, maka jiwanya akan tersiksa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan ketujuh :&lt;br /&gt;Wahai saudaraku yang sedang berpuasa, bulan yang mulia ini adalah kesempatan berharga bagi kaum beriman untuk menambah amalan-amalan utama. Rasulullah SAW  bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa mendirikan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampunilah dosanya yang telah lalu"  (Muttafaq 'Alaih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk dari mendirikan (Bulan Ramadhan) adalah shalat taraweh yang merupakan sunnah yang ditetapkan. Maka peliharalah Shalat Taraweh bersama imam sampai selesai. Rasulullah  bersabda: "Seseorang yang shalat bersama imam hingga ia selesai, maka akan dituliskan baginya pahala shalat malam"  (H.R Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; semoga Allah memberi hidayah pada Sebagian orang yang menyia-nyiakan Shalat Taraweh, dan barangkali ia shalat dua rakaat lalu berpaling, seakan-akan dengan perbuatannya tersebut ia kikir pada dirinya sendiri dengan pahala. Maka manfaatkanlah wahai saudaraku bulan yang agung ini, hari-harimu adalah terbatas, bersegeralah sebelum datangnya sesuatu yang menghancurkan kelezatan dan memisahkan dari teman (maksudnya kematian). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan kedelapan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku yang sedang berpuasa, diantara keutamaan Bulan Ramadhan bahwa didalamnya terdapat Lailatul Qadar yang mana Allah berfirman:&lt;br /&gt;ﭽ ﭑ  ﭒ  ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ  ﭘ  ﭙ  ﭚ  ﭛ      ﭜ   ﭝ  ﭞ         ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ   ﭣ  ﭤ  ﭥ  ﭦ   ﭧ  ﭨ   ﭩ  ﭪ  ﭫ            ﭬ     ﭭ  ﭮ  ﭯ  ﭰ  ﭱ  ﭲ        ﭳ   ﭼ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar"    (Q.S Al-Qadr 1-5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Maka bersungguh-sungguhlah semoga Allah memberkahi anda untuk memanfaatkan malam yang mulia ini yang diantara keutamaannya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kitabullah (Al-Qur'an) diturunkan di malam itu.&lt;br /&gt;2. Lebih baik dari seribu bulan.&lt;br /&gt;3. Para malaikat dan Jibril turun temurun disebabkan banyaknya keberkahan di malam itu. Selain itu malam Lailatul Qadar adalah keselamatan dari siksaan bila seorang hamba menjalankan apa yang diperintahkan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad SAW  menanti datangnya malam lailatul qadar pada sepuluh hari yang terakhir, terlebih lagi pada malam-malam ganjilnya. Maka bersemangatlah untuk mencari malam tersebut dan janganlah engkau menunda-nunda, karena sikap tersebut telah membinasakan kaum yang telah lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan kesembilan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku yang sedang berpuasa, ada sebagian orang yang bersemangat untuk menunaikan umrah di Bulan Ramadhan. Tidak diragukan lagi bahwa amalan tersebut memiliki keutamaan yang besar, sebagaimana sabda nabi  : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Umrah di Bulan Ramadhan itu sama nilainya dengan haji bersamaku"  (Muttafaq 'Alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada kesempatan ini ada beberapa catatan yang ingin penulis sampaikan, dimana sebagian orang yang menunaikan umrah melakukannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sebagian orang ada yang menunaikan umrah di Bulan Ramadhan dan ia meninggalkan anak-anak serta keluarganya tanpa ada rasa tanggung jawab dan perhatian. Hal ini jelas tidak dibenarkan. Perkara yang disunnahkan tidak didahulukan atas perkara yang wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sebagian orang ada yang membawa keluarga dan anak-anaknya ke Masjidil Haram. Ini adalah sesuatu yang baik, akan tetapi ia menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam Masjidil Haram sedang anak-anaknya keliling di pasar atau bermain-main di gedung perumahan. Sedang sang ayah tidak berkumpul dengan mereka lagi kecuali di saat buka puasa atau sahur. Adapun waktu lainnya sama sekali tidak ia ketahui apa yang mereka lakukan. Karena itu agar anda tidak terjatuh dalam hal ini, maka barhati-hatilah dan agar anda memperhatikan/mementingkan segala sisi dan tidak meninggalkan satu sisi yang bisa jadi lebih penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan kesepuluh : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Wahai saudaraku yang sedang berpuasa, setiap amalan bergantung pada kesudahannya, yang saya maksud adalah menambah amalan pada sepuluh hari yang akhir dari Bulan Ramadhan. Rasulullah  bersungguh-sungguh pada sepuluh hari yang akhir tidak seperti pada malam-malam sebelumnya  (H.R Muslim). Beliau membangunkan keluarganya dan bersungguh-sungguh. Maka bersungguh-sungguhlah anda wahai saudaraku, semoga Allah memberkahi anda untuk menambah amalan. Janganlah termasuk orang-orang yang bersungguh-sungguh di awal Bulan Ramadhan lalu sedikit demi sedikit menurun sampai ketika datang akhir bulan yang mana kebaikan dan pahala dilipat gandakan, rasa malas mulai muncul untuk membaca Al-Qur'an dan shalat taraweh serta shalat malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Wahai saudaraku yang sedang berpuasa, teladanilah pada orang yang Allah utus  untuk mengambil sikap teladan darinya. Allah berfirman:&lt;br /&gt;ﭽ ﯯ  ﯰﯱ  ﯲ  ﯳ  ﯴ  ﯵ   ﯶ  ﯷ     ﯸ         ﯹ  ﯺ  ﯻ  ﯼ   ﯽ  ﯾ  ﯿﭼ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah"  (Q.S Al-Ahzaab 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebagai penutup, marilah kita memohon pada Allah 'Azza Wa Jalla agar menerima puasa dan shalat malam kita dan agar Dia berkenan mengampuni dosa-dosa serta menghilangkan kegundahan kita. Sesungguhnya Allah adalah Yang Maha Pelindung lagi Maha Berkuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Semoga shalawat dan salam tetap tercurah atas nabi kita Muhammad, keluarga beserta shahabat beliau.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-9114415229196750875?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/9114415229196750875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/9114415229196750875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/10-renungan-dalam-berpuasa.html' title='10 RENUNGAN DALAM BERPUASA'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-VYR8FikhHQA/TjFoyawDCvI/AAAAAAAABNE/5G_VMZCmQv0/s72-c/index.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-517171094003153698</id><published>2011-07-28T21:36:00.002+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.576+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Keutamaan Bulan Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-VhLa6s144oY/TjFmuYdhQzI/AAAAAAAABM8/UdH2MifuQqw/s1600/amalan-ramadhan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 309px; height: 235px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-VhLa6s144oY/TjFmuYdhQzI/AAAAAAAABM8/UdH2MifuQqw/s400/amalan-ramadhan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634397555843482418" /&gt;&lt;/a&gt;1. Dari Abu Hurairah ra:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ يَقُوْلُ: (( قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، كَتَبَ الله عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، فِيْهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوِابُ الجَحِيْمِ، وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ، فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ )) رواه أحمد والنسائي. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah saw. biasanya memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa.”&lt;br /&gt; (H.R. Ahmad dan An Nasa’i). &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dari Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرُ بَرَكَةٍ، يَغْشَاكُم الله فِيْهِ، فَيُنَزِّلُ الرَّحْمَةَ، وَيَحُطُّ الخَطَايَا، وَيَسْتَجِيْبُ فِيْهِ الدُّعَاءَ، يَنْظُرُ الله إِلَى تَنَافُسِكُمْ فِيْهِ، وَيُبَاهِي بِكُمْ مَلاَئِكَتَهُ، فَأَرُوْا الله مِنْ أَنْفُسِكُمْ خَيْرًا، فَإِنَّ الشَّقِيَّ مَنْ حُرِمَ فِيْهِ رَحْمَةَ الله )) رواه الطبراني ورواته ثقات.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, mengahapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan Dia membangga-banggakanmu kepada malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang-orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (H.R. Ath Thabrani, dan periwayatnya tsiqah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;أُعْطِيَتْ أُمَّتِيْ فِيْ شِهْرِ رَمَضَانَ خَمْسُ خِصَالٍ لَمْ تُعْطَهَا أُمَّةٌ قَبْلَهَا: خَلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عَنْدَ الله مِنْ رِيْحِ المِسْكِ، وَتَسْتَغْفِرُ لَهُمْ المَلاَئِكَةُ حَتَّى يُفْطِرُوْا، وَيُزَيِّنُ الله كُلَّ يَوْمٍ جَنَّتَهُ ثُمَّ يَقُوْلُ: يُوْشِكُ عِبَادِيَ الصَّالِحُوْنَ أَنْ يُلْقَوْا عَنْهُم المُؤْنَةَ وَالأَذَى وَيَصِيْرُ إِلَيْكَ، وَتُصْفَدُ فِيْهِ مَرَدَةُ الجِنِّ فَلاَ يَخْلُصُوْنَ فِيْهِ إِلَى مَا كَانُوْا يَخْلُصُوْنَ إِلَيْهِ فِيْ غَيْرُهُ، وَيُغْفَرُ لَهُمْ فِيْ آخِرِ لَيْلَةٍ )) قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ الله أَهِيَ لَيْلَةُ القَدْرِ؟ قَالَ: (( لاَ، وَلَكِنَّ العَامِلَ إِنَّمَا يُوَفَّى أَجْرُهُ إِذَا قَضَى عَمَلَهُ )) رواه أحمد. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kasturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wajalla setiap hari menghiasai surganya lalu berfirman (kepada surga): “hampir tiba saatnya para hambaku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu.” Pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada umatku ampunan pada akhir malam.” Beliau ditanya: “Wahai Rasulullah apakah malam itu lailatul Qadar? Jawab beliau: “Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya. (HR. Ahmad). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Team Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-517171094003153698?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/517171094003153698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/517171094003153698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/keutamaan-bulan-ramadhan.html' title='Keutamaan Bulan Ramadhan'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-VhLa6s144oY/TjFmuYdhQzI/AAAAAAAABM8/UdH2MifuQqw/s72-c/amalan-ramadhan.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-3711202926293244941</id><published>2011-07-28T21:21:00.001+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.576+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Seputar Sholat Tarawih dan Qunut Witir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-nApgCEjUq0o/TjFjFTnXqyI/AAAAAAAABM0/TXHKg18N3uA/s1600/tarawih-SHALAT.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 247px; height: 274px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-nApgCEjUq0o/TjFjFTnXqyI/AAAAAAAABM0/TXHKg18N3uA/s400/tarawih-SHALAT.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634393551633099554" /&gt;&lt;/a&gt;Sholat Tarawih &lt;br /&gt;Syaikh Nashiruddin Al-Albani  telah menjelaskan perincian tentang tata cara shalat tarawih dalam kitab “Shalat Tarawih” (hal.101-105), kemudian disini diringkasnya untuk mempermudah pembaca dan sebagai peringatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Pertama&lt;br /&gt;Shalat 13 rakaat yang dibuka dengan 2 rakaat yang ringan atau yang pendek, 2 rakaat itu menurut pendapat yang kuat adalah shalat sunnah ba’diyah Isya’. Atau 2 rakaat yang dikhususkan untuk membuka shalat malam, kemudian 2 rakaat panjang sekali, kemudian 2 rakaat kurang dari itu, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian witir 1 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Kedua &lt;br /&gt;Shalat 13 rakaat diaantaranya 8 rakaat salam pada setiap 2 rakaat kemudian melakukan witir 5 rakaat tidak duduk dan salam kecuali pada rakaat kelima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Ketiga&lt;br /&gt;Shalat 11 rakaat, salam pada setiap 2 rakaat dan witir 1 rakaat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Keempat&lt;br /&gt;Shalat 11 rakaat, shalat 4 rakaat dengan 1 salam, kemudian 4 rakaat lagi seperti itu kemudian 3 rakaat. Lalu apakah duduk (tasyahud –pent) pada setiap 2 rakaat pada yang 4 dan 3 rakaat? Kami belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dalam masalah ini. Tapi dudukpada rakaat kedua dari yang tiga rakaat tidak disyariatkan !.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Kelima&lt;br /&gt;Shalat 11 rakaat diantaranya 8 rakaat, tidak duduk kecuali pada yang kedelapan, (pada yang ke-8 ini –pent) bertsyahud dan bershalawat kepada Nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam, kemudian berdiri lagi dan tidak salam, kemudian witir 1 rakaat, lalu salam, ini berjumlah 9 rakaat, kemudian shalat 2 rakaat lagi sambil duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Keenam&lt;br /&gt;Shalat 9 rakaat, 6 rakaat pertama tidak diselingi duduk (tasyahud –pent) kecuali pada rakaat keenam dan bershalawat kepada Nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam dan seterusnya sebagaimana tersebut dalam cara yang telah lau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah tata cara yang terdapat dari Nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam secara jelas, dan dimungkinkan ditambah cara-cara yang lain yaitu dengan dikurangi pada setaip cara berapa rakaat yang dikehendaki walaupun tinggal 1 rakaat dalam rangka mengamalkan hadist Rasulullah Shallaalhu ‘alaihi wa sallam yang telah lalu (“…Barangsiapa yang ingin, witirlah dengan 5 rakaat, barangsiapa yang ingin, witirlah dengan 3 rakaat, barang siapa yang ingin,witirlah dengan 1 rakaat) [Faedah penting : Berkata Ibnu Khuzaimah dalam “Shahih Ibni Khuzaimah” 2/194, setelah menyebutkan hadist Aisyah dan yang lainnya pada sebagian cara-cara tersebut, maka dibolehkan shalat dengan jumlah yang ana dari yang diasukai dari yang telah diriwayatkan daari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya tida larangan bagi siapapun padanya, Saya katakan: Ini difahami sangat sesuai dengan apa yang kita pilih yang konsisten dengan jumlah yang shahih. Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menambahinya. Segala puji bagi Allah atas taufiq-Nya dan aku meminta Nya untuk menambahi keutamaan-Nya.] [1].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat 5 dan 3 rakaat ini, jika seseorang menghendaki untuk melakukannya dengan 1 kali duduk (tasyahud –pent) dan satu kali salam sebagaimana pada cara kedua, boleh. Dan jika ingin, bisa dengan salam pada setiap 2 rakaat seperti pada cara ketiga dan yang lain dan itu lebih baik[2]. Adapun shalat yang 5 dan 3 rakaat denagn duduk (tasyahud –pent) pada setiap 2 rakaat tanpa salam, kita tidak mendapatinya terdapat dari Nabi Shallaalhu ‘alaihi wasallam, pada asalnya boleh, akan tetapi nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam ketika melarang untuk 3 rakaat dan memberikan alasannya dengan sabda beliau “Jangan serupakan dengan shalat mahgrib...” (diriwayatkan At-Thahawi dan Daruquthni dan selain keduanya lihat “Shalatut Tarawih” hal 99-110) . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bagi yang ingin shalat witir 3 rakaat hendaknya keluar dari cara penyerupaan terhadap mahgrib dan itu dengan 2 cara :&lt;br /&gt;1. Salam antara rakaat genap dan ganjil itu lebih utama.&lt;br /&gt;2. Tidak duduk (tasyahud –pent) antara genap dan ganjil, (yakni pada rakaat kedua –pent). &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;(Dinukil dari terjemahan kitab "Qiyamu Ramadhan", karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, edisi Indonesia “Shalat Tarawih Bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”, Penerjemah : Al-Ustadz Qomar Su’aidi, Bab “Tata Cara Shalat Tarawih”&lt;br /&gt;Hal : 60 - 71, Penerbit “Cahaya Tauhid Press)&lt;br /&gt;Bacaan pada witir yang Tiga rakaat &lt;br /&gt;Diantara sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ialah membaca pada rakaat pertamanya surat Al-A’la dan kedua membaca surat Al Kafirun dan pada rakaat ketiga membaca surat Al-Ikhlas dan terkadang menambahkan dengan surat Al-Alaq dan An-Naas. Telah terdapat pula dalam riwayat yang shahih bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada satu rakaat witir dengan 100 ayat dari surat An-Nisa’. (Riwayat An-Nasai dan Ahmad dengan sanad yang shahih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa Qunut witir dan tempatnya&lt;br /&gt;Sesudah membaca bacaan (surat –pent) sebelum ruku’ terkadang beliau melakukan qunut dan berdoa dengan doa yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada cucunya Hasan bin Ali, yaitu :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، إِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، [وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ[، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْت.&lt;br /&gt;“Ya Allah! Berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku perlindungan (dari penyakit dan apa yang tidak disukai) sebagaimana orang yang telah Engkau lindungi, sayangilah aku sebagaimana orang yang telah Engkau sayangi. Berilah berkah apa yang Engkau berikan kepadaku, jauhkan aku dari kejelekan apa yang Engkau takdirkan, sesungguhnya Engkau yang menjatuhkan qadha, dan tidak ada orang yang memberikan hukuman kepadaMu. Sesungguhnya orang yang Engkau bela tidak akan terhina, dan orang yang Engkau musuhi tidak akan mulia. Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi Engkau.” [HR. Empat penyusun kitab Sunan, Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim dan Al- Baihaqi. Sedang doa yang ada di antara dua kurung, menurut riwayat Al-Baihaqi. Lihat Shahih At-Tirmidzi 1/144, Shahih Ibnu Majah 1/194 dan Irwa’ul Ghalil, oleh Al- Albani 2/172.]&lt;br /&gt;Kemudian terkadang bersholawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak mengapa melakukan qunut setelah ruku', juga menambah melaknati orang-orang kafir, dan bersholawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mendoakan kaum muslimin pada pertengahan kedua dari bulan ramadhan, karena telah ada yang demikian ini dimasa Umar radhiyallahu ‘anhu, yang telah tersebut pada hadist Abdurrahman bin Abdul Qari’ : Dan mereka melaknati orang-orang kafir pada pertengahan (ramadhan –pent)” :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"اللهم قا تل الكفرة الذين يصدون عن سبيلك ويكذبون رسلك, ولا يؤمنون بوعدك, وخالف بين كلمتهم, وألق في قلوبهم الرعب, وألق عليهم رجزك وعذا بك, يا اله الحق"&lt;br /&gt;“Ya Allah! Perangilah orang-orang kafir yang menghalangi dari jalan-Mu dan mendustakan para Rasul-Mu dan tidak beriman dengan janji-Mu. Cerai beraikan persatuan mereka, lemparkan rasa takut pada hati mereka, dan lemparkan adzab-Mu atas mereka wahai Illah yang haq.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudia bersholawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdoa untuk kaum muslimin semampunya dari kebaikan, lalu mintakan ampun untuk mereka. Dia berkata juga “Setelah selesai melaknati orang-orang kafir dan bersholawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka diteruskan dengan membaca :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ إيـَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ، وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكَافِرِيْنَ مُلْحَقٌ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ، وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ، وَلاَ نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ، وَنَخْضَعُ لَكَ، وَنَخْلَعُ مَنْ يَكْفُرُكَ.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ya Allah! KepadaMu kami menyembah. UntukMu kami melakukan shalat dan sujud. KepadaMu kami berusaha dan melayani. Kami mengharapkan rahmatMu, kami takut pada siksaanMu. Sesungguhnya siksaanMu akan menimpa pada orang- orang kafir. Ya, Allah! Kami minta pertolongan dan minta ampun kepadaMu, kami memuji kebaikanMu, kami tidak ingkar kepada-Mu, kami beriman kepadaMu, kami tunduk padaMu dan berpisah pada orang yang kufur kepadaMu.” [HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra, sanadnya menurut pendapat Al- Baihaqi adalah shahih 2/211. Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil 2/170 berkata: Sanadnya shahih dan mauquf pada Umar]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian bertakbir dan menuju sujud. (Riwayat Ibnu Khuzaimah dalam kitab “Shahihnya” (2/155-156/1100)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang diucapkan di akhir witir&lt;br /&gt;Termasuk dari sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengucapkan pada akhir shalat witir sebelum atau sesudah salam :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءَ عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ya, Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kerelaanMu dari kemarahanMu, dan dengan keselamatanMu dari siksaMu. Aku berlindung kepadaMu dari ancamanMu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepadaMu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjungkan kepada diriMu sendiri.” [HR. Empat peenyusun kitab Sunan dan Imam Ahmad. Lihat Shahih At-Tirmidzi 3/180 dan Shahih Ibnu Majah 1/194 serta kitab Irwa’ul Ghalil 2/175. [HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra, sanadnya menurut pendapat Al- Baihaqi adalah shahih 2/211. Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil 2/170 berkata: Sanadnya shahih dan mauquf pada Umar]&lt;br /&gt;Kemudian jika telah salam dari shalat witir mengucapkan :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ[رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ]  (يجهر بها ويمد بها صوته يقول 3 مرات)&lt;br /&gt;Subhaanal malikil qudduusi (rabbul malaaikati warruh) tiga kali, sedang yang ketiga, beliau membacanya dengan suara keras dan panjang. [HR. An-Nasai 3/244, Ad-Daruquthni dan beberapa imam hadis yang lain. Sedang kalimat antara dua tanda kurung adalah tambahan menurut riwayatnya 2/31. Sanadnya shahih, lihat Zadul Ma’ad yang ditahqiq oleh Syu’aib Al-Arnauth dan Abdul Qadir Al-Arnauth 1/337.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua rakaat setelah witir &lt;br /&gt;Dibolehkan shalat dua rakaat, karena telah terdapat dalil dari perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (riwayat Muslim dan lain lihat “Shalat Tarwih”hala:108-109), bahkan beliau memerintahkan umatnya dengan sabdanya :&lt;br /&gt;“Sungguh safar ini payah dan berat, maka jika salah seorang dari kalian telah melakukan witir, hendaknya rukuk (shalat) dua rakaat, jika bangun, jika tidak keduanya telah memilikinya.” (Riwayat Ibnu Khuzaimah dalam “Shahih”nya dan darinya juga yang lainnya. Telah ditahkrij dalam “Silsilah Shahihah”. Dulu aku Tawaquf (tidak bisa memutuskan pada masalah itu) dalam waktu yang cukup lama, maka tatkala saya dapatkan perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia ini cepat-cepat saya mengambilnya dan saat itu saya tahu bahwa sabdanya : " اجعلوا اخر صلا تكم با ليل وترا “Jadikanlah witir akhir shalat kalian dimalam hari” adalah kewajiban pilihan saja bukan merupakan kewajiban dan itu adalah pendapat Ibnu Nashr hal:130 ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan disunnahkan untuk membaca pada kedua rakaatnya surat Al Zilzalah dan surat Al Kafiruun. (Riwayat Ibnu Khuzaimah (1104,11050 dari hadist Aisyah dan Anas radhiyallahu ‘anhum dengan dua sanad yang saling menguatkan) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dinukil dari terjemahan kitab "Qiyamu Ramadhan", karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, edisi Indonesia “Shalat Tarawih Bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”, Penerjemah : Al-Ustadz Qomar Su’aidi, Bab “Tata Cara Shalat Tarawih”&lt;br /&gt;Hal : 60 - 71, Penerbit “Cahaya Tauhid Press)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Sholat Tarawih Sesuai Sunnah Rasulullah&lt;br /&gt;Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid&lt;br /&gt;1. Pensyari'atannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat tarawih disyari'atkan secara berjama'ah berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu 'anha : "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu malam keluar dan shalat di masjid, orang-orang pun ikut shalat bersamanya, dan mereka memperbincangkan shalat tersebut, hingga berkumpullah banyak orang, ketika beliau shalat, mereka-pun ikut shalat bersamanya, mereka meperbincangkan lagi, hingga bertambah banyaklah penghuni masjid pada malam ketiga, Rasulullah Shallalalhu 'alaihi wa sallam keluar dan shalat, ketika malam keempat masjid tidak mampu menampung jama'ah, hingga beliau hanya keluar untuk melakukan shalat Shubuh. Setelah selesai shalat beliau menghadap manusia dan bersyahadat kemudian bersabda (yang artinya) : “ Amma ba'du. Sesungguhnya aku mengetahui perbuatan kalian semalam, namun aku khawatir diwajibkan atas kalian, sehingga kalian tidak mampu mengamalkannya". Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat dalam keadaan tidak pernah lagi melakukan shalat tarawih secara berjama'ah" [Hadits Riwayat Bukhari 3/220 dan Muslim 761]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menemui Rabbnya (dalam keadaan seperti keterangan hadits diatas) maka berarti syari'at ini telah tetap, maka shalat tarawih berjama'ah disyari'atkan karena kekhawatiran tersebut sudah hilang dan ‘illat telah hilang (juga). Sesungguhnya 'illat itu berputar bersama ma'lulnya, adanya atau tidak adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang menghidupkan kembali sunnah ini adalah Khulafa'ur Rasyidin Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu 'anhu sebagaimana dikabarkan yang demikian oleh Abdurrahman bin Abdin Al-Qoriy[1] beliau berkata : "Aku keluar bersama Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu 'anhu suatu malam di bulan Ramadhan ke masjid, ketika itu manusia berkelompok-kelompok[2] Ada yang shalat sendirian dan ada yang berjama'ah, maka Umar berkata : "Aku berpendapat kalau mereka dikumpulkan dalam satu imam, niscaya akan lebih baik". Kemudian beliau mengumpulkan mereka dalam satu jama'ah dengan imam Ubay bin Ka'ab, setelah itu aku keluar bersamanya pada satu malam, manusia tengah shalat bersama imam mereka, Umar-pun berkata, "Sebaik-baik bid'ah adalah ini, orang yang tidur lebih baik dari yang bangun, ketika itu manusia shalat di awal malam".[Dikeluarkan Bukhari 4/218 dan tambahannya dalam riwayat Malik 1/114, Abdurrazaq 7733] &lt;br /&gt;Footnote:&lt;br /&gt;[1] Dengan tanwin ('abdin) dan (alqoriyyi) dengan bertasydid -tanpa dimudhofkan- lihat Al-Bab fi Tahdzib 3/6-7 karya Ibnul Atsir.&lt;br /&gt;[2]Berkelompok-kelompok tidak ada bentuk tunggalnya, seperti nisa' ibil ... dan seterusnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jumlah raka'atnya&lt;br /&gt;Manusia berbeda pendapat tentang batasan raka'atnya, pendapat yang mencocoki petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah delapan raka'at tanpa witir berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu 'anha (yang artinya) : “ Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah shalat malam di bulan Ramadhan atau selainnya lebih dari sebelas raka'at" [Dikeluarkan oleh Bukhari 3/16 dan Muslim 736 Al-Hafidz berkata (Fath 4/54)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang telah mencocoki Aisyah adalah Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, beliau menyebutkan, "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menghidupkan malam Ramadhan bersama manusia delapan raka'at kemudian witir [Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 920, Thabrani dalam As-Shagir halaman 108 dan Ibnu Nasr (Qiyamul Lail) halaman 90, sanadnya hasan sebagaimana syahidnya.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Umar bin Al-Khaththab menghidupkan sunnah ini beliau mengumpulkan manusia dengan sebelas raka'at sesuai dengan sunnah shahihah, sebagaimana yang diriwayatkan ole Malik 1/115 dengan sanad yang shahih dari jalan Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid, ia berkata : "Umar bin Al-Khaththab menyuruh Ubay bin Ka'ab dan Tamim Ad-Daari untuk mengimami manusia dengan sebelas raka'at". Ia berkata : "Ketika itu imam membaca dua ratus ayat hingga kami bersandar/bertelekan pada tongkat karena lamanya berdiri, kami tidak pulang kecuali ketika furu' fajar" [Furu' fajar : awalnya, permulaan].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat beliau ini diselisihi oleh Yazid bin Khashifah, beliau berkata : "Dua puluh raka'at".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Yazid ini syadz (ganjil/menyelisihi yang lebih shahih), karena Muhammad bin Yusuf lebih tsiqah dari Yazid bin Khashifah. Riwayat Yazid tidak bisa dikatakan ziyadah tsiqah kalau kasusnya seperti ini, karena ziyadah tsiqah itu tidak ada perselisihan, tapi hanya sekedar tambahan ilmu saja dari riwayat tsiqah yang pertama sebagaimana (yang disebutkan) dalam Fathul Mughits (1/199), Muhashinul Istilah hal. 185, Al-Kifayah hal 424-425. Kalaulah seandainya riwayat Yazid tersebut shahih, itu adalah perbuatan, sedangkan riwayat Muhammad bin Yusuf adalah perkataan, dan perkataan lebih diutamakan dari perbuatan sebagaiman telah ditetapkan dalam ilmu ushul fiqh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdur Razaq meriwayatkan dalam Al-Mushannaf 7730 dari Daud bin Qais dan lainnya dari Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid : "Bahwa Umar mengumpulkan manusia di bulan Ramadhan, dengan dua puluh satu raka'at, membaca dua ratus ayat, selesai ketika awal fajar"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat ini menyelisihi yang diriwayatkan oleh Malik dari Muhamad bin Yusuf dari Saib bin Yazid, dhahir sanad Abdur Razaq shahih seluruh rawinya tsiqah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang-orang yang berhujjah dengan riwayat ini, mereka menyangka riwayat Muhammad bin Yusuf mudhtharib, hingga selamatlah pendapat mereka dua puluh raka'at yang terdapat dalam hadits Yazid bin Khashifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangkaan mereka ini tertolak, karena hadits mudhtarib adalah hadits yang diriwayatkan dari seorang rawi satu kali atau lebih, atau diriwayatkan oleh dua orang atau lebih dengan lafadz yang berbeda-beda, mirip dan sama, tapi tidak ada yang bisa menguatkan (mana yang lebih kuat). [Tadribur Rawi 1/262]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun syarat seperti ini tidak terdapat dalam hadits Muhammad bin Yusuf karena riwayat Malik lebih kuat dari riwayat Abdur Razaq dari segi hafalan. Kami ketengahkan hal ini kalau kita anggap sanad Abdur Razaq selamat dari illat (cacat), akan tetapi kenyataannya tidak demikian (karena hadits tersebut mempunyai cacat, pent) kita jelaskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Yang meriwayatkan Mushannaf dari Abdur Razaq lebih dari seorang, diantaranya adalah Ishaq bin Ibrahim bin Ubbad Ad-Dabari.&lt;br /&gt;2. Hadits ini dari riwayat Ad-Dabari dari Abdur Razaq, dia pula yang meriwayatkan Kitabus Shaum [Al-Mushannaf 4/153]&lt;br /&gt;3. Ad-Dabari mendengar dari Abdur Razaq karangan-karangannya ketika berumur tujuh tahun [Mizanul I'tidal 1/181]&lt;br /&gt;4. Ad-Dabari bukan perawi hadits yang dianggap shahih haditsnya, juga bukan seorang yang membidangi ilmu ini [Mizanul I'tidal 1/181]&lt;br /&gt;5. Oleh karena itu dia banyak keliru dalam meriwayatkan dari Abdur Razaq, dia banyak meriwayatkan dari Abdur Razaq hadits-hadits yang mungkar, sebagian ahlul ilmi telah mengumpulkan kesalahan-kesalahan Ad-Dabari dan tashif-tashifnya dalam Mushannaf Abdur Razaq, dalam Mushannaf [Mizanul I'tidal 1/181]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keterangan di atas maka jelaslah bahwa riwayat ini mungkar, Ad-Dabari dalam meriwayatkan hadits diselisihi oleh orang yang lebih tsiqah darinya, yang menentramkan hadits ini kalau kita nyatakan kalau hadits inipun termasuk tashifnya Ad-Dabari, dia mentashifkan dari sebelas raka'at (menggantinya menjadi dua puluh satu rakaat), dan engkau telah mengetahui bahwa dia banyak berbuat tashif [Lihat Tahdzibut Tahdzib 6310 dan Mizanul I'tidal 1/181]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu riwayat ini mungkar dan mushahaf (hasil tashif), sehingga tidak bisa dijadikan hujjah, dan menjadi tetaplah sunnah yang shahih yang diriwayatkan di dalam Al-Muwatha' 1/115 dengan sanad Shahih dari Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid. Perhatikanlah.&lt;br /&gt;[Dan tambahan terperinci mengenai bantahan dari Syubhat ini, maka lihatlah:&lt;br /&gt;a. Al-Kasyfus Sharih 'an Aghlathis Shabuni fii Shalatit Tarawih oleh Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid&lt;br /&gt;b. Al-Mashabih fii Shalatit Tarawih oleh Imam Suyuthi, dengan ta'liq Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, cetakan Dar 'Ammar]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Asli : Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H. Edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR), penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-3711202926293244941?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/3711202926293244941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/3711202926293244941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/seputar-sholat-tarawih-dan-qunut-witir.html' title='Seputar Sholat Tarawih dan Qunut Witir'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-nApgCEjUq0o/TjFjFTnXqyI/AAAAAAAABM0/TXHKg18N3uA/s72-c/tarawih-SHALAT.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-8589986236187030439</id><published>2011-07-28T21:14:00.003+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.576+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Tinjauan Ibadah Puasa Sisi Agama dan Ilmu Pengetahuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-LkffvWCvmII/TjFhgbWpd7I/AAAAAAAABMs/IeTaKcYRp7k/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 237px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-LkffvWCvmII/TjFhgbWpd7I/AAAAAAAABMs/IeTaKcYRp7k/s400/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634391818543658930" /&gt;&lt;/a&gt;Manusia merupakan makhluk yang tertinggi derajatnya, oleh karena itu manusia diutus oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai makhluk yang tertinggi yang membedakan antara manusia dengan makhluk Allah yang lain adalah manusia dikaruniai oleh Allah dengan akal sedangkan makhluk Allah yang lain tidak. Dengan akalnya ini manusia berusaha sejauh mungkin untuk mengupas rahasia-rahasia alam karena alam semesta ini diciptakan oleh Allah dan tak akan lepas dari tujuannya untuk memenuhi kebutuhan makhluknya. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam salah satu firman-Nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini (langit dan bumi) dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. Ali Imran : 191)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat inilah yang membuat orang mulai berpikir untuk mencari hikmah dan manfaat yang terkandung dalam setiap perintah maupun larangan Allah diantaranya adalah hikmah yang tersembunyi dari kewajiban menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang diperintahkan oleh Allah khusus kepada orang-orang yang beriman. Hal ini seperti disebutkan di dalam firman Allah yaitu :&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. Al Baqarah : 183)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah barang tentu hikmah puasa tersebut sangat banyak baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan umat (masyarakat) pada umumnya. Diantara hikmah-hikmah tersebut yang terpenting dan mampu dijangkau oleh akal pikiran manusia sampai saat ini antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Memelihara kesehatan jasmani (Badaniyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi kesepakatan para ahli medis, bahwa hampir semua penyakit bersumber pada makanan dan minuman yang mempengaruhi organ-organ pencernaan di dalam perut. Maka sudah sewajarnyalah jika dengan berpuasa organ-organ pencernaan di dalam perut yang selama ini terus bekerja mencerna dan mengolah makanan untuk sementara diistirahatkan mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari selama satu bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berpuasa ini maka ibarat mesin, organ-organ pencernaan tersebut diservis dan dibersihkan, sehingga setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan Insya Allah kita menjadi sehat baik secara jasmani maupun secara rohani. Hal ini memang sudah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berpuasalah maka kamu akan sehat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Ibnu Suny dan Abu Nu’aim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagi tiap-tiap sesuatu itu ada pembersihnya dan pembersih badan kasar (jasad) ialah puasa”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian ilmiah, kebenaran hadis ini terbukti antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Fasten Institute (Lembaga Puasa) di Jerman menggunakan puasa untuk menyembuhkan penyakit yang sudah tidak dapat diobati lagi dengan penemuan-penemuan ilmiah dibidang kedokteran. Metode ini juga dikenal dengan istilah “diet” yang berarti menahan / berpantang untuk makanan-makanan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dr. Abdul Aziz Ismail dalam bukunya yang berjudul “Al Islam wat Tibbul Hadits” menjelaskan bahwa puasa adalah obat dari bermacam-macam penyakit diantaranya kencing manis (diabetes), darah tinggi, ginjal, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dr. Alexis Carel seorang dokter internasional dan pernah memperoleh penghargaan nobel dalam bidang kedokteran menegaskan bahwa dengan berpuasa dapat membersihkan pernafasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mac Fadon seorang dokter bangsa Amerika sukses mengobati pasiennya dengan anjuran berpuasa setelah gagal menggunakan obat-obat ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Membersihkan rohani dari sifat-sifat hewani menuju kepada sifat-sifat malaikat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini ditandai dengan kemampuan orang berpuasa untuk meninggalkan sifat-sifat hewani seperti makan, minum (di siang hari). Mampu menjaga panca indera dari perbuatan-perbuatan maksiat dan memusatkan pikiran dan perasaan untuk berzikir kepada Allah (Zikrullah). Hal ini merupakan manifestasi (perwujudan) dari sifat-sifat malaikat, sebab malaikat merupakan makhluk yang paling dekat dengan Allah, selalu berzikir kepada Allah, selalu bersih, dan doanya selalu diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian maka wajarlah bagi orang yang berpuasa mendapatkan fasilitas dari Allah yaitu dipersamakan dengan malaikat. Hal ini diperkuat oleh sabda Rasulullah dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Turmudzi yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka yaitu orang yang berpuasa sampai ia berbuka, kepala negara yang adil, dan orang yang teraniaya”(HR. Turmudzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam hadits lain dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘As, Rasulullah SAW bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang yang berpuasa diwaktu ia berbuka tersedia doa yang makbul”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu hikmah yang terpenting dari berpuasa adalah diampuni dosanya oleh Allah SWT sehingga jiwanya menjadi bersih dan akan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah SWT. Hal ini diperkuat dengan hadits Nabi yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan perhitungannya (mengharapkan keridla’an Allah) maka diampunilah dosa-dosanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sahl r.a dari Nabi SAW beliau bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut dengan Rayyan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga dari pintu itu. Tidak seorangpun masuk dari pintu itu selain mereka. (Mereka) dipanggil : Mana orang yang berpuasa ? Lalu mereka berdiri. Setelah mereka itu masuk, pintu segera dikunci, maka tidak seorangpun lagi yang dapat masuk”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ruanghati&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-8589986236187030439?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/8589986236187030439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/8589986236187030439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/tinjauan-ibadah-puasa-sisi-agama-dan.html' title='Tinjauan Ibadah Puasa Sisi Agama dan Ilmu Pengetahuan'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-LkffvWCvmII/TjFhgbWpd7I/AAAAAAAABMs/IeTaKcYRp7k/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-5639466822705953154</id><published>2011-07-28T21:09:00.004+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.577+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Tahukah anda istimewanya buah kurma?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-VMpgdvHzoic/TjFgM8caymI/AAAAAAAABMc/3E8NqzCAoJw/s1600/kurma.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 174px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-VMpgdvHzoic/TjFgM8caymI/AAAAAAAABMc/3E8NqzCAoJw/s400/kurma.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634390384317221474" /&gt;&lt;/a&gt;Kurma selalu menjadi buah unggulan saat bulan puasa. Si hitam manis ini selain bisa diolah dengan beragam cara, juga dapat diambil aneka manfaatnya. Tamr (kurma kering) berfungsi menguatkan sel-sel usus dan dapat membantu melancarkan saluran kencing karena mengandung serabut-serabut yang bertugas mengontrol laju gerak usus serta menguatkan rahim, terutama ketika ibu melahirkan.&lt;br /&gt;Buah Kurma, Khas Buka Puasa Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah Kurma, Khas Buka Puasa Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian yang terbaru menyatakan bahwa buah ruthab (kurma basah) mempunyai pengaruh mengontrol laju gerak rahim dan menambah massa sistolenya (kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi). Buah kurma matang sangat kaya akan unsur kalsium dan besi. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi perempuan yang sedang hamil dan yang akan melahirkan agar menyantap kurma untuk memudahkan persalinan serta membantu keselamatan sang ibu berikut bayinya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kurma sangat dianjurkan menjadi hidangan untuk berbuka puasa? Karena ada hal yang sudah ditetapkan dalam bidang kedokteran bahwa gula serta air merupakan zat yang pertama kali dibutuhkan oleh orang yang berpuasa setelah melalui masa menahan makan dan minum. Berkurangnya glukosa (zat gula) pada tubuh dapat mengakibatkan penyempitan dada dan gangguan pada tulang-tulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, berkurangnya air dapat melemahkan dan mengurangi daya tahan tubuh. Hal ini berbeda dengan orang berpuasa yang langsung mengisi perutnya dengan makanan dan minuman ketika berbuka.Padahal, dia membutuhkan tiga jam atau lebih agar pencernaannya dapat menyerap zat gula tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, orang yang menyantap makanan dan minuman ketika berbuka puasa tetap bisa merasakan fenomena kelemahan dan gangguan-gangguan jasmani akibat kekurangan zat gula serta air. Buah kurma dapat mencegah stroke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, buah kurma yang direbus juga mampu memperlancar saluran kencing. Kurma kaya akan zat garam mineral yang menetralisasi asam, seperti kalsium dan potasium. Buah kurma adalah makanan terbaik untuk menetralisasi zat asam yang ada pada perut karena meninggalkan sisa yang mampu menetralisasi asam setelah dikunyah dan dicerna yang timbul akibat mengonsumsi protein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurma juga mengandung vitamin A yang dapat memelihara kelembaban dan kejelian mata, menguatkan penglihatan, pertumbuhan tulang, metabolisme lemak, kekebalan terhadap infeksi, kesehatan kulit, serta menenangkan sel-sel saraf. Kurma salah satu sumber nutrisi yang sangat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah kalori yang terkandung dalam kurma jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pisang maupun jeruk. Kurma juga mengandung vitamin B kompleks. Cukup dengan memakan lima atau enam buah kurma per hari, kebutuhan nutrisi pada tubuh Anda akan terpenuhi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bjm Post) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-5639466822705953154?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/5639466822705953154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/5639466822705953154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/tahukah-anda-istimewanya-buah-kurma.html' title='Tahukah anda istimewanya buah kurma?'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-VMpgdvHzoic/TjFgM8caymI/AAAAAAAABMc/3E8NqzCAoJw/s72-c/kurma.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-7036824710733856782</id><published>2011-07-28T21:07:00.001+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.577+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Tips Nafas Segar dan Mengatasi Bau Mulut Selama Bulan Puasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-Y2Pfgq1IrLo/TjFfVxNElsI/AAAAAAAABMU/wyPFuwu5xv8/s1600/bau.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 301px; height: 301px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Y2Pfgq1IrLo/TjFfVxNElsI/AAAAAAAABMU/wyPFuwu5xv8/s400/bau.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634389436407256770" /&gt;&lt;/a&gt;Menggosok gigi tidak hanya asal sikat. Itu pun bukan satu-satunya cara yang menjamin napas segar selalu. Langkah-langkah berikut ini bisa membantu Anda menghilangkan bau mulut. Ikuti, yuk!&lt;br /&gt;Bagaimana Atasi Problem Bau Nafas Selama Puasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Atasi Problem Bau Nafas Selama Puasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gosok Gigi&lt;br /&gt;Rajin menggosok gigi (terutama selesai makan) adalah langkah terpenting jika tak ingin bau mulut menyerang. Namun, jangan asal menggosok gigi. Luangkan waktu 3-4 menit untuk menggosok gigi dan sela-selanya. Tujuannya agar semua permukaan gigi bisa dibersihkan dari bakteri. Ingat, gosok pelan saja agar gusi tidak terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benang Gigi&lt;br /&gt;Celah gigi biasanya tidak terjangkau oleh sikat gigi, tapi tenang saja, ada benang gigi yang bisa menolong. Ingat, di celah gigi bakteri “tinggal” dengan nyamannya. Nah, menggunakan benang gigi berarti menyelesaikan pekerjaan yang dilakukan dengan menggosok gigi. Lebih komplet, lebih sehat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembersih Lidah&lt;br /&gt;Bakteri juga bersembunyi di lidah. Atasi dengan pembersih lidah yang ampuh membuang lapisan lidah yang berbakteri. Hati-hati membersihkan bagian belakang lidah, ya, jangan sampai tersedak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cairan Pencuci Mulut&lt;br /&gt;Untuk menghindari plak gigi, pilihlah mouthwash yang alami (dari daun sirih atau cengkeh) dan berkadar alkohol rendah. Sebab, semakin banyak alkohol dalam mouthwash, semakin mudah juga membuat mulut kering yang memicu si bau mulut.&lt;br /&gt;Ada anggapan, orang berpuasa bisa membuat tubuh sakit. Belum lagi, ada pula yang mengatakan tak perlu berolahraga saat puasa. Apakah benar? Agar tidak salah kaprah, sebaiknya ketahui dulu mana yang benar, supaya ibadah puasa Anda bisa dijalani dengan optimal, dan produktivitas kerja pun tetap prima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut tiga anggapan yang biasanya muncul di bulan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Puasa bisa membuat sakit.&lt;br /&gt;Salah. Memang, pada awal-awal puasa Anda mengalami gejala ‘mirip’ orang sakit, seperti badan lemas, kepala pusing atau pening dan menggigil. Sebaiknya Anda jangan langsung menyerah dan langsung membatalkan puasa, karena sebenarnya yang dialami itu adalah cara tubuh beradaptasi dengan pola makan yang berbeda dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, puasa malah baik untuk kesehatan. Asalkan tidak lebih dari 14 jam, tubuh akan tetap sehat dan aman selama masih mempunyai cukup cadangan energi. Tubuh juga akan menjalani proses ‘pembersihan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengistirahatkan proses mencerna selama berpuasa, maka tubuh mempunyai energi untuk mengerjakan hal lain yaitu membersihkan tubuh dari toksin atau racun-racun yang menumpuk di dalam tubuh. Setalah minggu pertama gejala sakit akan mereda, tubuh pun terbiasa dengan aktivitas puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sahur tidak sahur, tetap merasa lapar di siang hari.&lt;br /&gt;Salah. Sebaiknya jangan meninggalkan sahur, karena sahur sama kedudukannya dengan sarapan lebih dini. Tanpa sahur, kadar normal gula darah hanya sanggup bertahan 2-3 jam sejak bangun tidur. Setelah itu, simpanan sumber tenaga mulai menurun drastis. Jika sahur dilakukan dengan benar, jangan takut kelaparan di siang hari. Selama berpuasa, tubuh akan memakai energi cadangan di dalam tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jangan makan berlebihan saat sahur. Batasi asupan makanan yang mengandung gula, yang bisa menyebabkan perut cepat terasa lapar. Biasakan makan sahur dengan makanan yang seimbang, yaitu, terdiri dari dari sumber karbohidrat, protein, sayuran dan buah-buahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tak perlu olahraga selama berpuasa&lt;br /&gt;Salah. Aktifitas fisik saat berpuasa sebaiknya jangan dikurangi. Bila tetap ingin berolahraga, pilihlah waktu menjelang berbuka puasa (1 – 2 jam sebelumnya) atau 2 – 3 jam sesudahnya. Selama berpuasa disarankan tetap melakukan olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan olahraga akan merangsang keluarnya hormon antiinsulin, yang antara lain berfungsi melepaskan gula darah dari “pabriknya”. Sebaliknya, kalau kurang gerak, tubuh bisa terasa lemas akibat kadar gula dibiarkan menurun drastis. Ini bisa membuat tubuh limbung, dan bisa menyebabkan pingsan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara-Media) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-7036824710733856782?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/7036824710733856782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/7036824710733856782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/tips-nafas-segar-dan-mengatasi-bau.html' title='Tips Nafas Segar dan Mengatasi Bau Mulut Selama Bulan Puasa'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Y2Pfgq1IrLo/TjFfVxNElsI/AAAAAAAABMU/wyPFuwu5xv8/s72-c/bau.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-1807343586483158154</id><published>2011-07-28T20:57:00.002+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.577+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Amalan- Amalan Sunah Bulan Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-5EySvHhATsk/TjFeSSN2UuI/AAAAAAAABMM/EzJ_jAi-Qa0/s1600/rambu-ramadhan.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 394px; height: 278px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-5EySvHhATsk/TjFeSSN2UuI/AAAAAAAABMM/EzJ_jAi-Qa0/s400/rambu-ramadhan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634388277037781730" /&gt;&lt;/a&gt;Amalan-amalan sunah pada bulan Ramadhan&lt;br /&gt;Selain puasa yang Allah wajibkan pada bulan Ramadhan ada berbagai amalan yang disunahkan pada bulan ini di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Mengkhatamkan Al-Qur’an&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Quran. Pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali turun dari lauhul mahfuz ke langit dunia sekaligus. Allah berfirman:&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)(al baqarah: 185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Shalat tarawih&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang menghidupkan malam bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”&lt;br /&gt;Sebuah riwayat mengatakan bahwa Nabi Saw. pernah shalat 11 rakaat, terkadang 13 rakaat atau kurang dari itu. Ketika ditanya tentang shalat malam beliau bersabda: “Dua rakaat dua rakaat, jika seseorang diantara kalian khawatir masuk waktu subuh hendaklah shalat satu rakaat witir.”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Memperbanyak doa&lt;br /&gt;Orang yang berpuasa ketika berbuka adalah salah satu orang yang doanya mustajab. Oleh karenanya perbanyaklah berdoa ketika sedang berpuasa terlebih lagi ketika berbuka. Berdoalah untuk kebaikan diri kita, keluarga, bangsa, dan saudara-saudara kita sesama muslim di belahan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Memberi buka puasa (tafthir shaim)&lt;br /&gt;Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthar (berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:” Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka) orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun”. (Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Bersedekah&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. bersabda: “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan” (HR. Tirmizi).&lt;br /&gt;Dan pada akhir bulan Ramadhan Allah mewajibkan kepada setiap muslim untuk mengeluarkan zakat fitrah sebagai penyempurna puasa yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.    I’tikaf&lt;br /&gt;I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada Allah. I’tikaf disunahkan bagi laki-laki dan perempuan; karena Rasulullah Saw. selalu beri’tikaf terutama pada sepuluh malam terakhir dan para istrinya juga ikut I’tikaf bersamanya. Dan hendaknya orang yang melaksanakan I’tikaf memperbanyak zikir, istigfar, membaca Al-Qur’an, berdoa, shalat sunnah dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.    Umroh&lt;br /&gt;Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melaksanakan umrah, karena umroh pada bulan Ramadhan memiliki pahala seperti pahala haji bahkan pahala haji bersama Rasulullah Saw. Beliau bersabda: “Umroh pada bulan Ramadhan seperti haji bersamaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.    Memperbanyak berbuat kebaikan&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan adalah peluang emas bagi setiap muslim untuk menambah ‘rekening’ pahalanya di sisi Allah. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi dikatakan bahwa amalan sunnah pada bulan Ramadhan bernilai seperti amalan wajib dan amalan wajib senilai 70 amalan wajib di luar Ramadhan. Raihlah setiap peluang untuk berbuat kebaikan sekecil apapun meskipun hanya ‘sekedar’ tersenyum di depan orang lain. Ciptakanlah kreasi dan inovasi dalam berbuat kebaikan agar saldo kebaikan kita terus bertambah.&lt;br /&gt;“dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ruanghati&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-1807343586483158154?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/1807343586483158154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/1807343586483158154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/amalan-amalan-sunah-bulan-ramadhan.html' title='Amalan- Amalan Sunah Bulan Ramadhan'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-5EySvHhATsk/TjFeSSN2UuI/AAAAAAAABMM/EzJ_jAi-Qa0/s72-c/rambu-ramadhan.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-3879907665826373844</id><published>2011-07-27T15:50:00.006+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.577+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Dasar Wajib Puasa, Hikmah Puasa, Syarat Sah Puasa, Syarat Wajib Puasa,Rukun-rukun Puasa, Hal yang Membatalkan Puasa, Problematika Puasa, Sunnah-sunnah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-a5vxHdkZL8E/Ti_ItjD1adI/AAAAAAAABME/SEGgyaLu4Ig/s1600/00i1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 272px; height: 269px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-a5vxHdkZL8E/Ti_ItjD1adI/AAAAAAAABME/SEGgyaLu4Ig/s400/00i1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633942343694772690" /&gt;&lt;/a&gt;Secara bahasa (etimologi) puasa berarti : menahan.Menurut istilah syara’ (terminologi) berarti menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar wajib puasa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (Al-Baqoroh 183) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun kedua hijriyyah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hikmah puasa &lt;/span&gt;: menahan hawa nafsu, mengurangi syahwat, memberikan pelajaran bagi si kaya untuk merasakan lapar sehingga menumbuhkan rasa kasih sayang kepada fakir miskin, dan menjaga dari maksiat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Syarat sah puasa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Islam&lt;br /&gt;2. Berakal&lt;br /&gt;3. Bersih dari haid dan nifas&lt;br /&gt;4. Mengetahui waktu diperbolehkan untuk berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti tidak sah puasa orang kafir, orang gila walaupun sebentar, perempuan haid atau nifas dan puasa di waktu yang diharamkan berpuasa, seperti hari raya atau hari tasyriq.&lt;br /&gt;Adapun perempuan yang terputus haid atau nifasnya sebelum fajar maka puasanya tetap sah dengan syarat telah niat, sekalipun belum mandi sampai pagi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Syarat wajib puasa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Islam&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-ZbHS6iwEuAE/Ti_EQUlS4II/AAAAAAAABLk/jttoySfV1jU/s1600/002.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 295px; height: 330px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-ZbHS6iwEuAE/Ti_EQUlS4II/AAAAAAAABLk/jttoySfV1jU/s400/002.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633937443545866370" /&gt;&lt;/a&gt;Puasa tidak wajib bagi orang kafir dalam hukum dunia, namun di akhirat mereka tetap dituntut dan diadzab karena meninggalkan puasa selain diadzab karena kekafirannya.&lt;br /&gt;Sedangkan orang murtad tetap wajib puasa dan mengqodho’ kewajiban-kewajiban yang ditinggalkannya selama murtad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mukallaf (baligh dan berakal).&lt;br /&gt;Anak yang belum baligh atau orang gila tidak wajib puasa, namun orang tua wajib menyuruh anaknya berpuasa pada usia 7 tahun jika telah mampu dan wajib memukulnya jika meninggalkan puasa pada usia 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mampu mengerjakan puasa (bukan orang lansia atau orang  sakit).&lt;br /&gt;Lansia yang tidak mampu berpuasa atau orang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh menurut medis wajib mengganti puasanya dengan membayar fidyah yaitu satu mud (7,5 ons) makanan pokok untuk setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mukim (bukan musafir sejauh ± 82 km dan keluar dari batas daerahnya sebelum fajar).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rukun-rukun puasa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Niat,&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-W8_Z8SNPD5E/Ti_D_Y61HTI/AAAAAAAABLc/aUvCqrgjauA/s1600/003.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 383px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-W8_Z8SNPD5E/Ti_D_Y61HTI/AAAAAAAABLc/aUvCqrgjauA/s400/003.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633937152652156210" /&gt;&lt;/a&gt;Niat untuk puasa wajib, mulai terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar di setiap harinya. Sedangkan niat untuk puasa sunnah, sampai tergelincirnya matahari (waktu duhur) dengan syarat:&lt;br /&gt;a.  diniatkan sebelum masuk waktu dhuhur&lt;br /&gt;b. tidak mengerjakan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum dan lain-lain sebelum niat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat puasa Ramadhan yang sempurna:&lt;br /&gt;نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَان هذِهِ السَّنَة ِللهِ تَعَالَى &lt;br /&gt;Saya niat mengerjakan kewajiban puasa bulan Ramadhan esok hari pada tahun ini karena Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menghindari perkara yang membatalkan puasa. Kecuali jika lupa atau dipaksa atau karena kebodohan yang ditolerir oleh syari’at (jahil ma’dzur).&lt;br /&gt;Jahil ma’dzur/kebodohan yang ditolerir syariat ada dua:&lt;br /&gt;a. hidup jauh dari ulama’.&lt;br /&gt;b. baru masuk islam.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-SbKxvELq2zE/Ti_FYKWBvAI/AAAAAAAABL8/mgra0EOEjKw/s1600/004.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 232px; height: 218px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-SbKxvELq2zE/Ti_FYKWBvAI/AAAAAAAABL8/mgra0EOEjKw/s400/004.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633938677748055042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hal-hal yang membatalkan puasa :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Masuknya sesuatu ke dalam rongga terbuka yang tembus ke bagian dalam tubuh seperti mulut, hidung, telinga dan lain-lain jika ada unsur kesengajaan, mengetahui keharamannya dan atas kehendak sendiri. Namun jika dalam keadaan lupa, tidak mengetahui keharamannya karena bodoh yang ditolerir atau dipaksa, maka puasanya tetap sah. &lt;br /&gt;1. Murtad, sekalipun masuk islam seketika.&lt;br /&gt;2. Haid, nifas dan melahirkan sekalipun sebentar.&lt;br /&gt;3. Gila meskipun sebentar.&lt;br /&gt;4. Pingsan dan mabuk sehari penuh. Jika masih ada kesadaran sekalipun sebentar, tetap sah.&lt;br /&gt;5. Bersetubuh dengan sengaja dan mengetahui keharamannya.&lt;br /&gt;6. Mengeluarkan mani dengan sengaja, seperti dengan tangan atau dengan menyentuh istrinya tanpa penghalang.&lt;br /&gt;7. Muntah dengan sengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masalah masalah yang berkaitan dengan puasa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Apabila seseorang &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;berhubungan dengan istrinya pada siang hari &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ramadhan dengan sengaja, tanpa terpaksa dan mengetahui keharamannya maka puasanya batal, berdosa, wajib menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sampai maghrib dan wajib mengqodhoi puasa serta wajib membayar kaffaroh [denda] yaitu:&lt;br /&gt;-        membebaskan budak perempuan yang islam&lt;br /&gt;-        jika tidak mampu, wajib berpuasa dua bulan berturut turut,&lt;br /&gt;-        jika tidak mampu maka wajib memberi makanan pada 60 orang miskin masing-masing berupa 1 mud (7,5 ons) dari makanan pokok. Denda ini wajib dikeluarkan hanya bagi laki laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Hukum menelan dahak :&lt;br /&gt;• Jika telah mencapai batas luar tenggorokan, maka haram menelan dan membatalkan puasa.&lt;br /&gt;• Jika masih di batas dalam tenggorokan, maka boleh dan tidak membatalkan puasa.&lt;br /&gt;Yang dimaksud batas luar menurut pendapat Imam Nawawi (mu’tamad) adalah makhroj huruf kha’ (ح), dan dibawahnya adalah batas dalam. Sedangkan menurut sebagian ulama’ batas luar adalah makhroj huruf kho’(خ), dan di bawahnya adalah batas dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Menelan ludah tidak membatalkan puasa dengan syarat:&lt;br /&gt;-          Murni (tidak tercampur benda lain)&lt;br /&gt;-          Suci&lt;br /&gt;-          Berasal dari sumbernya yaitu lidah dan mulut, sedangkan menelan ludah yang berada pada bibir luar membatalkan puasa karena sudah di luar mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Hukum masuknya air mandi ke dalam rongga dengan tanpa sengaja:&lt;br /&gt;-          Jika sebab mandi sunnah seperti mandi untuk sholat jum’at atau mandi wajib seperti mandi janabat maka tidak membatalkan puasa kecuali jika sengaja atau menyelam.&lt;br /&gt;-          Jika bukan mandi sunnah atau wajib seperti mandi untuk membersihkan badan maka puasanya batal baik disengaja atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Hukum air kumur yang tertelan tanpa sengaja:&lt;br /&gt;• Jika berkumur untuk kesunnahan seperti dalam wudhu’ tidak membatalkan puasa asalkan tidak terlalu ke dalam (mubalaghoh)&lt;br /&gt;• Jika berkumur biasa, bukan untuk  kesunnahan maka puasanya batal secara mutlak, baik terlalu ke dalam (mubalaghoh) atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.  Orang yang muntah atau mulutnya berdarah wajib berkumur dengan mubalaghoh (membersihkan hingga ke pangkal tenggorokan) agar semua bagian mulutnya suci.&lt;br /&gt;Apabila ia menelan ludah tanpa mensucikan mulutnya terlebih dahulu maka puasanya batal sekalipun ludahnya nampak bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.  Orang yang sengaja membatalkan puasanya atau tidak berniat di malam hari, wajib menahan diri di siang hari Ramadhan dari perkara yang membatalkan puasa (seperti orang puasa) sampai maghrib dan setelah Ramadhan wajib mengqodhoi puasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.  Berbagai konsekuensi bagi orang yang tidak berpuasa atau membatalkan puasa Ramadhan:&lt;br /&gt;1.       Wajib qodho’ dan membayar denda :&lt;br /&gt;• Jika membatalkan puasa demi orang lain. Seperti perempuan mengandung dan menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan anaknya saja.&lt;br /&gt;• Mengakhirkan qodho’ hingga datang Ramadhan lagi tanpa ada udzur.&lt;br /&gt;2.  Wajib qodho’ tanpa denda.&lt;br /&gt;Berlaku bagi orang yang tidak berniat puasa di malam hari, orang yang membatalkan puasanya dengan selain jima’ (bersetubuh) dan perempuan hamil atau menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan dirinya saja atau kesehatan dirinya dan anaknya.&lt;br /&gt;3.  Wajib denda tanpa qodho’.&lt;br /&gt;Berlaku bagi orang lanjut usia dan orang sakit yang tidak punya harapan sembuh, jika keduanya tidak mampu berpuasa.&lt;br /&gt;4.  Tidak wajib qodho’ dan tidak wajib denda.&lt;br /&gt;Berlaku bagi orang yang gila tanpa disengaja.&lt;br /&gt;Yang dimaksud denda di sini adalah 1 mud (7,5 ons) makanan pokok daerah setempat untuk setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang disunnahkan dalam puasa Ramadhan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Menyegerakan berbuka puasa.&lt;br /&gt;2. Sahur, sekalipun dengan seteguk air.&lt;br /&gt;3. Mengakhirkan sahur, dimulai dari tengah malam.&lt;br /&gt;4. Berbuka dengan kurma. Disunnahkan dengan bilangan ganjil. Bila tak ada kurma, maka air zam-zam. Bila tak ada, cukup dengan air putih. Bila tak ada, dengan apa saja yang berasa manis alami. Bila tak ada juga, berbuka dengan makanan atau minuman yang diberi pemanis.&lt;br /&gt;5. Membaca doa berbuka yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلىَ رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ اْلعُرُوقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ .اَلْحَمْدُ ِللهِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ اَللّهُمَّ اِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ اَنْ تَغْفِرَ لِي .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Memberi makanan berbuka kepada orang berpuasa.&lt;br /&gt;7. Mandi janabat sebelum terbitnya fajar bagi orang yang junub di malam hari.&lt;br /&gt;8. Mandi setiap malam di bulan Ramadhan&lt;br /&gt;9. Menekuni sholat tarawih dan witir.&lt;br /&gt;10. Memperbanyak bacaan Al Quran dengan berusaha memahami artinya.&lt;br /&gt;11. Memperbanyak amalan sunnah dan amal sholeh.&lt;br /&gt;12. Meninggalkan caci maki.&lt;br /&gt;13. Berusaha makan dari yang halal&lt;br /&gt;14. Bersungguh-sungguh d&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;i sepuluh hari terakhir, dan lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang dimakruhkan dalam puasa Ramadhan: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Mencicipi makanan.&lt;br /&gt;2. Bekam [mengeluarkan darah].&lt;br /&gt;3. Banyak tidur dan terlalu kenyang. &lt;br /&gt;4. Mandi dengan menyelam.&lt;br /&gt;5. Memakai siwak setelah masuk waktu duhur.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Hal hal yang membatalkan pahala puasa: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Ghibah (gosip)&lt;br /&gt;2. Adu domba&lt;br /&gt;3. Berbohong  &lt;br /&gt;4. Memandang dengan syahwat&lt;br /&gt;5. Sumpah palsu.&lt;br /&gt;6. Berkata jorok atau jelek &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خمس يفطّرن الصائم الكذب والغيبة والنميمة واليمين الكاذبة والنظر بشهوة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Lima perkara yang membatalkan (pahala) puasa : berbohong, ghibah, adu domba, sumpah palsu dan melihat dengan syahwat “ (H.R. Anas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Forsan Salaf&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-3879907665826373844?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/3879907665826373844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/3879907665826373844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/dasar-wajib-puasa-hikmah-puasa-syarat.html' title='Dasar Wajib Puasa, Hikmah Puasa, Syarat Sah Puasa, Syarat Wajib Puasa,Rukun-rukun Puasa, Hal yang Membatalkan Puasa, Problematika Puasa, Sunnah-sunnah'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-a5vxHdkZL8E/Ti_ItjD1adI/AAAAAAAABME/SEGgyaLu4Ig/s72-c/00i1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-3917131389494800319</id><published>2011-07-27T15:41:00.004+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.578+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Sahur dan Berbuka Puasa menurut Sunnah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-j0bkeSPhyJk/TjJaoSrp3VI/AAAAAAAABPk/XgfTS1pUIhY/s1600/yqsbczpw.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 338px; height: 239px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-j0bkeSPhyJk/TjJaoSrp3VI/AAAAAAAABPk/XgfTS1pUIhY/s400/yqsbczpw.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634665732050115922" /&gt;&lt;/a&gt;SAHUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hikmahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mewajibkan puasa kepada kita sebagaimana telah mewajibkannya kepada orang-orang sebelum kita dari kalangan Ahlul Kitab, Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.” (QS Al Baqarah: 183).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu dan hukum yang diwajibkan atas Ahlul Kitab adalah tidak boleh makan, minum, dan jima’ setelah tidur, artinya jika tertidur, maka tidak boleh makan sampai malam berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu ditetapkan juga untuk kaum muslimin, sebagaimana telah dijelaskan. Maka ketika hukum tersebut dihapuskan, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya makan sahur untuk membedakannya dengan puasa Ahlul Kitab.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pembeda antara puasa kita dengan puasanya Ahlul Kitab adalah makan sahur.” (HR Muslim 1096).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Keutamaannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sahur Barakah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Salman radhiyallahu ‘anhu Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barokah ada pada tiga perkara: Jama’ah, Tsarid, dan makan sahur.” (HR Thabrani, Abu Nu’aim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Al Harits dari seorang shahabat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Aku masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dia makan sahur, beliau berkata, “Sesungguhnya makan sahur adalah berkah yang Allah berikan pada kalian maka janganlah kalian tinggalkan.” (HR An Nasaa`i dan Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan sahur sebagai barakah sangatlah jelas, karena dengan makan sahur berarti mengikuti sunnah, menumbuhkan semangat serta meringankan beban yang berat bagi yang berpuasa, dalam makan sahur juga menyelisihi Ahlul Kitab karena mereka tidak melakukan makan sahur. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamainya makan pagi yang diberkahi sebagaimana dalam dua hadits Al Irbadh bin Sariyah dan Abi Darda` radhiyallahu ‘anhuma, “Marilah menuju makan pagi yang diberkahi, yakni sahur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sahur itu makanan yang barokah, janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya meneguk seteguk air, karena Allah dan malaikatNya bershalawat kepada orang-orang yang sahur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya tidak menyia-nyiakan pahala yang besar ini dari Rabb yang Maha Pengasih. Dan sahurnya seorang mukmin yang paling afdhal adalah korma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik sahurnya seorang mukmin adalah korma.” (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban, Baihaqi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang tidak menemukan korma, hendaknya bersungguh-sungguh untuk sahur walau hanya dengan meneguk satu teguk air, karena fadhilah (keutamaan) yang disebutkan tadi, dan karena sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Makan sahurlah kalian walau dengan seteguk air.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengakhirkan Sahur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disunnahkan mengakhirkan sahur sesaat sebelum fajar, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu melakukan sahur, ketika selesai makan sahur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit untuk sholat subuh, dan jarak (selang waktu) antara sahur dan masuknya shalat kira-kira lamanya seseorang membaca lima puluh ayat di Kitabullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, “Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shalat, aku tanyakan (kata Anas) : “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?”. Beliau menjawab, “Kira-kira 50 ayat membaca Al Qur’an.” (HR Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hukumnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya -dengan perintah yang sangat ditekankan. Beliau bersabda, “Barangsiapa yang mau berpuasa hendaklah sahur dengan sesuatu.” (HR Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Abu Ya’la, Al Bazzar). Dan bersabda, “Makan sahurlah kalian karena dalam sahur ada barokah.” (HR Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah nabi ini sangat ditekankan anjurannya, hal ini terlihat dari tiga sisi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Perintah untuk makan sahur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sahur adalah syiarnya puasa seorang muslim, dan pembeda antara puasa kita dan puasa ahlul kitab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Larangan meninggalkan sahur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah qarinah yang kuat dan dalil yang jelas. Walaupun demikian, Al Hafizh Ibnu Hajar menukilkan dalam kitabnya Fathul Bari (4/139) ijma’ atas sunnahnya. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-JYt861YmZ0E/TjJaZO42tqI/AAAAAAAABPc/zrvaKo9AKSI/s1600/sahur.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 249px; height: 322px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-JYt861YmZ0E/TjJaZO42tqI/AAAAAAAABPc/zrvaKo9AKSI/s400/sahur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634665473333704354" /&gt;&lt;/a&gt;BERBUKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kapan orang yang berpuasa berbuka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman, “Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkannya dengan datangnya malam dan perginya siang serta sembunyinya bundaran matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdur Razzaq telah meriwayatkan dalam Mushannaf (7591) dengan sanad yang dishahihkan oleh Al Hafizh dalam Fathul Bari (4/199) dan Al Haitsami dalam Majma Zawaid (3/154) dari Amr bin Maimun Al Audi, “Para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling bersegera dalam berbuka puasa dan paling lambat dalam sahur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menyegerakan berbuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku seiman, wajib atasmu berbuka ketika matahari telah terbenam, janganlah dihiraukan rona merah yang masih terlihat di ufuk, dengan ini berarti engkau mengikuti sunnah Rosulmu shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menyelisihi Yahudi dan Nashara, karena mereka mengakhirkan berbuka hingga terbitnya bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Menyegerakan berbuka menghasilkan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia akan terus dalam kebaikan selama menyegerakan buka.” (HR Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Menyegerakan buka adalah sunnah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umatku akan terus dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka (puasa).” (HR Ibnu Hibban).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Menyegerakan buka berarti menyelisihi Yahudi dan Nashara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama ini akan terus jaya selama menyegerakan buka, karena orang Yahudi dan Nashara mengakhirkannya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Berbuka sebelum shalat maghrib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka sebelum shalat maghrib (HR Ahmad, Abu Dawud), karena menyegerakan berbuka termasuk akhlaknya para Nabi. Dari Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu, “Tiga perkara yang merupakan akhlak para nabi: menyegerakan buka, mengakhirkan sahur, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.” (HR Thabrani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berbuka dengan apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan berbuka dengan kurma, kalau tidak ada dengan air, ini termasuk kesempurnaan kasih sayang dan semangatnya Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk kebaikan) umatnya dan dalam menasehati mereka. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari bangsa kamu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan kebahagiaanmu), terhadap orang-orang mukmin ia amat pengasih lagi penyayang.” (QS At Taubah: 128).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memberi sesuatu yang manis (kurma) pada perut yang kosong, maka tubuh akan lebih siap menerima dan mendapatkan manfaatnya, terutama tubuh yang sehat, akan bertambah kuat dengannya. Dan bahwasanya puasa itu menghasilkan keringnya tubuh, maka air akan membasahinya, hingga sempurnalah manfaat makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketahuilah, bahwa kurma itu memiliki barakah dan kekhususan -demikian pula air- memiliki efek yang positif terhadap hati dan mensucikannya, tiada yang mengetahuinya, kecuali orang-orang yang ittiba’ / mengikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum shalat, jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan kurma, jika tidak ada kurma, beliau minum dengan satu tegukan air.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Apa yang Diucapkan ketika Berbuka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah saudaraku yang berpuasa -semoga Allah memberikan taufik kepada kami dan Anda untuk selalu mengikuti sunnah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam-, sungguh engkau memiliki do’a yang mustajab, maka ambillah kesempatan itu dan berdo’alah kepada Allah sedang engkau merasa yakin akan dikabulkan -ketahuilah sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan do’a dari hati yang lalai lagi main-main- berdo’alah kepadaNya sesuatu yang engkau inginkan dengan do’a-do’a yang baik, semoga engkau mendapatkan dua kebaikan di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ada tiga orang yang tidak akan tertolak do’a mereka: seorang yang puasa ketika sedang berbuka, seorang imam yang adil, dan do’a seorang yang terzholimi.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban).Dan dari Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash berkata, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh bagi orang yang berpuasa itu memiliki do’a yang tidak akan tertolak ketika berhias.” (HR Ibnu Majah, Al Hakim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’a yang paling utama (adalah) yang ma’tsur (diajarkan) dari Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a ketika berbuka, “Telah hilang dahagaku, telah basah urat-uratku, dan telah tetap pahala Insya Allah.” (HR Abu Dawud, Al Baihaqi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Memberi Makan Orang yang Berpuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hendaklah engkau bersemangat, wahai saudaraku -semoga Allah memberi berkah dan taufikNya kepadamu sehingga mampu mengamalkan kebaikan dan ketaqwaan- (yaitu) bila engkau memberi makan kepada orang puasa, maka padanya terdapat pahala yang agung serta kebaikan yang melimpah ruah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa memberi makan seorang yang berpuasa, ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahalanya.” (HR Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apabila seorang muslim yang sedang berpuasa diundang makan, wajib baginya untuk memenuhi undangan tersebut. Karena barangsiapa yang tidak memenuhi undangan, maka sungguh ia telah mendurhakai Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan disukai bagi yang diundang (makan) untuk mendo’akan kebaikan kepada si pengundang setelah selesai makan, sebagaimana telah datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam do’a yang bermacam-macam, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang baik telah makan makananmu dan para malaikat telah bershalawat kepadamu serta orang-orang yang berpuasa telah berbuka di rumahmu.” (HR Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, An Nasa`i, dan yang lainnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, berilah makan orang yang telah memberi makan kepadaku dan berilah minum orang yang telah memberi minum kepadaku.” (HR Muslim dari Al Miqdad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, ampunilah mereka, sayangilah mereka dan berkahilah terhadap apa yang telah Engkau rizkikan kepada mereka.” (HR Muslim dari Abdullah bin Busr).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Do’a niat puasa (makan sahur) :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-pxQzrBFtdUE/Ti_BfZ4rSTI/AAAAAAAABLU/j28-i6uGnAk/s1600/doa%2Bniat%2Bpuasa%2Bramadhan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 42px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-pxQzrBFtdUE/Ti_BfZ4rSTI/AAAAAAAABLU/j28-i6uGnAk/s400/doa%2Bniat%2Bpuasa%2Bramadhan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633934404132489522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nawaitu souma godhin ‘an adaa i, fardhi syahri ramadhaana haadzihis sanati lillahi ta’aalaa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : &lt;br /&gt;"Sengaja aku berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu puasa pada bulan Ramadhan bagi tahun ini kerana Allah Taala"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Do’a buka puasa :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALLOHUMMA LAKA SHUMTU WABIKA AAMANTU WA’ALAA RIZQIKA AFTHORTU BIROHMATIKA YAA ARHAMAR ROOHIMIIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya dalam Bahasa Indonesia :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ya Allah untukMu aku berpuasa, kepadaMu aku beriman dan dengan rizki dariMu aku berbuka, dengan rahmatMu wahai Tuhan yang Maha Penyayang ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dikutip dari Bulletin Al Wala wal Bara, judul asli Sahur dan Berbuka Puasa menurut Sunnah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Edisi Edisi ke-1 Tahun ke-2 / 14 November 2003 M / 19 Ramadhan 1424 H, url sumber http://fdawj.atspace.org/awwb/th2/1.htm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-3917131389494800319?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/3917131389494800319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/3917131389494800319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/doa-niat-puasa-ramadhan.html' title='Sahur dan Berbuka Puasa menurut Sunnah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-j0bkeSPhyJk/TjJaoSrp3VI/AAAAAAAABPk/XgfTS1pUIhY/s72-c/yqsbczpw.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-8329290879706229292</id><published>2011-07-26T21:41:00.005+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.578+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Puasa Anak Kecil di Bulan Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/--BAUjF3XGHE/Ti-KVe4ciWI/AAAAAAAABLE/ithL21b5H6E/s1600/larangan%252Bpuasa%252Bposter.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 192px;" src="http://3.bp.blogspot.com/--BAUjF3XGHE/Ti-KVe4ciWI/AAAAAAAABLE/ithL21b5H6E/s400/larangan%252Bpuasa%252Bposter.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633873760535480674" /&gt;&lt;/a&gt;Berikut ini adalah kumpulan fatwa pilihan dari fatawa para ulama seputar puasa anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batasan umur puasa &lt;br /&gt;Tanya:&lt;br /&gt;Kapan anak kecil diwajibkan berpuasa, berapa batasan umur yang mewajibkan untuk berpuasa?&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Anak kecil diperintahkan melakukan shalat jika sudah berumur tujuh tahun dan dipukul jika berumur sepuluh tahun. Wajib berpuasa jika sudah baligh. Baligh tercapai dengan keluar mani karena syahwat, tumbuhnya bulu di sekitar kemaluan, mimpi basah (mimpi yang menyebabkan keluar mani) atau sudah mencapai umur 15 tahun. Anak perempuan pun demikian, hanya ada tambahan tanda lain yaitu keluar haid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud dari Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya, dia berkata, bersabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( مُرُوا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّلاَةِ لِسَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perintahkan anak-anak kalian shalat pada umur 7 tahun, dan pukullah (jika menolak) pada umur sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka."&lt;br /&gt;[HR. Ahmad 2927 dan Abu Dawud 495,496.Disahihkan oleh al-Albani di dalam Irwa al-Ghalil]&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Juga sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah -radiallahu'anha- dari Nabi -shalallahu alaihi wasalam-, bahwa beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(( رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Al-Qolam diangkat (tidak dicatat) pada tiga orang: orang tidur hingga terbangun, anak kecil hingga ihtilam (keluar mani) dan dari orang gila hingga sadar."&lt;br /&gt;[HR. Imam Ahmad 1195 dan Abu Dawud no.4405. Dishahihkan oleh al-Albani di dalam Irwa al-Ghalil]&lt;br /&gt;Dikeluarkan juga yang sepertinya dari riwayat Ali -radiallahu'anhu-, Abu Daud dan at-Turmudzi, dan dia berkata: hadits hasan. Allah-lah pemberi taufik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Lajnah Daimah lil Ifta' (Komite Tetap Untuk Fatwa Kerjaan Saudi Arabia) no.1787] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahkah Puasa Anak Yang Tiba-Tiba Baligh&lt;br /&gt;Tanya:&lt;br /&gt;Apakah anak kecil yang sudah mumayyiz (sudah dapat membedakan) diperintahkan untuk berpuasa? Apakah sah puasanya jika tiba-tiba baligh ketika sedang berpusa?&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Anak kecil laki-laki maupun perempuan jika sudah berusia lebih dari 7 tahun diperintahkan untuk berpuasa agar terbiasa. Orang tua hendaknya memerintahkannya sebagaimana memerintahkan untuk shalat. Wajib berpuasa jika sudah baligh.&lt;br /&gt;Jika balig di siang hari dan dia sedang berpuasa, puasanya hari itu sah. Jika anak kecil genap berusia 15 tahun ketika matahari tergelincir di siang hari dan dia sedang berpuasa, puasanya sah. Siang pertama adalah nafilah (puasa sunnah) sedangkan sisanya adalah faridhah (puasa wajib). Atau tanda balighnya nampak dengan tumbuhnya bulu di sekitar kemaluan yang dinamakan dengan al-'anah atau keluar mani karena syahwat.&lt;br /&gt;Perempuan sama hukumnya, hanya saja pada perempuan ada tambahan tanda yang keempat yaitu haid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Syaikh Abdul Aziz Ibn Bâz, lihat Tuhfatul Ikhwan hal.160]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak berumur kurang dari 15 tahun&lt;br /&gt;Tanya:&lt;br /&gt;Apakah anak yang berumur kurang dari 15 tahun diperintahkan untuk berpuasa sebagaimana diperintahkan shalat?&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Ya, anak kecil yang belum baligh diperintahkan untuk berpuasa jika mampu, sebagaimana dahulu sahabat Nabi -radiallahu'anhum- memerintahkannya kepada anak-anak kecil mereka.&lt;br /&gt;Para ulama telah menyebutkan di dalam nas bahwa waliyul amr (wali anak) hendaknya memerintahkan anak-anak kecilnya untuk berpuasa dengan tujuan melatih dan membiasakan mereka mempraktekkan ajaran Islam dalam diri mereka hingga menjadi kebanggaan bagi mereka. Tetapi jika hal itu memberatkan atau membahayakan, maka mereka tidak harus melakukannya. &lt;br /&gt;Saya ingatkan di sini, bahwa sebagian orang tua yang melarang anak-anak mereka berpuasa sebenarnya telah menyelisihi apa yang dilakukan oleh para sahabat Nabi -radiallahu'anhum-, meskipun dengan dalih kasihan. Hakikatnya menyayangi anak justru dengan memerintahkan mereka mengerjakan syariat Islam, melatih dan membiasakannya. Hal ini tentu tidak diragukan merupakan pendidikan yang baik dan pengasuhan yang sempurna.&lt;br /&gt;Telah jelas dari Nabi -shalallahu alaihi wasalam-, beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;((  إِنَّ الرَجُلَ رَاع فِي أَهْلِ بَيْتِهِ وَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ  ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya seorang lelaki itu adalah ro'i (pemimpin) pada keluarganya dan akan ditanya tentang orang-orang yang dipimpinnya."&lt;br /&gt;[HR. al-Bukhari no. 2600]&lt;br /&gt;Yang semestinya bagi waliyul amr yang telah Allah beri tanggung jawab keluarga dan anak-anak untuk takut kepada Allah, dengan memerintahkan mereka apa-apa yang telah Allah perintahkan dari syariat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Syaikh Muhammad Ibn Saleh al-Utsaimin, lihat kitab Ad-Da'wah 1/145-146]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum puasa anak kecil yang belum baligh&lt;br /&gt;Tanya:&lt;br /&gt;Apa hukum puasa anak kecil yang belum baligh?&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Puasa anak kecil seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya tidaklah wajib. Akan tetapi wali anak memerintahkan mereka untuk membiasakan. Puasa tersebut bagi anak-anak itu ada pahala dan tidak ada dosa jika meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Syaikh Muhammad Ibn Saleh al-Utsaimin, lihat Fiqhul Ibadât hal 186]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaksa anak agar tidak berpuasa&lt;br /&gt;Tanya:&lt;br /&gt;Anak kecil memaksakan diri tetap berpuasa Ramadhan, padahal puasa membahayakan dan mengganggu kesehatannya karena umurnya yang masih kecil. Apakah boleh saya bersikap keras agar ia tidak berpuasa?&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Jika anak itu masih kecil dan belum balig, tidak diharuskan berpuasa. Akan tetapi jika mampu tanpa masyaqoh (merasa berat) maka mereka diperintahkan. Sahabat -radiallahu'anhum- dahulu memerintahkan anak-anak kecil mereka untuk berpuasa, apabila menangis mereka dialihkan dengan diberi mainan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi jika sudah pasti itu membahayakan maka dia boleh dicegah dari berpuasa. Jika Allah -subhanahu wata'âla- melarang kita memberi anak-anak kecil harta karena khawatir akan kerusakan, maka kekhawatiran mudarat pada fisiknya lebih utama untuk dicegah. Cara kasar tidaklah sepatutnya dilakukan dalam bermuamalah dengan anak-anak dalam pendidikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Fatawa wa Rasail as-Syaikh Ibn Utsaimin 1/493]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa anak perempuan&lt;br /&gt;Tanya:&lt;br /&gt;Kapan anak perempuan diwajibkan berpuasa?&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Anak perempuan diwajibkan berpuasa jika mencapai umur taklif (pembebanan), yaitu telah balig dengan tanda-tanda genap berusia 15 tahun, tumbuh bulu di sekitar kemaluan, keluar mani, haid (datang bulan), atau kehamilan. Jika terdapat tanda-tanda itu dia harus berpuasa sekalipun umurnya baru 10 tahun. Sungguh tidak sedikit anak perempuan yang telah haid pada usia 10 tahun atau 11 tahun, sehingga keluarganya menganggap enteng dan menganggapnya masih kecil sehingga tidak diharuskan puasa. Ini salah. Sesungguhnya anak perempuan jika haid berarti telah menjadi wanita dewasa dan sudah terkena taklif (kewajiban menjalankan syariat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Syaikh Abdullah Ibn Jibrin. Fatwa as-Shiam hal.34]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak perempuan jika baligh wajib berpuasa&lt;br /&gt;Tanya:&lt;br /&gt;Ketika berusia 14 tahun saya telah mendapat haid (datang bulan), tetapi tidak berpuasa di tahun itu akibat kebodohan saya dan keluarga. Kami tidak mengetahuinya karena jauhnya kami dari ulama. Menginjak usia 15 tahun saya puasa. Saya mendengar dari sebagian Mufti bahwa perempuan jika sudah datang bulan wajib berpuasa sekalipun usianya kurang dari umur baligh. Mohon penjelasannya?&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Penanya yang menyatakan mendapat haid pertama ketika berusia 14 tahun tetapi tidak tahu kalau itu adalah tanda baligh tidaklah berdosa ketika tidak berpuasa di tahun itu,  karena tidak tahu (jahil). Orang bodoh tidak berdosa. Akan tetapi ketika dia tahu bahwa puasa telah wajib atasnya, wajib baginya bersegera mengqodho (mengganti) puasa bulan tersebut. Karena anak perempuan jika sudah baligh wajib berpuasa.&lt;br /&gt;Anak perempuan menjadi balig jika terdapat 4 dari hal berikut:&lt;br /&gt;1- Genap berusia 15 tahun.&lt;br /&gt;2- Tumbuh bulu kemaluan.&lt;br /&gt;3- Keluar mani.&lt;br /&gt;4- Haid.&lt;br /&gt;Jika terdapat satu dari 4 tanda di atas, maka dia telah balig dan telah terbebani menjalankan syariat, wajib melakukan ibadah sebagaimana diwajibkan kepada orang dewasa.&lt;br /&gt;[Al-Muntaqo Min Fatawa Saleh al-Fauzan 3/132]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah anak saya sudah harus berpuasa&lt;br /&gt;Tanya:&lt;br /&gt;Saya punya putra yang berumur 12 tahun. Apakah dia harus berpuasa atau boleh memilih dan tidak wajib, mengingat dia tidak mampu untuk berpuasa selama sebulan penuh. Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan.&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Jika anak yang disebutkan itu belum baligh, tidak harus berpuasa. Akan tetapi wajib memerintahkannya untuk berpuasa jika dia sanggup, agar melatih dan menjadikannya terbiasa. Sebagaimana halnya perintah shalat jika sudah berumur 10 tahun boleh dipukul karenanya. &lt;br /&gt;Allah memberi taufik kepada semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Syaikh Abdul Aziz Ibn Bâz, lihat Tuhfatul Ikhwan hal.172&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Ramadhan diwajibkan jika baligh&lt;br /&gt;Tanya:&lt;br /&gt;Saya memiliki putri yang berusia 13 tahun. Kami memiliki keyakinan bahwa anak perempuan tidak berpuasa hingga usianya 15 tahun. Akan tetapi sebagian orang mengatakan bahwa anak perempuan jika sudah haid (datang bulan) wajib berpuasa. Kami pun menanyakannya kepada putri kami, dan dia mengatakan bahwa dia telah datang bulan sebelum berusia 13 tahun, yaitu pada usia 10 tahun. Oleh karena itu kami ingin mengetahui hakikat yang sebenarnya. Apakah putri kami hendaknya berpuasa pada usia 15 tahun atau ketika datang haid. Jika diwajibkan dengan datang bulan, apa yang dapat kami lakukan dengan 3 tahun sebelumnya, apakah harus memuasainya? Mengingat saya bodoh akan hal ini dan tidak tahu sama sekali. Kami mohon kemuliaan Syaikh untuk menjawabnya dengan rasa terima kasih.&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Sungguh putri saudari wajib berpuasa Ramadhan jika mencapai baligh. Dan kebaligan tercapai dengan salah satu berikut:&lt;br /&gt;1- Genap berusia 15 tahun.&lt;br /&gt;2- Haid (datang bulan bagi perempuan).&lt;br /&gt;3- Tumbuhnya bulu di sekitar kemaluan.&lt;br /&gt;4- Keluarnya mani karena syahwat dengan sadar atau dalam keadaan tidur, sekalipun umurnya kurang dari 15 tahun.&lt;br /&gt;Berdasarkan penjelasan di atas, maka wajib baginya untuk mengqodho (mengganti) puasa yang ditinggalkan setelah haid pertama dan hari-hari haid di bulan Ramadhan setelahnya. Sebagaimana pula wajib atasnya membayar kafarah, yaitu memberi makan satu orang miskin setiap harinya karena telah mengakhirkan qodho hingga datang Ramadhan berikutnya. Kadarnya 1/2 sho' (1kg -1,5kg) dari makanan pokok negerinya setiap hari, jika sanggup. Jika dia fakir, maka tidak ada kewajiban memberi makan, cukup baginya puasa.&lt;br /&gt;Semoga Allah memberi taufik kepada semua dengan apa-apa yang dicintai dan diridhainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Majmu Fatwa wa al-Maqolât Mutanawi'ah Syaikh Abdul Aziz Ibn Bâz 15/173]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat sah puasa anak kecil&lt;br /&gt;Tanya:&lt;br /&gt;Apa syarat sahnya puasa anak kecil? Apakah benar bahwa pahala puasanya untuk orang tuanya?&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Disyaratkan bagi orang tua untuk membiasakan putra putrinya berpuasa sejak dini jika mereka mampu, sekalipun usianya kurang dari 10 tahun. Jika sudah 10 tahun ditekankan untuk berpuasa. Jika mereka berpuasa sebelum baligh, hendaknya meninggalkan segala yang membatalkan puasa sebagaimana orang dewasa baik makan, minum dan lain sebagainya. Orang tuanya mendapatkan pahala atas hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Syaikh Abdullah Ibn Jibrin, lihat Fatwa as-Shiam hal.33]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kecil wajib puasa&lt;br /&gt;Tanya:&lt;br /&gt;Apakah anak kecil wajib berpuasa?&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Anak kecil yang belum baligh tidak diwajibkan berpuasa, akan tetapi dilatih melakukannya, khususnya jika mendekati balig, sehingga jika baligh hal itu sudah tidak berat lagi. Akan berbeda dengan yang tidak membiasakannya sampai dia baligh, nampak kesulitan dan terasa berat.&lt;br /&gt;Telah jelas bahwa para sahabat memerintahkan anak-anak kecil mereka untuk berpuasa ketika datang perintah berpuasa hari Asyuro. Mereka berkata: &lt;br /&gt;"Jika ada yang berkata: 'kami ingin makan', kami pun memberinya mainan dari bulu supaya bermain-main dengannya hingga tenggelam matahari."&lt;br /&gt;[Syaikh Abdullah Ibn Jibrin, Fatawa as-Shiam hal.33]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-8329290879706229292?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/8329290879706229292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/8329290879706229292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/i-fun-1432-h_26.html' title='Puasa Anak Kecil di Bulan Ramadhan'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/--BAUjF3XGHE/Ti-KVe4ciWI/AAAAAAAABLE/ithL21b5H6E/s72-c/larangan%252Bpuasa%252Bposter.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-4805286864627029331</id><published>2011-07-26T21:25:00.004+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.578+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2011</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-2W03GAXrw4g/Ti-I0dnt0XI/AAAAAAAABK0/MdYoel0ZrcU/s1600/bg_gratis.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 215px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-2W03GAXrw4g/Ti-I0dnt0XI/AAAAAAAABK0/MdYoel0ZrcU/s400/bg_gratis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633872093749563762" /&gt;&lt;/a&gt;Berikut adalah jadwal Imsakiyah Ramadhan 2011, terima kasih untuk PKPU yang telah mengupdate data terbaru jadwal imsakiyah ramadhan 1432 H:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe align="center" frameborder="0" height="1000" scrolling="no" src="http://www.pkpu.or.id/imsyak/" width="100%"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-4805286864627029331?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/4805286864627029331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/4805286864627029331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/puasa-ala-jogja-vs-puasa-ala-bali.html' title='Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2011'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-2W03GAXrw4g/Ti-I0dnt0XI/AAAAAAAABK0/MdYoel0ZrcU/s72-c/bg_gratis.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-5458723012714975887</id><published>2011-07-26T15:03:00.017+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.579+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>"Mak Nyuss" berbuka dengan ayam Betutu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-WY_-JrneuRQ/TjKucjd8S0I/AAAAAAAABQ0/qmCWCqqnUSY/s1600/buka%2Bpuasa.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 203px; height: 270px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-WY_-JrneuRQ/TjKucjd8S0I/AAAAAAAABQ0/qmCWCqqnUSY/s400/buka%2Bpuasa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634757889374309186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mak nyuss’&lt;/span&gt;… begitu istilah untuk mengungkapkan rasa masakan yang luar biasa enaknya… seperti di tv- tv itu lho… sebelum ai lanjutkan terlebih dahulu ai ucapkan &lt;br&gt;&lt;font face="arial" color="black" size="4"&gt;&lt;marquee direction="right" behavior="alternate" direction="right" scrollamount="2" height="20px" scrolldelay="2" bgcolor="yellow" width="100%"&gt;SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1432 H&lt;/marquee&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Semoga lancer puasanya dan mampu menahan hawa nafsu… amin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara soal puasa, satu hal yang pasti ditunggu-tunggu tiap harinya… tak..tak..tak..tak..dung..dung..dung..dung...tak..tak..tak..dung..dung..dung..ui..ui..ui..ui ???&lt;br /&gt;Yup tepat, saat berbuka… tapi ai ingatkan jangan sampai tiap hari mikir makanan melulu… bias-bisa ntar puasa kita gak ada artinya’… OK!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini ai akan berbagi menu berbuka ala pulau Dewata, maklum dah dua tahun lebih ai tinggal di Bali… jadi kali ini kedua kalinya ai merasakan lebaran di pulau Bali, makanya menu yang akan ai sajikan sudah barang tentu telah ai rasakan kenikmatannya. Penasaran kira- kira apa menu andalannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lain dan tak ada duanya yaitu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-WVREdd82LTg/TjKuccBNiDI/AAAAAAAABQs/vbTCWGRpvIM/s1600/ayam%2Bkartun.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 55px; height: 55px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-WVREdd82LTg/TjKuccBNiDI/AAAAAAAABQs/vbTCWGRpvIM/s400/ayam%2Bkartun.jpg" border="0"alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634757887374755890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BETUTU…&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pokok’e dijamin mak nyuss’ uenak tenan.&lt;br /&gt;Tapi tentunya agar lebih greng dan mantab didukung juga menu pelengkap lainnya plus ada ritual tertentu… hehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung saja berikut menu dan ritual yang ai maksud agar anda mendapatkan nikmatnya berbuka puasa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ritual pertama&lt;/span&gt;, mandi sebelum berbuka… biar badan segar dan lebih bias menikmati makanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ritual kedua&lt;/span&gt;, begitu terdengar adzan… segera minum beberapa teguk air hangat dilanjutkan semangkok kolak/ koktail… heemm segerr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ritual ketiga&lt;/span&gt;, eit sabar jangan makan dulu! ntar perutnya kaget… ambil air wudhu lalu sholat maghrib… kan udah gak begitu lapar kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ritual keempat&lt;/span&gt;, nah ini yang ditunggu-tunggu… ambil nasi secukupnya plus ayam betutu beserta gudangannya… udah, langsung SIKAT, tapi ingat jangan berlebihan ntar bias diteruskan abis tarawih… jangan sampai karena kenyang, gak bias jalan, lalu ketiduran, akhirnya gak tarawihan… yah saying kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ritual kelima atau terakhir&lt;/span&gt;, boleh dech sambil nunggu tarawih kita menikmati secangkir teh atau sirup sambil bercengkrama sekeluarga… oya jangan lupa tadarusan ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai menu berikut cara membuatnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-rgU__21XHSA/TjKucBzC_SI/AAAAAAAABQk/NWavEs9qcrM/s1600/kolak.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-rgU__21XHSA/TjKucBzC_SI/AAAAAAAABQk/NWavEs9qcrM/s400/kolak.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634757880336022818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KOLAK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bahan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;2 buah pisang tanduk yg cukup besar, dipotong bulat&lt;br /&gt;1 buah ubi jalar, dipotong kotak-kotak&lt;br /&gt;400 ml santan cair&lt;br /&gt;400 ml santan kental&lt;br /&gt;150 gr gula jawa&lt;br /&gt;1 sdm gula pasir&lt;br /&gt;sedikit garam&lt;br /&gt;Daun pandan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cara olah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masak gula jawa, gula pasir, garam dan daun pandan sampai mendidih.&lt;br /&gt;Masukkan ubi jalar, masak sampai ubi 1/2 matang&lt;br /&gt;Kemudian tambahkan pisang, didihkan kembali.&lt;br /&gt;Terakhir masukkan santan kental.&lt;br /&gt;Masak sampai mendidih sambil sesekali diaduk agar santan tidak pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk selera, dipersilakan kepada masing-masing untuk membuat pisang dan ubi tersebut menjadi empuk ataukah legit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-jEH2jq2RrnM/TjKub_FtPkI/AAAAAAAABQc/PDW7d5XllW8/s1600/koktail.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 181px; height: 272px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-jEH2jq2RrnM/TjKub_FtPkI/AAAAAAAABQc/PDW7d5XllW8/s400/koktail.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634757879608983106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KOKTAIL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bahan Untuk Koktail Buah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    30 g nenas, potong dadu&lt;br /&gt;    30 g bengkuang, potong dadu&lt;br /&gt;    30 g melon, potong dadu&lt;br /&gt;    30 g pepaya,potong dadu&lt;br /&gt;    30 cc, air jeruk lemon&lt;br /&gt;    1 sdm gula pasir&lt;br /&gt;    Sedikit essense almond&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cara Membuat Koktail Buah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rebus air dan gula pasir hingga mendidih, angkat&lt;br /&gt;    Beri air jeruk lemond dan essense almond&lt;br /&gt;    Setelah dingin  masukkan buah buahan dan simpan di lemari es&lt;br /&gt;    Hidangkan buah dingin dan dausnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-YHlVcNMrkYI/TjKubxnZQVI/AAAAAAAABQU/X0-3zLcBmtg/s1600/betutu.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 340px; height: 259px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-YHlVcNMrkYI/TjKubxnZQVI/AAAAAAAABQU/X0-3zLcBmtg/s400/betutu.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634757875992183122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AYAM BETUTU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1 ekor ayam utuh, ambil bagian dalam isi ayam&lt;br /&gt;    1 buah jeruk nipis&lt;br /&gt;    1 sendok teh garam&lt;br /&gt;    100 gram daun singkong rebus, iris halus&lt;br /&gt;    2 batang serai, iris bagian yang putih&lt;br /&gt;    4 lembar daun jeruk&lt;br /&gt;    3 sendok makan minyak untuk menumis&lt;br /&gt;    Daun pisang secukupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bumbu halus :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    7 siung bawang merah&lt;br /&gt;    5 siung bawang putih&lt;br /&gt;    6 buah cabai merah&lt;br /&gt;    4 buah cabai rawit merah&lt;br /&gt;    1 sendok teh terasi&lt;br /&gt;    2 cm kunyit&lt;br /&gt;    sendok makan ketumbar&lt;br /&gt;    2 cm jahe, parut&lt;br /&gt;    2 cm lengkuas, parut&lt;br /&gt;    Garam dan gula merah secukupnya&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Cara membuat :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Setelah isi bagian dalam ayam dikeluarkan, lumuri ayam dengan air jeruk nipis dan garam, diamkan selama 10 menit, kemudian sisihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum, tambahkan dengan serai Iris. Aduk rata, angkat Bagi bumbu tumis menjadi dua, satu bagian campur dengan daun singkong dan daun jeruk, aduk rata. Sisanya lumurkan pada seluruh bagian luar ayam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Masukkan daun singkong yang telah dibumbui ke dalam rongga ayam, sematkan bagian bawahnya menggunakan lidi agar tidak tumpah. Bungkus ayam dengan daun pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Panaskan panci pengukus, kukus ayam Selama 20 menit, angkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Panggang ayam yang telah dikukus hingga matang, angkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sajikan ayam dengan cara dibelah dengan isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Porsi untuk 8 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana, udah kebayangkan betapa nikmatnya? Tuh kan ngilerr…&lt;br /&gt;Udah gak usah banyak mikir, langsung buat! dijamin mak nyuss’&lt;br /&gt;Sekian dulu… tunggu resep andalan dari ai selanjutnya… wassalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-5458723012714975887?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/5458723012714975887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/5458723012714975887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/jadwal-imsakiyah-ramadhan-2011-pkpu.html' title='&quot;Mak Nyuss&quot; berbuka dengan ayam Betutu'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-WY_-JrneuRQ/TjKucjd8S0I/AAAAAAAABQ0/qmCWCqqnUSY/s72-c/buka%2Bpuasa.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-708253481585924070</id><published>2011-07-26T11:52:00.007+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.579+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Serunya ngabuburit di Bali</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-lyCOpsQ8hik/TjOxDnQgt6I/AAAAAAAABSc/wPXeTherLw4/s1600/001.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 233px; height: 157px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-lyCOpsQ8hik/TjOxDnQgt6I/AAAAAAAABSc/wPXeTherLw4/s400/001.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635042234406582178" /&gt;&lt;/a&gt;Ini adalah ramadhan ke-2 ai bersama keluarga di Bali… dua tahun sudah tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya…tak pernah terbayang bahwa ai akan hidup di pulau Dewata…tugas sebagai abdi negara yang akhirnya mengantarkan ai sekeluarga mesthi berjibaku hidup di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya hidup disini sama beratnya di Jakarta…semua serba mahal… yang membedakan di sini masih sedikit tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhaban ya ramadhan…bulan yang dinanti datang juga…bulan penuh ampunan…bulan penuh berkah dan bulan dimana amal akan dilipatgandakan pahalanya.&lt;br /&gt;Kali ini ai akan bercerita tentang serunya berpuasa di Bali…ramadhan di sini penuh tantangan…beda seperti di Jawa…kata orang, di Jawa banyak temannya…jadi, ibarat kerja, lebih ringan rasanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-SU6_LuOUgsE/TjOxDfsMhJI/AAAAAAAABSU/NUd1Xy2gApE/s1600/002.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 263px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-SU6_LuOUgsE/TjOxDfsMhJI/AAAAAAAABSU/NUd1Xy2gApE/s400/002.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635042232375215250" /&gt;&lt;/a&gt;Di Jawa beberapa hari menjelang ramadhan masyarakat pada ramai menggelar berbagai acara guna menyambut ramadhan disini adem ayem aja tuch…di Jawa hampir setiap waktu diseluruh penjuru wilayah terutama menjelang waktu buka atau shubuh terdengar lantunan ayat suci al qur’an, disini jarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang akan ai ceritakan  serunya ngabuburit di pulau dewata…seperti yang ai ceritakan diawal bahwa puasa di Bali penuh tantangan… namun justru itulah yang membuat beda…mau cari menu buat berbuka aja lumayan sulit apalagi buat sahur…beda kalau di Jawa…ibarat baru keluar pintu rumah saja penjual jajanan sudah berderet tinggal pilih&lt;br /&gt;Tapi tak usah khawatir, ai mau bagi-bagi info dimana tempat nongkrongnya tuch para penjual jajanan…bagi anda yang mungkin suatu saat kebetulan berpuasa dan sedang berkunjung ke Bali berikut beberapa tempat yang lumayan asyik buat cari menu makanan buat berbuka puasa.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-7igMU-4pT9w/TjOwcGp-xsI/AAAAAAAABSM/WxK2kRiQED0/s1600/index.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 279px; height: 181px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-7igMU-4pT9w/TjOwcGp-xsI/AAAAAAAABSM/WxK2kRiQED0/s400/index.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635041555640141506" /&gt;&lt;/a&gt;Pertama, lapangan RENON, disana banyak makanan siap santap yang dijajakan dipinggir jalan…dan perlu diketahui lapangan renon adalah jantungnya kota Denpasar, kalau dijawa biasa disebut alun-alun.&lt;br /&gt;Jadi di lapangan renon selalu ramai pengunjung…baik yang sedang berolah raga, berwisata atau sekedar cuci mata…dijamin jika kita ngabuburit disana lupa tuch sama rasa laparnya&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-tCnQzz3BrNs/TjOwcNxivaI/AAAAAAAABSE/m7H6yY8dZ2M/s1600/003.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 259px; height: 194px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-tCnQzz3BrNs/TjOwcNxivaI/AAAAAAAABSE/m7H6yY8dZ2M/s400/003.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635041557550906786" /&gt;&lt;/a&gt;Alternatif lainnya adalah sepanjang jalan Imam bonjol, Diponegoro dan Teuku umar…telusuri dech itu jalan pasti akan ditemukan penjual makanan kaget (dadakan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-nW03NxDQz3A/TjOwbxsv7VI/AAAAAAAABR8/9Q_CxUM_yh8/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 161px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-nW03NxDQz3A/TjOwbxsv7VI/AAAAAAAABR8/9Q_CxUM_yh8/s400/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635041550014606674" /&gt;&lt;/a&gt;Atau paling asyik disekitar pantai kuta… jadi sambil menunggu waktu berbuka kita bias menikmati indahnya pantai kuta plus cari kenalan para bule jika berani…jangan khawatir jika jam segitu tak ada kok yang serba telanjang &lt;br /&gt;Begitu waktu buka tiba…langsung cabut cari makan disekitar situ, terutama yang ke arah bandara…pastinya lengkap dan siap disantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu dulu kisah yang dapat ai ceritakan…maaf serba gelepotan, maklum tak ada bakat nulis…sebenarnya masih banyak pengalaman seru yang mau ai ceritakan, tapi apa mau dikata…mulut ini serasa terkunci…enaknya datang aja langsung kemari dan rasakan sensasi nya ramadhan di pulau Dewata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-708253481585924070?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/708253481585924070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/708253481585924070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/buat-apa-sih-puasa.html' title='Serunya ngabuburit di Bali'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-lyCOpsQ8hik/TjOxDnQgt6I/AAAAAAAABSc/wPXeTherLw4/s72-c/001.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-5032896345781733273</id><published>2011-07-26T11:49:00.007+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.579+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>6 tradisi unik saat ramadhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-qVMKFnERC70/TjMOqU4r5kI/AAAAAAAABR0/AOkbI-9QlfQ/s1600/main.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 248px; height: 256px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-qVMKFnERC70/TjMOqU4r5kI/AAAAAAAABR0/AOkbI-9QlfQ/s400/main.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634863679094384194" /&gt;&lt;/a&gt;Indonesia memang tiada duanya… terkenal akan keanekaragaman suku, bahasa dan budayanya… sesuai dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika… Indonesia juga terkenal dengan Negara yang memliki sumber daya alam yang melimpah serta mempunyai tanah yang subur… orang jawa bilang “Gemah ripah loh jinawi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lagunya Koes Plus bersyair:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Bukan lautan, hanya kolam susu&lt;br /&gt;Kail dan jala cukup menghidupimu&lt;br /&gt;Tiada hujan tiada badai kau temui&lt;br /&gt;Ikan dan menghampiri dirimu&lt;br /&gt;Orang bilang tanah kita, tanah surge&lt;br /&gt;Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Penggalan lagu di atas begitu kayanya laut kita, dan begitu suburnya bumi pertiwi ini. Jadi sudah menjadi sebuah keharusan dan kewajiban bagi kita untuk selalu mengucap syukur kehadirat Allah SWT atas segala karunia- Nya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan bulan ramadhan, Indonesia juga memiliki keragaman tradisi unik ditiap daerah. Kali ini saya akan berbagi cerita mengenai beberapa tradisi unik yang saya amati bahkan saya alami dan masih lestari hingga sekarang… khususnya di daerah asal saya, yaitu kota Ngawi Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum tradisi unik ramadhan dibagi kelompokan menjadi 3, yakni:&lt;br /&gt;- Menjelang ramadhan&lt;br /&gt;- Selama ramadhan&lt;br /&gt;- Akhir ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang ramadhan ada 2 (dua) tradisi unik, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-hq85V9rZBb8/TjMOWKtxINI/AAAAAAAABRk/X-ER0kT1K_s/s1600/nyadran1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 366px; height: 246px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-hq85V9rZBb8/TjMOWKtxINI/AAAAAAAABRk/X-ER0kT1K_s/s400/nyadran1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634863332766851282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nyadran (bersih desa)&lt;/span&gt;, yakni tradisi selamatan (syukuran) bersama satu kampong yang diadakan di masjid atau di rumah kepala kampong, bahkan ada yang di pemakaman. Tujuannya adalah berkirim doa kepada leluhur… kegiatan ini biasanya disertai dengan gotong royong bersih kampong, area makam dan nyekar (menabur bunga disertai kirim doa dimakam sanak family).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-DbffUmSQPTk/TjMMunukXcI/AAAAAAAABRc/F2bRp_ZCnUc/s1600/padusan2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 386px; height: 261px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-DbffUmSQPTk/TjMMunukXcI/AAAAAAAABRc/F2bRp_ZCnUc/s400/padusan2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634861553848442306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Padusan&lt;/span&gt;, tradisi ini pada hakikatnya sebagai symbol kesiapan diri secara lahir bathin  dalam menyambut bulan suci… biasanya para warga ramai- ramai mandi di sungai, kolam pemandian,air terjun bahkan di pantai. Bagi yang tidak sempat atau tak ada biaya… cukup mandi di rumah… yang penting niat… entah siapa yang memulai atau darimana asalnya yang jelas tradisi ini hamper berlaku di seluruh nusantara… dan yang pasti menjadi daya tarik tersendiri dan menguntungkan sector pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ramadhan ada 2 (dua) tradisi unik, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-RfrLqOFI-yQ/TjMMudZATaI/AAAAAAAABRM/q0NZJkz8Xgk/s1600/tajil.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 375px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-RfrLqOFI-yQ/TjMMudZATaI/AAAAAAAABRM/q0NZJkz8Xgk/s400/tajil.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634861551073643938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tajil&lt;/span&gt;, mungkin semua daerah pasti mengenal tradisi ini… tapi yang bikin unik dan cenderung lucu… tradisi ini di daerah saya menjadi alat pemikat bagi anak- anak untuk giat tadarusan. Bahkan bias menjadi salah satu tolak ukur kelas sosial seseorang dimasyarakat&lt;br /&gt;Biasanya tajil diatur berdasar jumlah KK dibagi jumlah hari puasa… jadi tiap KK pasti dapat giliran…nah yang bikin lucu… anak-anak ternyata sudah pada hafal besok itu giliran siapa yang kirim tajil… jadi mereka sudah bias menebak apa menunya…jika menunya tak menarik biasanya mereka malas ke masjid tadarusan…lucu kan? Maklum anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-N1SYrzC38vk/TjMMuhW8LZI/AAAAAAAABRU/Hf5Yyi1CtfM/s1600/saur.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-N1SYrzC38vk/TjMMuhW8LZI/AAAAAAAABRU/Hf5Yyi1CtfM/s400/saur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634861552138726802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Grebeg sahur&lt;/span&gt;, yang satu ini juga tak kalah menarik…dari anak sampai dewasa…bermodal alat music seadanya…dengan rutin dan penuh semangat…mereka tak kenal lelah keliling kampong… saur…saur…saur… begitu teriak mereka tanpa henti sepanjang jalan…diiringi suara music yang kadang tak karuan…dan akhirnya menyadarkan para warga untuk makan saur dan berniat siam (puasa)…pokoknya seru’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir ramadhan ada 2 (dua) tradisi unik, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Weweh (saling berkirim makanan)&lt;/span&gt;, tradisi ini masih berjalan sampai sekarang…biasanya sehari atau dua hari menjelang idul fitri…para warga memasak makanan enak dan banyak untuk dikirim kepada mereka yang dianggap lebih tua…orang terpandang/ atasan…tradisi ini menggambarkan rasa hormat yang muda kepada para sesepuh… menariknya, biasanya yang disuruh kirim makanan adalah anak-anak…karena dengan mengirim makanan…mereka akan mendapat uang saku dari yang dikirimi…lumayan lho…saya sendiri pernah alami…cukuplah buat beli sepatu atau tas baru…bahkan sepada baru…jika ingat masa itu jadi malu…hehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-j2oV_tCkyrQ/TjMMuNR5moI/AAAAAAAABRE/JoFaDRzACDE/s1600/MUDIK%2BJTG07OKT.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 312px; height: 289px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-j2oV_tCkyrQ/TjMMuNR5moI/AAAAAAAABRE/JoFaDRzACDE/s400/MUDIK%2BJTG07OKT.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634861546748877442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mudik&lt;/span&gt;, tradisi yang satu ini kita semua pasti dah tahu, bahkan mengalami… yang membuat unik adalah tradisi ini luar biasa karena mampu memobilisasi orang-orang dalam jumlah yang tiada terkira…dan lebih uniknya lagi jika kita mau cermat mengamati tingkah laku pemudik selama perjalanan dan cara mereka mudik…aneh-aneh dan lucu…bahkan terkadang mengerikan jika ditinjau dari segi keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi berlebaran dikampung halaman…dan sungkem kepada orang tua…apapun mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="arial" color="black" size="4"&gt;&lt;marquee direction="right" behavior="alternate" direction="right" scrollamount="2" height="40px" scrolldelay="10" bgcolor="orange" width="100%"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI &lt;&lt;&gt;&gt; MOHON MAAF LAHIR BATHIN&lt;/span&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah beberapa tradisi unik yang saya pernah temui dan alami, semoga dapat menambah khasanah pengetahuan kita. Amin&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-5032896345781733273?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/5032896345781733273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/5032896345781733273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/asyiknya-ramadhan-di-pulau-dewata.html' title='6 tradisi unik saat ramadhan'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-qVMKFnERC70/TjMOqU4r5kI/AAAAAAAABR0/AOkbI-9QlfQ/s72-c/main.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-3664210521726852132</id><published>2011-07-26T11:48:00.007+08:00</published><updated>2011-08-19T16:11:47.579+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Berpuasalah pada waktunya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-0FBYeHNzmZQ/Ti7iV3tM1NI/AAAAAAAABJk/q-TbFJozWOs/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 158px; height: 104px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-0FBYeHNzmZQ/Ti7iV3tM1NI/AAAAAAAABJk/q-TbFJozWOs/s400/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633689049245734098" /&gt;&lt;/a&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah ada salah seorang di antara kalian yang melakukan puasa sehari atau dua hari menjelang Ramadhan kecuali bagi orang yang memiliki kebiasaan puasa (sunnah) maka boleh baginya untuk puasa pada hari itu.” (HR. Bukhari [1914] dan Muslim [1082] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ini lafazh Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;an-Nawawi menjelaskan bahwa di dalam hadits ini terdapat penegasan hukum terlarangnya mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya bagi orang yang tidak berbenturan hari itu dengan kebiasaannya untuk berpuasa (sunnah) atau dia tidak menyambungnya dengan hari-hari sebelumnya. Maka apabila dia berpuasa tanpa disambung dengan hari sebelumnya atau bukan menjadi kebiasaannya maka hukumnya haram puasa pada hari itu. Inilah pendapat yang benar dalam pandangan beliau berdasarkan hadits ini, dan juga berdasarkan hadits lain yang diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud dan yang lainnya,&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا اِنْتَصَفَ شَعْبَان فَلَا صِيَام حَتَّى يَكُون رَمَضَان&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila bulan Sya’ban sudah mencapai pertengahan maka tidak ada puasa sampai datang bulan Ramadhan.” …” (HR. Abu Dawud [1990] dengan lafazh ‘janganlah berpuasa’, al-Minhaj, 4/418-419).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang disebutkan oleh an-Nawawi di atas bersumber dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan diriwayatkan oleh As-habu as-Sunan dan disahihkan oleh Ibnu Hiban dan yang lainnya (Fath al-Bari, 4/152). Hadits tersebut juga disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Takhrij Misykat al-Mashabih [1974] dengan lafazh ‘janganlah berpuasa’, Shahih wa Dha’if Sunan Abi Dawud [2337] dan Shahih al-Jami’ [397].&lt;br /&gt;Namun, Imam Ahmad mengatakan tentang derajat hadits ini sebagaimana yang dinukil oleh Abu Dawud, “Ini adalah hadits yang mungkar. Abdurrahman bin Mahdi tidak menuturkan hadits melalui dia (anaknya, yaitu Al-’Alla’, pen)” (Disebutkan oleh al-Baihaqi dalam Ma’rifat as-Sunan wa al-Atsar [2589]).&lt;br /&gt;Oleh sebab itu Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa hadits tentang larangan berpuasa setelah pertengahan bulan Sya’ban adalah lemah. Beliau menyandarkan pendapatnya itu kepada Imam Ahmad yang melemahkan hadits ini. Kalaupun haditsnya sahih, maka larangan itu hanya sebatas makruh saja sebagaimana yang dianut oleh sebagian ulama, kecuali bagi orang yang sudah terbiasa mengerjakan puasa (sunnah) maka dia boleh berpuasa meskipun sudah melewati pertengahan Sya’ban, wallahu a’lam (lihat Syarh Riyadhush Shalihin, 3/394).&lt;br /&gt;Apabila ada orang yang sudah terbiasa mengerjakan puasa sunnah pada akhir bulan maka tidak mengapa dia mengerjakan puasa itu di akhir bulan Sya’ban. Kalaupun dia sengaja meninggalkan kebiasaannya -karena khawatir terkena larangan berpuasa sehari atau dua hari menjelang Ramadhan- maka hendaknya dia menggantinya sesudah bulan Ramadhan berakhir. Kompromi hadits seperti ini dikemukakan oleh Ibnu al-Munayyir dan al-Qurthubi, sebagaimana dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar (Fath al-Bari, 4/269-270). Kompromi serupa juga disampaikan oleh an-Nawawi dari al-Mazari (al-Minhaj, 4/502).&lt;br /&gt;Hal itu berdasarkan hadits sahabat Imran bin Hushain radhiyallahu’anhuma berikut ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِرَجُلٍ هَلْ صُمْتَ مِنْ سُرَرِ هَذَا الشَّهْرِ شَيْئًا يَعْنِي شَعْبَانَ قَالَ لَا قَالَ فَقَالَ لَهُ إِذَا أَفْطَرْتَ رَمَضَانَ فَصُمْ يَوْمًا أَوْ يَوْمَيْنِ شُعْبَةُ الَّذِي شَكَّ فِيهِ قَالَ وَأَظُنُّهُ قَالَ يَوْمَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada seorang lelaki, “Apakah kamu berpuasa pada akhir-akhir bulan ini?” Yaitu bulan Sya’ban. Maka dia menjawab, “Tidak.” Maka Nabi berkata kepadanya, “Apabila kamu sudah selesai mengerjakan puasa Ramadhan nanti berpuasalah sehari atau dua hari.” Keragu-raguan itu berasal dari ucapan Syu’bah. Namun dia mengatakan, “Aku kira beliau mengatakan dua hari.” (HR. Bukhari [1983] dan Muslim [1161] ini adalah lafazh Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu Bukhari menyebutkan hadits di atas di bawah bab yang beliau beri judul ‘ash-Shaum min aakhiri syahr’ (Berpuasa di akhir bulan). az-Zain bin al-Munayyir mengatakan : Bukhari menyebutkan kata ‘bulan’ tanpa menyertakan namanya. Meskipun yang terdapat dalam riwayat menunjukkan bahwa bulan yang dimaksud dalam hadits adalah bulan tertentu yaitu Sya’ban. Ini merupakan isyarat darinya bahwa puasa tersebut tidak khusus berlaku di bulan Sya’ban saja. Bahkan, dari hadits ini bisa dipetik pelajaran yaitu disunnahkannya mengerjakan puasa di setiap akhir-akhir bulan agar hal itu menjadi kebiasaan bagi seorang mukallaf (orang yang dibebani syari’at). Sehingga tidaklah terdapat pertentangan antara kandungan hadits ini dengan larangan mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, sebab dalam hadits itu Nabi bersabda, “Kecuali bagi orang yang sudah biasa puasa (sunnah) maka silakan dia berpuasa.” (sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, 4/268).&lt;br /&gt;Memperbanyak Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban&lt;br /&gt;Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sampai-sampai kami mengira beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah tidak berpuasa sampai-sampai kami kami mengira beliau tidak akan berpuasa. Tidaklah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa dalam waktu sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa -di luar bulan Ramadhan- melainkan ketika bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari [1969, 1970, dan 6465] dan Muslim [1156]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;al-Hafizh Ibnu Hajar menerangkan bahwa maksudnya dahulu Nabi biasa berpuasa (sunnah) di bulan Sya’ban maupun bulan yang lainnya, namun puasa sunnah yang beliau lakukan di bulan Sya’ban lebih banyak daripada di luar bulan itu (Fath al-Bari, 4/249). Beliau juga mengatakan bahwa di dalam hadits tersebut terdapat dalil tentang keutamaan berpuasa di bulan Sya’ban (Fath al-Bari, 4/250).&lt;br /&gt;Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits sebelumnya yang menyebutkan larangan mendahului puasa Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari. Keduanya dapat dikompromikan, yakni larangan itu ditujukan kepada orang yang tidak biasa melakukan puasa (sunnah) pada hari-hari tersebut (Fath al-Bari, 4/250). Para ulama mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan agar hal itu (puasa sunnah di setiap bulan) tidak dikira sebagai sebuah kewajiban (al-Minhaj, 4/489).&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, ketika ditanya tentang puasa di bulan Sya’ban Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab bahwa hal itu adalah sunnah, dan memperbanyak puasa di bulan itu sangat dianjurkan. Bahkan para ulama mengatakan bahwa perumpamaan puasa Sya’ban itu seperti halnya shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan shalat-shalat wajib (Fatawa Arkan al-Islam, hal. 491).&lt;br /&gt;Berpuasa Bersama Pemerintah&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصوم يوم تصومون، و الفطر يوم تفطرون، و الأضحى يوم تضحون&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Puasa adalah hari ketika kalian berpuasa bersama. Hari raya idul fitri juga di hari ketika kalian berhari raya bersama. Kurban juga di hari ketika kalian berkurban bersama.” (HR. Tirmidzi [693] dan Ibnu Majah [1660] dinyatakan sanadnya jayyid oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah [hadits ke-224], Sahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi [697], dan Shahih al-Jami’ [3869] dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).&lt;br /&gt;at-Tirmidzi mengatakan setelah membawakan hadits di atas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفسر بعض أهل العلم هذا الحديث فقال: إنما معنى هذا، الصوم والفطر مع الجماعة وعظم الناس&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagian ulama menafsirkan hadits ini dengan mengatakan : sesungguhnya makna dari ungkapan tersebut adalah berpuasa dan berhari raya (hendaknya) bersama dengan masyarakat (jama’ah) dan kebanyakan orang.” (Sunan At-Tirmidzi, Bab ma jaa’a annal fithra yauma tufthiruun wal adh-ha yauma tudhahhuun).&lt;br /&gt;Abul Hasan as-Sindi mengatakan setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Tirmidzi di atas, “Yang tampak ialah bahwa maksudnya perkara-perkara ini bukan wewenang setiap orang. Mereka tidak boleh menyendiri dalam melakukannya (hari raya, puasa, dan kurban, pen). Akan tetapi urusan itu harus dikembalikan kepada imam (pemimpin/pemerintah) dan jama’ah (masyarakat Islam di sekitarnya). Sehingga wajib bagi setiap individu untuk mengikuti ketetapan pemerintah dan masyarakat. Berdasarkan hal ini, apabila ada seorang saksi yang melihat hilal dan pemerintah menolak persaksiannya maka dia tidak boleh menetapkan perkara-perkara tersebut untuk dirinya sendiri. Dia wajib untuk mengikuti masyarakat dalam melaksanakan itu semua.” (Hasyiyah as-Sindi ‘ala Ibni Majah, hadits 1650. asy-Syamilah).&lt;br /&gt;Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan, “Apabila pemerintah sudah mengumumkan melalui radio atau media yang lainnya mengenai ditetapkannya (masuknya) bulan (hijriyah) maka wajib beramal dengannya untuk menetapkan waktu masuknya bulan dan keluarnya, baik ketika Ramadhan atau bulan yang lain. Karena pengumuman dari pemerintah adalah hujjah syar’iyyah yang harus diamalkan. Oleh sebab itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu memerintahkan Bilal untuk mengumumkan kepada masyarakat penetapan (awal) bulan agar mereka semua berpuasa karena ketika itu masuknya bulan telah terbukti di sisi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau menjadikan pengumuman itu sebagai ketetapan yang harus mereka ikuti untuk melakukan puasa.” (Majalis Syahri Ramadhan, hal. 16).&lt;br /&gt;Kisah yang disebutkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin terdapat di dalam Sunan at-Tirmidzi dengan lafazh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن ابن عباس قال: “جاء أعرابي إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: إني رأيت الهلال، فقال: أتشهد أن لا إله إلا الله؟ أتشهد أن محمدا رسول الله؟ قال: نعم، قال: يا بلال أذن في الناس أن يصوموا غدا”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas, dia berkata : Seorang arab Badui datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengatakan, “Saya telah melihat hilal.” Nabi pun mengatakan, “Apakah kamu bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang haq) selain Allah? Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?”. Dia menjawab, “Iya”. Nabi lantas berkata, “Hai Bilal, umumkanlah kepada orang-orang agar mereka berpuasa besok.” (HR. Abu Dawud [1993], Tirmidzi [627], Al-Hakim dalam Mustadrak [1491] dan lain-lain). Namun hadits ini lemah sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi [691], Dha’if Sunan Ibnu Majah [364], al-Irwa’ [907], Dha’if Sunan an-Nasa’i [121/2112], Dha’if Sunan Abu Dawud [507/2340, 508/2341]. asy-Syamilah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, terdapat hadits lain yang sahih serta menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal yang serupa (yaitu menerima persaksian satu orang saksi dalam menetapkan masuknya bulan puasa dan mengumumkan kepada umat bahwa hari berikutnya puasa). Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma mengatakan,&lt;br /&gt;تراءى الناس الهلال فأخبرت النبي صلى الله عليه وسلم أني رأيته فصام وأمر الناس بصيامه&lt;br /&gt;“Orang-orang berusaha untuk melihat hilal, aku pun memberitahukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku telah melihatnya. Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk mengerjakan puasa pada hari itu.” (HR. Abu Dawud [2342] dan lain-lain. al-Hakim menyatakan hadits ini sahih sesuai dengan kriteria Muslim, hal itu juga disepakati oleh adz-Dzahabi. Disahihkan al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil, 4/16. Hadits 908).&lt;br /&gt;Kapan mulai puasa?&lt;br /&gt;Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila kalian telah melihatnya (hilal Ramadhan) maka puasalah. Dan apabila kalian telah melihatnya (hilal Syawal) maka berhari rayalah. Kalau langit tertutup (mendung atau yang lain) maka genapkanlah bilangannya.” (HR. Bukhari [1900] dan Muslim [1080]).&lt;br /&gt;Beliau juga menegaskan di dalam hadits lain,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal. Dan janganlah kalian berhari raya hingga kalian melihatnya. Kalau langit tertutup dari pandangan kalian maka genapkanlah.” (HR. Bukhari [1906] dan Muslim [1080] dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma).&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan ‘genapkanlah’ adalah sebagaimana disebutkan di dalam riwayat Muslim dan yang lainnya yaitu maknanya genapkanlah bilangan (bulan Sya’ban) menjadi tiga puluh hari (Fath al-Bari, 4/141-142).&lt;br /&gt;Hal ini juga dipertegas oleh Nabi dalam hadits Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berpuasalah karena melihatnya, dan berhari rayalah karenanya. Dan kalau ia tersamar dari pandanganmu maka genapkanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari [1909]).&lt;br /&gt;Oleh sebab itu an-Nawawi menegaskan bahwa makna ‘genapkanlah’ di dalam hadits tersebut adalah menggenapkan bilangan bulan menjadi tiga puluh hari. itulah pendapat Imam Malik, Syafi’i, Abu Hanifah dan mayoritas ulama Salaf (terdahulu) dan Khalaf (belakangan). Bahkan mereka mengatakan, “Tidak boleh menafsirkannya dengan perhitungan para ahli perbintangan. Sebab kalau segenap umat manusia dibebani untuk melaksanakannya niscaya akan menyempitkan mereka, karena tidak ada yang memahaminya kecuali segelintir orang saja. Padahal ajaran syari’at hanya diterangkan dengan hal-hal yang bisa dipahami oleh kebanyakan di antara mereka.” (al-Minhaj, 4/415).&lt;br /&gt;Dengan demikian ada 2 cara yang bisa ditempuh untuk menetapkan masuknya bulan Ramadhan :&lt;br /&gt;1. Dengan melihat hilal. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam ayat (yang artinya), “Maka barangsiapa di antara kalian yang melihatnya hendaklah dia berpuasa.” (QS. al-Baqarah [2] : 185). Syarat diteimanya persaksian melihat hilal adalah : saksi tersebut sudah baligh, berakal, muslim, terpercaya beritanya berdasarkan sifat amanahnya dan keahlian yang dia miliki, adapun anak kecil maka kesaksiannya belum bisa diterima&lt;br /&gt;2. Dengan menggenapkan jumlah bilangan hari di bulan sebelumnya (Sya’ban) menjadi tiga puluh hari, karena bulan Qamariyah tidak akan lebih dari 30 hari dan tidak mungkin kurang dari 29 hari (lihat Majalis Syahri Ramadhan, hal. 15-17).&lt;br /&gt;Yang dimaksud ‘jangan berpuasa kecuali setelah melihatnya’ bukan berarti semua orang harus melihat hilal, namun yang dimaksud adalah ada sebagian di antara mereka yang telah melihatnya, minimal 1 orang menurut jumhur dan minimal 2 orang menurut pendapat ulama yang lain. an-Nawawi menyatakan bahwa pendapat yang benar satu orang saksi sudah cukup untuk menetapkan masuknya bulan Ramadhan (Fath al-Bari, 4/144, lihat juga Al-Minhaj, 4/416).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;eocommunity&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-3664210521726852132?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/3664210521726852132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/3664210521726852132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/mak-nyuss-menu-buka-puasa-ala-bali.html' title='Berpuasalah pada waktunya'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-0FBYeHNzmZQ/Ti7iV3tM1NI/AAAAAAAABJk/q-TbFJozWOs/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6491390021880629349.post-4359153323732836551</id><published>2011-07-25T23:09:00.009+08:00</published><updated>2011-08-19T16:12:15.175+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel berkah'/><title type='text'>Berbenah diri menyambut bulan suci</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-o4wp30m2EhY/Ti7d-j2n1hI/AAAAAAAABJc/-mmITPbN6_Q/s1600/index.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 256px; height: 171px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-o4wp30m2EhY/Ti7d-j2n1hI/AAAAAAAABJc/-mmITPbN6_Q/s400/index.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633684250733041170" /&gt;&lt;/a&gt;Tanpa terasa bulan sekarang (dalam kalender Hijirah) sudah memasuki bulan Sya’ban, itu pertanda bahwa bulan depan kita akan memasuki bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, bulan penuh pahala dan bulan penuh kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tamu agung, Ramadhan adalah ‘tamu’ yang selalu dinanti kedatangannya, bahkan dalam sebuah hadits disebutkan jika sesorang mengetahui keutamaan yang ada dalam Ramadhan, tentu ia akan mengharap setiap hari adalah Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu, menyambut bulan turunnya Al-Quran ini perlu melakukan persiapan agar pelaksanaan  puasa berlangsung khidmat dan penuh hikmah. Layaknya orang yang akan melangsungkan perjalanan ke suatu tempat, perlu menyiapkan bekal, seperti itu pula saat hendak melaksanakan perjalanan ke ‘negeri’ Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pun keadaan kita, apakah kita siap atau tidak siap, maka bulan Ramadhan pastilah akan datang, dan tentu beruntunglah orang yang sudah mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadhan, karena dengan persiapan tentu saja hasilnya akan lebih baik. Berbicara tentang persiapan, apa yang mesti kita persiapkan untuk menyambut Ramadhan. Berikut beberapa persiapan yang harus kita persiapkan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Persiapan Ruhiyah (Keimanan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw, mengajarkan kepada kita tentang sebuah do’a menjelang Ramadhan, yaitu: (ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan usia kami di bulan Ramadhan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan secara keimanan berupa pengendalian diri sejak sekarang untuk tidak melakukan maksiat, seperti menjaga pandangan dan lain-lain. Semoga dengan kebiasaan untuk menahan diri pada bulan Sya’ban, akan memudahkan kita menahan diri di bulan Ramadhan sehingga ibadah shaumnya jadi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal apapun, akhlak menjadi urgen diperhatikan sebab keajegan beribadah yang bertumpu pada fiqih an sich membuat kering dari nilai-nilai kesejatian dan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlak dalam Ramadhan yang harus diperhatikan sejak dini adalah menjaga mata, telinga, kemaluan, lidah, dan anggota tubuh lainnya sehingga jangan sampai kita hanya puasa perut, puasa yang sekadar menahan makan dan minum, tapi kehilangan keutamaan-keutamaan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membersihkan hati dan alam pikiran dari cabang-cabang penyakit hati, baik iri hari, dengki, dendam, sombong, suka pamer, gila pujian, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia sendiri, kebiasaan yang berkembang selama ini ialah berziarah ke makam leluhur, anjang sana ke sanak-saudara atau handai tolan dengan harapan saat masuk Ramadhan hati sudah dalam keadaan bersih dan siap secara total beribadah kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;2. Persiapan Jasadiyah (Jasmani)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan adalah bulan ketika kita melakukan kebaikan maka kita akan mendapatkan pahala yang berlipat, ibadah sunnah akan mendapatkan pahala wajib dan pahala ibadah wajib berlipat-lipat, sangat disayangkan ketika tiba bulan Ramadhan dan kita dalam kondisi sakit, maka kita tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pahala yang berlipat. Persiapan fisik bisa dilakukan dengan cara berolah raga secara rutin serta sudah membiasakan diri dengan shaum sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyiapkan jasmani yang prima akan melahirkan etos ibadah yang baik. Betul, bahwa kesehatan bukan segalanya tetapi dengan kesehatan kita bisa melakukan semua hal. Disebutkan dalam hadits, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari mukmin yang lemah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekuat apapun komitmen ibadah yang hendak kita tunaikan, kala kesehatan tidak dalam kondisi fit, semua itu hanya menjadi mimpi-mimpi belaka yang tak kunjung terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;3. Persiapan Tsaqafiyah (Keilmuan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw, bersabda:”Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama/contoh) kami, maka ibadah tersebut tertolak” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami tata cara ibadah yang benar, membawa kita meraih pahala, karena apabila suatu aktifitas ibadah tidak ditunjang dengan pengetahuan yang baik, maka ibadahnya akan tertolak atau tidak mendapatkan pahala sama sekali. Persiapan ilmu ini bisa didapat dengan cara membaca atau menghadiri majelis taklim yang membahas tentang Ramadhan/Shaum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan yang harus dilakukan adalah menyiapkan pengetahuan seputar syarat sah, sunnah-sunnah, dan hal-hal yang bisa membatalkan puasa. Ilmu menjadi penting sebagai syarat pertama, sebab seseorang diharapkan telah mengetahui jauh sebelum berucap dan beramal, termasuk dalam soal berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani menyebut empat penyebab lenyapnya satu demi satu ajaran agama, salah satunya karena, “Innakum Ta`maluuna bimaa laa ta`lamuun [Kalian mengamalkan sesuatu tanpa ilmu].” &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;4. Persiapan Maaliyah (harta)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Persiapan harta yang dimaksud bukanlah persiapan harta untuk buka puasa, tetapi adalah untuk sedekah, karena sedekah di bulan Ramadhan akan mendapat ganjaran yang berlipat-lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa sejati adalah berpuasa secara kolektif, puasa yang menggabungkan antara puasa perut, anggota tubuh, dan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;obatherbalalami+ majelisvirtual&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6491390021880629349-4359153323732836551?l=portalramadhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/4359153323732836551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6491390021880629349/posts/default/4359153323732836551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalramadhan.blogspot.com/2011/07/i-fun-1432-h.html' title='Berbenah diri menyambut bulan suci'/><author><name>areps</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-o4wp30m2EhY/Ti7d-j2n1hI/AAAAAAAABJc/-mmITPbN6_Q/s72-c/index.jpg' height='72' width='72'/></entry></feed>
